web analytics

Apa yang Tersisa Dari Piala Dunia?

0 0
Read Time:3 Minute, 29 Second

Sulit untuk tidak mengakui, bahwa edisi piala dunia kali ini sangat luar biasa. Dengan jumlah negara partisipan yang lebih banyak, tidak memungkiri untuk catatan pencapaian yang tidak kalah banyak; mulai dari pencapaian tim, individu, hingga jumlah penonton.

Tercatat ada 308 gol dari 104 pertandingan 48 negara dengan total 6.810.966 penonton yang memadati stadion di tiga negara tuan rumah (Amerika Serikat, Kanada, Meksiko).

Hal yang tak kalah luar biasanya, di edisi piala dunia kali ini pula kita masih diberi kesempatan untuk menyaksikan penampilan terakhir kalinya para legenda sepak bola abad ini untuk bermain di panggung piala dunia: Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, hingga Neymar Jr.

Masa indah yang mungkin hanya bisa kita kenang di kemudian hari.

Tapi bagaimana pun, sampai pada laga terakhir piala dunia ini digelar, menobatkan Spanyol yang keluar sebagai juara atas gol semata wayang Ferran Torres ke gawang Emiliano Martinez, untuk semua waktu, anggaran, dan euforia gemerlap sorak sorai meriah dalamnya; setelah semua ini usai, lantas apa yang tersisa dari piala dunia?

Tak terhitung jumlahnya dari konten foto dan video, hingga tulisan-tulisan yang mengulas soal gegap gempita, rekap pertandingan, rekor dan angka, kalimat semangat untuk yang kalah dan ucapan selamat untuk yang menang, sisanya adalah cocoklogi dan konspirasi, hal apa yang sekiranya bisa dikait-kaitkan dalam pembahasan piala dunia.

Tapi di tulisan ini, mari kita sedikit bergeser untuk sekedar sadar dan renungi, di selesainya piala dunia ini, sebenarnya apa yang bisa kita petik sebagai pelajaran?

Dalam hidup, kita selalu dituntut untuk fokus, sungguh-sungguh dan serius. Belajar, bekerja, dan apapun soal masa depan. Harus begini, harus begitu. Semua tanggung jawab dan tuntutan.

Jika hidup hanya dijalani dan dimaknai seperti itu, rasanya sangat membosankan sekali!

Padahal Allah Swt sudah berfirman dalam Al Qur’an:

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ

“Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan.” (QS. Al Ankabut ayat 64).

Artinya, hidup ini sebenarnya ada bercandanya, ada ketawanya, ada unsur permainnya.

Johan Huizinga, seorang sejarawan dan teoritikus budaya asal Belanda, merumuskan dalam konteks filsafat permainan, bahwa sejatinya manusia adalah Homo Ludens, makhluk yang bermain.

Menurut Huizinga, ciri eksistensialis manusia itu adalah ludens.

Tidak hanya makhluk yang berpikir (Homo Sapiens) dan bekerja (Homo Faber), manusia juga makhluk yang bermain (Homo Ludens). Thinking, working, dan playing. Ketiganya harus ada, agar manusia menjadi lengkap.

Kalau tidak berpikir, maka dia bukan manusia. Kalau tidak bekerja, untuk apa jadi manusia? Kalau tidak playing, serius amat jadi manusia!

Itu kenapa Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin pada bab Riyadhat al-Shibyan (Tarbiyah Anak), mengatakan:

“Anak hendaknya diizinkan bermain setelah selesai belajar, permainan yang baik yang membuatnya beristirahat dari kelelahan belajar. Melarangnya terus-menerus dari bermain dan memaksanya belajar sepanjang waktu dapat mematikan hatinya, mengurangi kecerdasannya, dan membuat hidup terasa berat baginya.”

Namun ada hal yang menarik. Yang namanya permainan bukan hanya soal main-main tanpa serius. Tetap bermainlah dengan serius. Terdengar agak sedikit paradoks. Tapi memang seperti itu kenyataanya.

Prof. Driyarkara dalam bukunya, Filsafat Manusia, mengatakan:

“Bermainlah dalam permainan, tapi jangan main-main. Hidup ini permainan. Mau tak mau kita harus bermain, tapi jangan cuma main-main. Seriuslah. Mainlah dengan sungguh-sungguh, tetapi permainan jangan dipersungguh.”

Permainan jangan dipersungguh itu adalah, ini cuma permainan, untuk apa kita sebaper itu? Biasa sajalah. Ini hanya permainan. Tapi mainnya yang serius.

Mari kita serius bermain. Sepak bola, ayo sepak bola yang serius. Tapi kalau kalah jangan sesedih itu. Jangan senangis itu. Biasa saja, orang cuma permainan. Mari berlomba, mari bersaing, kalau gagal, tidak masalah. Karena ini hanya permainan. Itulah yang dimaksud permainan jangan dipersungguh. Kesungguhan permainan terletak pada ketidaksungguhannya, sehingga permainan yang dipersungguh tidaklah sungguh lagi.

Namun hal yang perlu kita pahami adalah, sejatinya permainan tetaplah permainan.

Terlebih dalam piala dunia, terlebih kita sebagai penonton, sepak bola hanya sekedar tontonan-hiburan olah raga. Jadi tidak perlu menyikapinya secara berlebihan. Apalagi sampai menimbulkan keributan dan anarkisme.

Dan sepak bola bukan hanya soal skor akhir.

Itu kenapa kita rela bangun begadang tengah malam, rela memotong jam tidur, karena kita ingin menikmati jalannya pertandingan; bukan sekedar mengetahui hasil skor akhir.

Selamat untuk Spanyol.

Selamat untuk Lamine Yamal dan kolega.

 

 

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
opiniPiala Dunia

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Anak Hari Ini, Pemimpin Umat Esok Hari

Anak Hari Ini, Pemimpin Umat Esok Hari

Enam Bekal Santri Baru: Membaca Kembali Nasihat dalam Nadzom Alala

Enam Bekal Santri Baru: Membaca Kembali Nasihat dalam Nadzom Alala

Antara Panggilan Jiwa dan “Tukang Doorsmeer”

Antara Panggilan Jiwa dan “Tukang Doorsmeer”

Pesan-Pesan Gus Reza Seputar Santri Baru

Pesan-Pesan Gus Reza Seputar Santri Baru

Menulis Buku sebagai Mahar

Menulis Buku sebagai Mahar

Antara Kesepian dan Validasi

Antara Kesepian dan Validasi