web analytics

Santri dan Berpikir Untuk Berani

Santri dan Berpikir Untuk Berani
0 0
Read Time:3 Minute, 42 Second

Manusia selalu dihadapkan dengan berbagai permasalahan, entah itu masalah dalam keluarga dengan teman ataupun dalam hal apapun itu. Namun tergantung si individu itu sendiri bagaimana cara ia menghadapi semua permasalahan itu, apakah berpikir untuk ingin menyelesaikan masalah tersebut atau malah tutup mata ataupun tutup telinga, tak peduli dengan masalah yang ada di hadapan matanya. Jika memang kita ingin memulai sebuah kehidupan yang baru atau mengupgrade kehidupan kita ke level selanjutnya, maka kita harus siap dengan konsekuensi-konsekuensi yang bakal dihadapi minimal maksimal ya kita harus berani. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi rasa kaget yang akan menyerang kita.

Seseorang yang bersiap untuk mengupgrade dirinya atau menaikkan kualitas dirinya berarti siap untuk menghadapi kerasnya dunia nyata, seperti halnya santri yang dulunya belum pernah mengenal dunia pesantren yang jauh dari keluarga yang jarang mendapatkan keramahan dari anggota keluarganya, contoh ketika seorang pemuda yang akan berangkat tholabul ilmi sebelum berangkat pemuda tersebut mengatakan “saya akan merantau mencari ilmu dan akan meninggalkan bapak dan ibu, namun hanya sementara do’akan anakmu ini pak bu.” Pada saat mengatakan ini, berarti akan mulai siap untuk berani menerima konsekuensi-konsekuensi yang tak ada dalam kehidupan keluarga dalam rumah, artinya si pemuda tersebut harus siap berpikir bagaimana cara untuk mengupgrade diri yang jauh dari keluarga di rumah.

Meninggalkan rumah untuk mencari kehidupan baru adalah sebuah tantangan untuk mendewasakan diri. Beberapa fasilitas yang biasanya mudah untuk didapatkan satu persatu akan hilang begitu saja. Ini adalah salah satu konsekuensi dari puluhan konsekuensi yang lain, apalagi meninggalkan rumah dengan satu tujuan yaitu tholabul ilmi tujuannya mulia tantangan yang dihadapi pun beragam pula dan jika posisi kita sebagai seorang anak ada hal yang bisa kita perhatikan secara seksama. Hal yang paling penting adalah lingkungan tempat yang ditinggali, lingkungan akan mempengaruhi pola pikir seseorang sebagai orang yang sedang mencari ilmu akankah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu atau hanya ingin bebas dari pantauan orang tua, padahal orang yang berangkat merantau mencari ilmu itu berarti sudah berani berpikir atau mudahnya yaitu harus sudah punya target minimal dalam setahun sudah hafal satu kitab atau dalam satu tahun harus sudah bisa memimpin tahlil dan do’anya sekaligus.

Yang dimaksud berani berpikir yaitu bagaimana caranya seseorang bisa memposisikan dirinya dengan kemampuannya sendiri tanpa dengan campur tangan dari orang lain, jadi seseorang berani menghadapi tantangan yang menghadangnya lalu dia pikirkan bagaimana supaya tantangan ini berhasil dia lewati dengan kemampuannya, barangkali kita pernah mendengar pepatah jawa. “ilmu sitik diamalne amal sitik diilmuni”. Sedikit apapun ilmu yang kita miliki harus mesti diamalkan. Pasti santri itu ketika sudah boyong atau sudah pulang ke rumah masyarakat berpikir santri itu hebat, seperti dawuhnya KH. Abdul Karim pendiri pondok pesantren lirboyo kediri. Beliau dawuh “santri lek wes muleh kudu dadi paku.” Yang dimaksud beliau adalah santri ketika sudah pulang ke rumah harus berbaur dengan masyarakat harus bisa menyatukan masyarakat yang notabenenya rata-rata awam soal masalah agama.

العلم بلا عمل كاالشجر بلاثمر
“ilmu tanpa amal, ibarat pohon tanpa buah”

Imam Al-Ghozali dalam kitab karangannya kitab Ayyuhal Walad-nya sangat mewanti-wanti kepada santri beliau untuk mengamalkan ilmu yang dimiliki. Imam Ghozali menggambarkan meskipun seorang santri belajar 100.000 permasalahan ilmu namun tak diamalkan maka tidak akan memberikan faidah manfaat kepada santri dan sekitarnya. Dan sepatutnya tentu kita harus mesti mengamalkan ilmu-ilmu yang kita miliki supaya memberi kemanfaatan kepada orang lain. Terkadang kita nyaman dengan kemapanan ilmu yang kita miliki merasa puas karena telah mengalahkan kebodohan, akan tetapi tidak sadar bahwa masih ada satu step lagi yang mesti kita lalui yaitu mengamalkan ilmu, sebagaimana firmannya Allah SWT.

وأَنْ لَيْسَ لِلإِ نْساَ نِ اِلاَ ماَ سَعَى
“Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diamalkan.” (Qs. An-Najm: 39)

Ilmu yang tidak bermanfaat itu disebabkan karena seorang alim ilmu memiliki sifat yang sombong, ditambah lagi orang alim pasti tahu betapa dibencinya sifat sombong oleh Allah SWT akan tetapi malah bersikap sombong dan tidak mengamalkan pengetahuannya. Oleh karena itu, barang siapa yang membanggakan dirinya dan menyepelekan orang lain serta menilai orang lain kecil di hadapannya, maka ia adalah orang yang sombong yang dimurkai oleh Allah SWT. Sikap seperti inilah harus kita hindari malah-malah jangan sampai kita yang notabenenya santri yang sudah faham ilmu agama ilmu umum atau wawasan ilmunya luas malah menyembunyikan ilmu yang dimiliki. Jangan sampai kita termasuk yang demikian, semoga kita semua tidak termasuk orang yang menyembunyikan ilmu, semoga kita termasuk orang-orang yang jihad fisabilillah dengan tholabul ilmi dan mengamalkan ilmu. Amiin ya robbal ‘alamin.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like