web analytics

Alhamdulillah Betah Mondok

Alhamdulillah Betah Mondok
0 0
Read Time:6 Minute, 40 Second

Pondok Pesantren menjadi tempat yang menyenangkan bagi sebagian orang. Selain menambah cakrawala keilmuan agama, mereka bisa menitipkan, menciptakan, hingga mendapatkan senangnya masing-masing. Berbagai alasan dan berbagai cara yang mengesankan. Meskipun itu semua butuh setetes demi setetes dari air mata kerinduan, tapi betah itu bisa dicapai dengan suguhan waktu yang terus berjalan.

 

***

 

“Man, sini! Kita ngopi bareng.”

Ajakan Arif disambut simpul senyum oleh Salman.

Baca Juga: Kampung

Suasana kamar itu begitu hangat. Bahkan, lebih hangat dari kopi itu. Salman mendekat dan bergabung dengan lingkaran teman-temannya. Ia memang sering menyendiri dibanding dengan yang lain. Oleh karena itu, teman-temannya sering mengajaknya bergabung bersama. Termasuk ngopi dadakan ini. Kebetulan Beni habis dapat kiriman dari orang rumah.

Makanan berserakan di hadapan mereka; keripik, biskuit, permen, kacang-kacangan, dan camilan lainnya. Perkopian, juga minuman sachet pun tersedia rencengan. Lauk pauk masakan bunda juga tersedia dengan rasa penuh cinta dan telah ludes tak berdaya bersamaan dengan nasi kantin berbungkus-bungkus. Hari itu mereka pesta pora. Hura-hura. Meskipun tetap baca do’a sebelum makan.

“ Eh, Ja. Sabunku kok nggak ada? ditaruh mana?” Tanya Adi. Jaja gelagapan.

Minjam meminjam adalah hal yang wajar di Pesantren. Apapun. Dan izin tak dicantumkan dalam aturan. Jadi jangan kaget kalau tiba-tiba barang menghilang tanpa jejak. Termasuk sabunnya Adi.

“Anu..Di.sabun kamu..Hm.nyemplung ke closet. Hee, maaf.” Jawab Jaja cengar-cengir.

“Kebiasaan! Berarti ini yang ke-27 kalinya sabun aku kamu nyemplungin ke closet. Habis uang jajan aku buat nabung sabun di closet.”

“Sempak aku juga mana, Ja?” Fahri pun angkat suara menuntut keadilan. Sempaknya terzholimi.

Jaja dicerca dengan tuduhan-tuduhan yang menyudutkan. Meskipun itu benar.

“Yang biru kan udah aku balikin!”

“Balik sih balik, tapi bolong!”

Jawaban Fahri disambut dengan gelak tawa satu kamar. Jaja hanya garuk kepalanya yang tak gatal. Tetap dengan cengar-cengirnya.

Salman merasakan hal baru dalam hidupnya. Baru kali ini bisa merasakan senang dan tak sendirian. Semua anggapan buruk mengenai teman-temannya selama ini ia tepis. Ternyata bahagia lebih mudah didapat dengan kebersamaan. Alhamdulillah betah mondok.

 

***

 

“Arrrgh!”

Itu adalah sendawa ketujuh kalinya Kamal dari 37 butir cilok berselimut bumbu, juga saus-saus.

Hal yang paling ia senangi adalah pergi ke kantin dan menyengangkan perutnya. Ia seorang santri pemegang prinsip ‘perut kenyang hati pun senang’. Meskipun isi kantongnya meronta-ronta. Tak apa. Itu semua tak begitu penting baginya. Kalau habis, tinggal minta lagi. Orang kaya.

Seperti pagi ini, setelah kegiatan dhuha di Mushola, ia bergegas pergi ke kantin. Gorengan, nasi, lauk pauk, kerupuk, cilok, cimol, cilung, siomay, batagor, rujak, cireng, basreng, bakso, mie ayam, soto, bubur, jajanan, juga es-es itu menyambut Kamal dengan senang. Apalagi Mang Asep selaku penjaga kantin yang sangat merindukannya, juga uang-uangnya. Cuan.

Ia sedang ngidam cilok beraroma bawang itu. cilok dan segala pesonanya cukup memuaskannya di angka 37 buah. Setelah makan 2 bungkus nasi telur, 4 gorengan, 2 kerupuk, dan 3 mangkuk mie ayam. Kantin bernuansa kuliner nusantara itu merupakan surga baginya. Perut buncitnya pun setuju. Alhamdulillah betah mondok.

Baca Juga: Kepak Sayap

 

***

            “Masya Allah, Annisa! Kalau habis wudhu, terus bawa Al-Qur’an. Damage-nya itu…Jadi pengen imamin sholatnya.” Batin Galih ngawur.

Annisa yang dimaksud adalah seorang perempuan berkerudung merah jambu yang sedang membawa Al-Qur’an dengan wajah yang basah air wudhu. Mungkin mau tadarusan. Ia tak tau. Hanya tau bahwa gadis itu cantik.

Matanya terus mengikuti langkah gadis itu. Tanpa berkedip, langkahnya semakin mendekat ke arahnya. Lewat di hadapannya. Tapi, gadis itu sempat melirik ke arahnya dan,

Baca Juga: MELLIFLOUS

“Assalamualaikum, Akhi!” Lalu tersenyum.

Alih-alih langsung menjawab salam gadis itu, ia malah tergelepak ke tanah dengan hamparan bakwan yang baru dibelinya.

“Waalaikumussalam, Ukhti!” Lalu terpejam pingsan dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Seperti iklan pepsodent.

Memang, akhir-akhir ini ada yang aneh denga hatinya. Sering mendadak berdetak tak beraturan saat setiap kali memikirkan gadis itu. Annisa. Seorang gadis cantik penghafal Qur’an dengan senyum manis dan lesung pipinya yang selalu membuatnya terpesona. Dan tadi, Annisa memberi salam kepadanya!

Hari-harinya terasa lebih bersemangat kali ini. nahwu shorof pun tak menjadi masalah baginya. Setiap kali kepalanya pusing dengan semua rumus kaidah nahwu shorof, seketika ia hadirkan wajah perempuan itu, juga senyum manisnya. Hilang semua kepusing. Semoga juga tak membuat hilang akal sehatnya. Alhamdulillah betah mondok.

 

***

 

“Hahhh…”

Nafas itu kembali ia keluarkan dengan penuh penghayatan. Diatas ketinggian dengan udara sejuk pagi hari dijadikan obat penenangnya. Seorang santri terlihat memejamkan matanya dengan hidung yang tak henti-hentinya menikmati setiap partikel udara dari hembusnya.

Baca Juga: Banjir Darah

“Andai aku tak ditakdirkan hidup!”

Kalimat yang terus ia lontarkan entah pada siapa. Mungkin pada dingin udara, cerah mentari, atau pada kepak sayap burung berinji. Tak semua orang mampu seperi Renal. Tak semua orang kuat hidup dengan hancurnya keluarga. Ayah selingkuh, Ibu gantung diri.

Semua sedu sedannya hanya ia rasa sendiri. Dunia memiliki warna berbeda bagi setiap orang. Hitam warna dunianya. Mungkin hanya di sini hidupnya bisa tentram. Setidaknya tekanan dan bayang-bayang kehancuran tak begitu terasa. Keluarga baginya adalah racun. Dan ia entah dengan masa depannya kelak.

“Aku harus kuat!”

Di atas tempat ini, sudah menjadi kebiasaannya untuk segala beban tekanan. Setidaknya ia bisa jauh dari rumah, tempat ladang kehancuran. Hancur ketenangan, juga batinnya. Pondok Pesantren menjadi tempat berlindung. Tempat terakhir dari pelarian. Setidaknya, ia bisa mendengar semua nasihat pelajaran dari Kiainya, obat hatinya. Alhamdulillah betah mondok.

 

***

 

“Sudah kubilang, aku nggak mau, Bu.”

Telepon itu Boni akhiri.

Sudah sering sekali Ayah dan Ibunya membujuk Boni pulang untuk dinikahkan dengan Jamileh anak Bos kebun singkong di kampungnya. Dalam segi umur, memang Kemal masih dalam tahap belajar. Tapi, dalam adat kampungnya, nikah dini bukanlah suatu hal yang tabu. Sudah biasa. Makanya itu orang tuanya begitu ngebet menyuruhnya menikah. Apalagi dapat tawaran anaknya Bos kebun singkong. Bisa kaya mendadak keluarganya Boni.

Bukan tanpa alasan, selain ngajinya belum tamat, Kemal juga memikirkan banyak hal. Memang ia tak perlu memikirkan kerja, karena ia pasti diserahkan untuk mengurusi kebun singkong yang berhektar-hektar itu. Salah satu masalah terbesarnya adalah Si Jamileh itu. Ia sama sekali tak memiliki perasaan apapun dengan Jamileh. Meskipun telah dibantu dengan beratus-ratus, bahkan berjuta-juta uang orang tuanya yang kaya raya itu. Jamileh perempuan yang sebelas dua belas dengan vampire. Giginya itu loh yang horor!

Boni sudah membayangkan aneh-aneh. Meskipun ia sudah berpikiran jernih pun tetap tidak bisa. Ia memikirkan Si Jamileh senyum, tetap menyeramkan. Apalagi Si Jamileh badmood, ngamuk-ngamuk? Bisa dikunyah hidup-hidup!

Maka dari itu alasan Boni jarang pulang ke kampung. Lebih baik di Pondok; ngaji, ngopi, rebahan, dan makan goreng pisang. Alhamdulillah betah mondok.

 

***

 

Murodif murod ini apa, ya?”

Azhar berulang kali membolak-balik kertas berwarna kuning di hadapannya itu.

Kitab Fathul Muin kali ini sedang ia geluti di tengah kesunyian malam. Asap kepul kopi susu panas menyeruak di kamar yang cukup disinggahi 5 orang. Pembahasan fiqh memang tak ada habisnya. Perbedaan pendapat diantara ulama terdahulu merupakan rahmat tersendiri bagi agama ini, bukankah begitu?

Baca Juga: Asin Air Mata

Kali ini bab Arkanul Wudhu atau rukun-rukunnya wudhu yang dibahas. Sampai pada pembahasan mashu ba’dhi ro’si atau mengusap sebagian kepala.

“Maksudnya gimana?”

Ia pandang kertas itu lekat. Ia tarik kitab lain untuk menambah pemahaman baru dari keterangan ulama salaf. Seperti, Kitab; Fathul Qorib, Fathul Wahab, Busyrol Karim, Nihayatu Zein, Al-Iqna’, Kifayatul Akhyar, Syarah Yaqutunnafis, Ianatut Tholibin, Hasyiyah Bajuri, Hasyiyah Bujairomi, dan lainnya. Kitab sebanyak itu merupakan hal yang menyenangkan baginya. Apalagi sampai bisa menemukan keterangan dari masalah yang dicari. Rasanya seperti menemukan harta karun.

Meskipun begitu, ia akan mempersiapkan untuk Majelis Bathsul Masail. Ia harus mempersiapkan argumen untuk diadu dengan peserta yang lain. Azhar baca, pahami, lalu tulis. Ia masih merasa kurang dengan keterangan dari kitab yang ia miliki, maka pasti bisa ditebak bahwa ia harus ke perpustakaan Pondok Pesantren. untuk saat ini ia bisa menanyakan persoalan-persoalan yang ia tak pahami pada kakak kelas ataupun pada para Ustadz.

“Zhar, Mie kamu tuh!”

Haris memecah fokusnya dan mengalihkan pandangannya dari kitab pelajarannya pada mangkuk yang ditunjuk itu. Mie Instantnya sudah dingin, mekar, dan besar-besar.

“Oh, iya. Lupa!”

Ilmu juga kitab-kitab itu adalah separuh hidupnya. Alhamdulillah betah mondok.

 

***

 

 

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like