web analytics

Air Dalam Al-Qur’an; Jembatan Antara Sains Dan Kalamullah

Air Dalam Al-Qur’an; Jembatan Antara Sains Dan Kalamullah
0 0
Read Time:5 Minute, 3 Second

Pendahuluan
Seperti yang kita ketahui bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci ummat islam yang menyimpan beribu rahasia didalamnya, Al-Qur’an bagaikan samudera makna terdalam yang tidak akan bisa habis dikaji oleh manusia, Al-Qur’an juga merupakan kitab yang selalu relevan dengan zaman yang didalamnya memuat argumentasi rasional dari tuhan.

Pada zaman modern ini ilmu sains datang dengan membawa banyak sekali hal-hal baru yang saintik dan rasional yang membuat manusia di zaman ini lebih condong kepada informasi saintik yang muncul dari penelitian-penelitian, padahal apa yang ditemukan oleh sains modern sebenarnya telah terlebih dahulu dijelaskan dalam Al-Qur’an sejak 14 abad yang lalu.

Pembahasan
Air merupakan sumber kehidupan yang ada di muka bumi ini, sedangkan bumi sendiri merupakan tempat tinggal makhluk hidup dari manusia, hewan dan tumbuhan tanpa adanya air makhluk hidup bisa binasa, Air menutupi 71 % permukaan bumi, air tersedia sebanyak 1,4 triliyun kilometer kubik (330 juta mil3 ). Dalam tubuh manusia pun berisi 70% air tanpa air manusia tidak akan bisa hidup.

Dalam Al-Qur’an kata Ma’ atau Air disebutkan sebanyak 63 kali beserta derivasinya, dan salah satu ayat yang menjadi bukti bahwasanya air merupakan sumber kehidupan di bumi ini adalah: QS. Az-Zumar ayat 21

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَسَلَكَهُۥ يَنَٰبِيعَ فِى ٱلْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِۦ زَرْعًا مُّخْتَلِفًا أَلْوَٰنُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهُۥ حُطَٰمًا ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

Artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.

Al-Qur’an juga menjelaskan terkait bagaimana proses penciptaan air di muka bumi ini:

وَهُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا ۢ بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهٖۚ وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً طَهُوْرًاۙ ۝٤٨

Artinya: Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan). Kami turunkan dari langit air yang sangat suci.

لِّنُحْۦِىَ بِهِۦ بَلْدَةً مَّيْتًا وَنُسْقِيَهُۥ مِمَّا خَلَقْنَآ أَنْعَٰمًا وَأَنَاسِىَّ كَثِيرًا

Artinya: Agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak

Menurut Tafsir ibu katsir ayat Al-Qur’an diatas menjelaskan bahwa allah mengarak awan dengan kekuasaaannya yang pada awal penciptaannya aan dalam keadaan lemah “kemudian mengumpulkan diantaranya” artinya menyatukan antara awan-awan lalu menjadikannya bertumpuk tumpuk sehingga terlihat oleh manusia hujan keluar dari celah celahnya Firman bahwasannya Allah menurunkan es dari langit, dari gumpalan seperti gunung. Dalam penggalan ini, kata “gunung” merupakan perumpamaan untuk awan. Firman Allah: “Lalu ditimpakannya es itu kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan dipalingkannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki” artinya hujan bisa merupakan rahmat dan azab dari Allah untuk manusia.. (Ar-Rifa’i, 2000)

Keterkaitan antara Al-Qur’an dan sains tentang air dapat kita lihat dari Qs. Al-Mu’minun ayat 18
وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۢ بِقَدَرٍ فَاَسْكَنّٰهُ فِى الْاَرْضِۖ وَاِنَّا عَلٰى ذَهَابٍ ۢ بِهٖ لَقٰدِرُوْنَۚ ۝١٨
Artinya: Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran. Lalu, Kami jadikan air itu menetap di bumi dan sesungguhnya Kami Mahakuasa melenyapkannya.

Ungkapan biqadar menunjukkan makna keseimbangan. Dengan begitu air yang diciptakan Allah menurut (ukuran) yang diperlukan berfungsi memenuhi kebutuhan seluruh makhluk hidup dan juga menjaga keseimbangan suhu di bumi ini. Tanpa adanya air, bumi akan terlalu panas untuk dihuni neraca energi radiasi panas tahunan yang dipancarkan dari dalam bumi memang tidak banyak, hanya 0,09 watt/m. Tetapi aliran radiasi panas harian rata-rata yang diterima dari penyinaran matahari sebesar 342 watt/m.

Sebagai gambaran, untuk menguapkan air setebal 3 mm per hari dari setiap m permukaan bumi diperlukan energi sebanyak 90 watt. Agar proses daur air bisa berlangsung, radiasi panas ini harus sampai ke permukaan bumi. Tetapi kenyataanya, rata-rata hanya sekitar 240 watt saja yang bisa sampai, sisanya yang sekitar 102 watt dipantulkan lagi oleh udara di atmosfer ke ruang angkasa. (Lajnah Pentashihan Mushaf, 2011).

Terbukti bahwa kitab suci ummat islam yakni Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa air merupakan sumber kehidupan, tidak hanya disitu Al-Qur’an juga menjelaskan terkait proses penciptaan air, proses turunnya hujan bahkan air sebagai sumber terciptanya kehidupan di muka bumi. Seharusnya di zaman modern ini, ummat islam khususnya tidak mengkotak kotakkan antara agama dan penelitian sains, dikarenakan Al-Qur’an sudah menjelaskan terlebih dahulu tidak seharusnya kita menutup mata terkait hal itu, agama dan sains memnag harus beterkaitan satu sama lainnya, tentunya berangkat dari Al-Qur’an menuju ke penilitian sains.

Daftar Pustaka

Ar-Rifa’i, M. N. (2000). Kemudahan Dari Allha Ringkasan Tfasir Ibnu Katsir. Jakarta: Gema Insani Press.
Lajnah Pentashihan Mushaf, A.-Q. (2011). Air Dalam Prespektif Al-Qur’an dan Sains. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

Oleh; Abdullah Faqih (Alumni MA Al-Mahrusiyah tahun 2022, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga)

 

 

 

 

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like