web analytics

Al-Iqdam

Al-Iqdam
0 0
Read Time:3 Minute, 36 Second

Santri merupakan kaum pemberani. Selain hanya pada keilmuan yang dituju, mentalitas santri perlahan terbentuk demi lingkungan tempat tinggal dan juga beragamnya watak santri lainnya. Itu semua merupakan aspek pendukung dan nilai tambahan kaum sarungan. Karena nanti mereka akan kembali ke kampung halaman masing-masing dengan beban harap keluarga dan masyarakat, memilih ilmu saja tidak cukup. Bukankah ilmu itu harus diamanahkan?

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”

Bukankah, العِلْمُ بِلَا عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلَا ثَمَرٍ ? ilmu yang tidak diamalkan seperti pohon yang tidak berbuah. Sia-sia. Lalu, dengan itu semua sebagaimana cara santri mengamalkan ilmu pada masyarakat jika tidak memiliki mentalitas berani? Ini yang perlu diperhatikan. Santri harus memiliki keberanian.

Bahkan, adanya hari santri yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober itu terisnpirasi dari keberanian santri dalam resolusi jihad yang difatwakan KH. Hasyim Asy’ari. Jika para santri itu penakut, apa ada hari satri? Apa mungkin negara ini merdeka? Melawan penjajah adalah bentuk keberanian santri terdahulu. Karena memang musuh dan penghalang pergerakan adalah para penjajah.

Tantangan zaman kini sudah berbeda. Kemajuan zaman ini adalah bentuk tantangan itu sendiri. Bagaimana bisa, zamannya sudah maju, tapi manusianya masih dalam kemunduran? Keterbelakangan? Berani maju harus ditanamkan betul bagi manusia, terutama bagi santri selaku pemegang amanah pilar bangsa dan agama.

Syeikh Musthofa Al-Ghoilaini berkomentar dari karangannya, Kitab Idhotun Nasyiin

ان السلف الصالح لم يبلغ تلك العظمة الهائلة ولم يذلل تلك العقبات الصعبةالمرتقى ولم يصل الى ما يطاءطاء عندذكره كل راءس الاباالاءقدام واثارة الهمة وان الخلف لم يتاءخرعن هذه المرتبة ولم يقصر عن تلك الغايةالابعدان تقاعس عن العمل النافع واحجم عن الاءخذ بشتات الحزم

“Sesungguhnya orang-orang baik terdahulu, tidaklah dapat mencapai kejayaan yang luar biasa, tidak dapat menaklukkan rintangan-rintangan sulit dan tidak pula dapat mencapai tingkat yang membuat setiap orang menganguminya, kecuali dengan keberanian dan kobaran cita-cita yang mulia.

Sementara orang-orang yang hidup sekarang ini tampak tertinggal, tidak dapat mencapai derajat seperti orang-orang terdahulu dari tidak mampu meraih cita-cita itu disebabkan mereka tidak berani maju dan tidak berani melakukan usaha yang baik dan berguna serta enggan menghadapi tantangan demi tercapai keinginan.”

Padahal kitab itu beliau tulis di tahun 1913. Tapi, sudah sangat menggambarkan keadaan zaman ini. orang-orang terdahulu lebih maju dalam menggapai cita-cita dibanding dengan orang-orang sekarang. Apakah kita tidak tersinggug dengan keberhasilan orang-orang terdahulu meskipun belum dapat dukungan perkembangan zaman? Apa yang membedakan kita dengan para pendahulu? Sifat berani maju dalam mencapai cita-cita begitu kontras terlihat.

Sifat berani maju ini juga meliputi dalam ranah pendidikan. Santri jangan minder dalam menghadapi persaingan akademis dengan para jebolan luar pesantren. kita tetap saja mengaji, sekolah, dan apa-apa yang harus dilakukan dan dipikirkan. Seharusnya kita bisa lebih yakin dan percaya diri. Selain sekolah formal, kita juga mengenyam ilmu agama. Bersekolah-lah sampai tinggi! Santri sudah seharusnya keluar dari pepatah, ‘santri bisanya hanya ngaji kitab kuning!’ kita juga bisa seperti mereka. Tak sedikit pun para tokoh Indonesia yang merupakan jebolan kaum sarungan. Sebut saja KH. Abdurrahman Wahid, R.A. Kartini, Buya Hamka.

Betapa banyak para ulama yang mengharumkan Indonesia di kancah dunia melalui ilmu dan kesantriannya.

Santri harus melek zaman. Sudah saatnya santri mengisi setiap tempat dan profesi. Keguruan, militer, konten kreator, pertanian, maritime, hingga politik. Harusnya santri ada di setiapp lini itu. Tunjukkan pada mereka bahwa sukses itu hak semua orang. Hak bagi mereka yang bersungguh-sungguh.

ان في يدكم امر الاءمة وفي اقدمكم حياتها فاءقدموااقدام الاءسدالبا سل

“Sebenarnya, di tanganmulah urusan umat ini. Kehidupan mereka terletak pada keberanianmu. Oleh karena itu, majulah dengan penuh ‘semangat dan keberanian, seperti haraimau yang garang.” Ucap Syeikh Musthofa Al-Ghoilani di akhir bab Al-Iqdamnya.

 

 

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like