web analytics

Alasan Logis Santri Harus Boyong

Alasan Logis Santri Harus Boyong
Pict: Santri Senior
0 0
Read Time:3 Minute, 42 Second

10 tahun sudah Kang Bejo mengembara ilmu di pesantren. Madrasah Diniyah (Madin) sudah tamat, masa khidmah pun telah ia tunaikan baik ngajar di Madin, ngaji bandongan maupun ngajar di sekolah formal. Kebetulan ia juga memiliki kelas ektrakurikuler yang menjadi favorit di Pondoknya.

Bisa dikatan Kang Bejo sudah memiliki ‘nama’ di pesantren. serta dia benar-benar berada di Zona nyaman sebagai seorang santri dan pengajar.
Nah, sampai di posisinya itu, bukannya lanjut Menunaikan Khidmahnya, Kang Bejo malah mengutarakan keinginannya untuk boyong, kang Slamet yang mendengar desas desus niat Kang Bejo langsung menyangkalnya, seolah tidak mau ditinggal teman yang 10 tahun membersamainya.

“Kamu lho di pondok sudah bisa dikatakan sukses, muridmu pun juga banyak, kok malah ditinggal boyong,  belum lagi kelas ekstrakurikulermu itu, siapa nanti yang meneruskan” Seloroh Kang Slamet, teman seangkatannya.

Sebagai orang yang terdidik dipesantren dan kampus, Keputusan Kang Bejo tentu sudah ia analisis matang-matang,

“Nah Justru itu Met, keputusan boyongku adalah sebuah niat yang tepat, memang benar aku disini memiliki murid banyak, program-program ektrakurikulerku pun juga berjalan lancar, tapi aku merasa tidak puas met”. Tegas Kang Bejo dengan Yakin. “Tidak puas gimana tho kamu ini, apa malah kufur nikmat dengan pencapaianmu?” Ketus Slamet.

“Begini, aku dipondok memang terlihat sukses, muridku banyak, programku lancar, yang ngaji bandonganpun juga membludak. Namun yang membuatku resah adalah, itu semua ku lakukan di Pondok Met. Mengenai muridku yang banyak, semua adalah titipan yai yang diamanahkan kepadaku untuk kudidik, wali santri pun nitipkannya ke yai bukan ke aku. Lalu yang ngaji bandongan kepadaku berbondong-bondong hal itu lumrah, wong ngedep damparku dipesantren  memang sudah tempatnya. coba aku membuka bandongan di Rumah, belum tentu bisa sedemikian melimpah. Program ekstrakurikuler lancar pun juga lumrah, karena disini suport sistemnya sangat komplit, Orang-orangnya se-frekuensi semua, santrinya mudah di tata SDM dan Sumber Dananya juga tersedia, coba kalau mbuka dirumah, belum apa-apa paling ya sudah di Katain sama tetangga met”. Terang Bejo energik.

Slamet mengerutkan dahi, terkejut dengan pernyataan bedjo, “Benar juga ya jo, kamu sukses dipondok itu ibarat messi juara liga prancis bersama PSG, atau Lewandowski Top Skor Liga jerman ya jo, perkara yang lumrah”

“Nah itu paham kamu Met, disisi lain, aku tidak ingin menjadi ‘parasit’ di Pondokku dengan memanfaatkan kebesaran nama Pondok.”

“Maksudnya?” Sigap slamet.

“Inginku, Jangan sampai aku menjadi orang besar hanya karena ‘Gandulan’ nama besar pesantrenku, namun kalau bisa Pesantrenku namanya tambah besar karena besarnya nama kita di masyarakat kelak met” Tukas Bedjo.

Slamet masih terdiam, namun otaknya berputar cepat, nampaknta dia baru menemui alasan boyong model seperti ini.

Memang demikian, santri memiliki alasan boyongnya Masing-masing, ada faktor keluarga, usia, ekonomi, bahkan tuntutan menikah.

Nah wacana Kang Bedjo diatas juga ada benarnya. Karena sukses dipesantren, bisa apa-apa dipesantren itu masih fatamorgana belum tentu dirumah faktanya bisa sedemikian rupa. Karena medan dirumah berbeda dengan dipondok.

Belum lagi santri yang berangkat dari daerah yang syiar islamnya masih minim dan gulita biasanya orangtua, keluarga dan masyarakat berharap kepadanya untuk menerangi khazanah ilmu agama dilingkungan sekitarnya. Selain itu juga sudah menjadi kewajiban si santri tadi untuk menyebarkan ilmu yang telah ia petik di Pesantren. Senada dengan Dawuh Sayyidina Ali yang menafsiri ayat

قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”

Sayyidina Ali menganggap bahwa kita dietkankan untuk mengajari dirikita sendiri dan keluarga dalam hal kebaikan. Maksudnya adalah segala hal yang menyelamatkan manusia dari api neraka.

Sedangkan Ibnu Abbas menafsiri ayat diatas untuk memberi pemahaman, pelajaran dan mendidik adab kepada keluarganya.

Syekh Muqotil pun juga berpendapat,

حق المسلم أن يؤدب نفسه وأهله وعبيـده، فيعلمه الخير وينهاهم عن الشر “Kewajiban seorang muslim ialah menata adab dirinya, keluarganya, budaknya lalu juga mengajari hal kebaikan dan mencegahnya berbuat keburukan”.

Dari pertnyataan para mufasirin diatas, Habib Zein bin Ibrohim bin smith menyimpulkan bahwa

قلت : وفي ذلك دليل على تأكد وجوب تعليم الأهل والأولاد ونحوهم، فهو أهم وأقدم من تعليم غيرهم؛ فإن كل راع مسؤول عن رعيته

Artinya: dalam dalil demikian menegaskan mengenai wajibnya mengajari keluarga, anak-anak dan semacamnya adalah lebih penting dan lebih utama dari mengajari selainnya, karena setiap pemimpin akan ditanyai mengenai pertanggungjawabanya.

Melihat pendapat diatas, santri alangkah baiknya boyong, menebarkan benih-benih keilmuan yang dia peroleh dan menerangi masyarakat dengan khazanah islam yang dia peroleh di Pesantren. Namun dengan catatan, sebelum boyong santri harus menyelesaikan segala kewajibannya (termasuk membayar hutang 😊) dan tentu mendapat restu dari guru. Bila itu telah tunai, baru kemudian menebarkan ilmu. Demikian semoga bermanfaat. Wallohu A’lam.

About Post Author

Elnahrowi

Santri Pondok Al-Mahrusiyah yang suka Menulis dan Berjurnalis. Asal dari Sragen Jawa Tengah
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like