web analytics

Antara Pondok Pesantren Annuqayah, KH. Muhammad Syarqawi, dan Peraih 3 Besar Pesantren Berwawasan Lingkungan.

Antara Pondok Pesantren Annuqayah, KH. Muhammad Syarqawi, dan Peraih 3 Besar Pesantren Berwawasan Lingkungan.
0 0
Read Time:4 Minute, 43 Second

Pondok Pesantren Annuqayah merupakan salah satu pesantren legendaris di Indonesia. Beralamat di Dusun Guluk-Guluk tengah, Desa Guluk-Guluk, Kec. Guluk-Guluk, Kab. Sumenep, Jawa Timur ini berdiri sejak tahun 1887 oleh KH. Muhammad Syarqawi, ulama karismatik nan wirai’. Hingga, NU Online pun menyematkan 3 Pesantren Berwawasan Lingkungan di Indonesia, karena ekologinya dalam pengelolaan sampah.

Sejarah

Muhammad Syarqawi, putra dari Sudikromo dan Kamilah yang lahir di Kauman, salah satu kelurahan di Kota Kudus, Jawa Tengah. Sejarah perjuangan beliau dalam mendirikan Pondok Pesantren Annuqayah terbilang cukup panjang dan terjal. Dalam sejarahnya, beliau pernah beberapa kali singgah dalam perantauan menuntut ilmunya, mulai dari tanah Hijaz dan di Nusantara tentunya. Salah satu guru beliau yang amat berjasa, ialah As-Sayyid ‘Aham Ar-Rowasy, salah satu Mursyid Thariqah An-Naqsyabandiyah Al-Mujaddidiyah Al-Khalidiyah. Dan juga lainnya, guru beliau yang menjadi pelancar alur dakwahnya, ialah Syaikh Abuddin alias Kiai Gemma, seorang ulama sekaligus saudagar kaya dari Desa Prenduan, desa kecil di pesisir selatan, barat daya Kota Sumenep.

Sejarah berlanjut, dengan meninggalnya Sang Guru, Kiai Gemma. Selain mewarisi ilmu, beliau juga berwasiat untuk menikahkan istrinya dan menempati rumah yang telah disediakan di Desa Prenduan. Di sanalah, beliau bersama istrinya Nyai Khadijah mulai mengamalkan ilmunya dalam pengajaran terhadap warga sekitar sesuai aqidah Ahlussunnah Wal Jam’ah. Dikit demi sedikit, banyak orang tua yang menitipkan anaknya untuk belajar di sana. Bahkan, juga mulai ada yang nyantri dan mondok. Selain mengajar Al-Qur’an, beliau, Kiai Syarqawi juga mengajarkan pengajaran melalui kitab-kitab karangan ulama pada santri, juga masyarakat sekitar dalam majelis keilmuan yang beliau adakan. Hal ini semakin berkembang dengan makin banyaknya orang yang berdatangan untuk menimba ilmu pada beliau, hingga datangnya mereka dari luar desa bahkan luar kabupaten.

Namun, berjalannya waktu, Kiai Syarqawi memutuskan untuk hijrah ke suatu tempat yang beliau anggap lebih bersahabat untuk meneruskan perjuangan dalam membina umat yang berilmu. Setelah Kiai Syarqawi berkeliling-keliling mencari tempat yang cocok di sekitar Kabupaten Sumenep, akhirnya dipilihlah sebuah desa bernama Guluk-Guluk, 7 km ke arah utara dari Desa Prenduan. Mulai saat itulah, beliau merintis Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep.

Perkembangan

Pesantren yang memiliki prinsip keilmuan, “tidak ada dikotonomi ilmu menjadi ilmu umum dan ilmu agama, tetapi semua ilmu itu dari Allah Swt.” dan visi, “menjadi lembaga pendidikan terkemuka dalam melahirkan generasi ibadullah, yang bertaqwa, tafaqquh fiddin, berilmu luas dan menjadi mundzirul qaum,” ini diasuh oleh beberapa dewan Masyayikh, diantaranya KH. Ahmad Basyir, KH. A. Warits Ilyas, KH. A. Muqsith Idris, KH. A. Basith AS, KH. Abbasi Ali.

Hingga kini, Pondok Pesantren Annuqayah telah memiliki 5000 lebih santri dalam 22 daerah atau komplek asrama; Lubangsa (Putra-Putri), Latee (Putra), Latee II (Putri), Lubangsa Selatan (Putra-Putri), Nirmala (Putra-Putri), Daerah K.A. Farid Hasan (Putra-Putri), Karanganyar (Putra-Putri), Latee I (Putra-Putri), Lubangsa Tengah (Putri), Karang Jati (Putra-Putri), Al Furqaan Sabajarin (Putra-Putri), Nurul Hikmah (Putra-Putri), Kusuma Bangsa (Putra-Putri), Al-Amir (Putra-Putri), Al-Anwar Kebon Jeruk (Putra), Latee Utara (Putra-Putri), Latee Tengah (Putra-Putri), Latee Selatan (Putra-Putri), Daerah KH. M. Syafi’I Anshari (Putra-Putri), Daerah KH. A. Wadud Munir (Putri), Sumber Dadduwi (Putra-Putri).

Untuk hal lembaga pendidikan di bawah naungan Pondok Pesanten Annuqayah pun sangat lengkap. Mulai dari TK, MI, Mts, MA, SMA, SMK, hingga perguruan tinggi,-INSTIKA (Institut Ilmu Keislaman Annuqayah) itu.

Dalam garis besar, Pondok Pesantren Annuqayah memiliki 5 kegiatan; pertama, menyelenggarakan pendidikan lewat jalur pendidikan formal dari tingkat Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi. Kedua, Menyelenggarakan Madrasah Diniah klasikal dari tingkat Ula hingga Wustha sebanyak 11 satuan pendidikan. Ketiga, menyelenggarakan halaqah-halaqah/ majelis ta’lim non klasikal di masjid dan mushola-mushola dengan subjek kitab-kitab tauhid/aqidah, Syariah/fiqih, akhlaq-tasawuf, dan qawaidul lughoh. Keempat, menyelenggarakan pendidikan kepaduan, kesenian, jurnalistik, PMR/BSMR, keterampilan/kewirausahaan, bela diri, dll. Kelima, melakukan pengembangan swadaya masyarakat di bidang masyarakat, kesehatan, dan lingkungan hidup yang dilakukan baik secara mandiri oleh PPA maupun bersama mitra LSM-LSM dalam maupun luar negeri.

Hebatnya, Pondok Pesantren Annuqayah dalam menjalin hubungan mitra bersama LSM-LSM begitu berkembang. Diantaranya LSM dalam negeri; LP3ES, P3M Jakarta, Bina Desa Jakarta, Bina Swadaya Jakarta, LPTP Jakarta, Dian Desa Yogyakarta, PKBI Jakarta, WALHI Jakarta, Komnas HAM Jakarta, INSIS Yogyakarta, RMI-NU, Yayasan Mandiri Bandung, Yayasan KEHATI Jakarta, dan Sampoerna Foundation. LSM luar negeri; ACFORT filipina, CIDA Canada, IDEX Amerika Serikat, NOVIP Beranda, USAID Amerika Serikat, AUSAID Australia, Fridrich Nauman Stiftung Jerman, GTZ Jerman.

Apresiasi harus dijunjung tinggi-tinggi untuk Pondok Pesantren Annuqayah, selain atas perkembangannya, untuk hal ekologi, Anugerah penghargaan Kalpataru 1981, Kategori Penyelamat Lingkungan Hidup diraihnya.

Lubangsa

Dari sekian daerah yang ada di Pondok Pesantren Annuqayah, Daerah Lubangsa termasuk salah satu yang menjadi pelopor dalam segala hal. Memang dalam hal literasi, Pondok Pesantren Annuqayah termasuk pondok yang memiliki literasi yang baik. Selain ditopang dengan buku-buku, lingkungan santrinya juga memiliki kesadaran minat baca tulis yang tinggi. Itu kenapa di setiap sisi, seperti kamar asrama, formal, hingga perpustakaan pun memiliki majalahnya sendiri-sendiri. Begitupun dengan Lubangsa dengan Majalah Muara-nya yang sudah menginjak edisi ke-42.

Untuk hal ekologi, Daerah Lubangsa juga menjadi yang terdepan. Terutama dalam hal pengelolaan sampah, selain dengan gotong-royong bersih-bersih lingkungan setiap paginya oleh seluruh santri, Lubangsa juga sudah menerapkan penghilangan pengguanaan kantong plastik di segala hal; di warung-warung, toko-toko, dan manapun.

UPT Jatian

UPT Jatian atau Unit Pelaksana Teknik Jatian merupakan program Daerah Lubangsa dalam pengendalian sampah. Dinamakan dengan Jatian, karena memang UPT ini berada di kebun jati. Tujuan dari adanya UPT Jatian ini adalah untuk pengelolaan sampah yang terus datang. Sampah itu dikelola, dipilih-dipilah. Mana sampah yang harus dilebur, dikompos, didaur, atau dijual ke pengepul yang dilakukan oleh anggotanya. Semakin hari, UPT Jatian terus mengalami progress yang baik.

 

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like