web analytics

Bibliophile dan Mesir

Bibliophile dan Mesir
Buku
0 0
Read Time:3 Minute, 17 Second

Suara derap kaki serasa menggelegar dan Bumi nampak melebar. Peluh mengalir bersama udara yang terlepas dari hembusan panas dari dalam dada. Namun matanya memancarkan rasa bahagia nan syukur. Bibirnya tertarik membentuk senyum yang lembut dan samar. Andai hatinya bisa dilihat dengan mata, maka akan terlihat mengembang akibat rasa senangnya.

“Masyaallah”. Satu kata yang berhasil lolos dari mulut yang sedari tadi senyum dan terdiam itu. Tanah tandus ini begitu menakjubkan. Yang mana diatasnya berdiri bangunan-bangunan khas negri Mesir.

Matanya menyapu segala arah. Rasanya dadanya berdesir dengan kalimat ‘Alhamdulillah’ berkali-kali menatap negara dengan keunggulan keilmuan itu. Kini kakinya menginjak Pulau Zamalek, gundukan tanah yang diapit oleh Ibukota Mesir yakni Kairo dan Giza sebagai tempat dimana banyaknya berdiri piramida-piramida besar disana. Matanya kini dimanjakan dengan pemandangan sungai nil yang mengelilingi pulau zamalek ini.

Kedua kakinya kini berada di Jalan Mohammad Mazhar untuk menuju ke tempat yang ingin sekali ia kunjungi ketika berada di negeri piramida ini. Setelah ia sempat menaiki mini bus biru yang memakan waktu 20 menit itu. Dan kini ia berada didepan Al-Maktabah Al-Qahirah Al-Kubra.

Awalnya perempuan berjilbab itu akan datang bersama Bibinya untuk mengunjungi tempat ini. Hanya saja ada panggilan mendesak yang harus didatangi oleh bibinya alhasil dia berada di depan perpustakaan besar ini seorang diri. Awalnya ia takut karena sendirian di tempat yang belum pernah ia pijaki sebelumnya. Namun rasa penasaran dan keingin tahuannya terkait tempat ini melawan rasa itu. Kakinya mulai memasuki area lantai dasar perpustakaan dengan bentuk ruangan yang bergaya klasik ala istana kuno. Matanya kembali mengabsen deretan lukisan dan gambar dari berbagai corak.

Ketika kakinya hendak melangkah tiba-tiba benda pipih mengetuk pundaknya. Secara reflek gadis dengan nama Syaira itu menoleh. Mata Syaira melebar. Nampak laki-laki dengan pakaian kaos yang dibalut kemeja rapi serta tas ransel yang diselempangkan di bahu kirinya dengan ponsel ditangan kanan. Bukankah ia kakak kelasnya dulu sewaktu mengenyam pendidikan SMP?. Tiba-tiba ponselnya berdering ‘Panggilan Masuk’ namun langsung dimatikan. Disana terdapat pesan masuk dari bibinya.

Baca Juga: Lampu dan Lilin

‘Bibi minta adik teman bibi untuk mengantarmu. Bibi khawatir kamu tersesat’. Begitu isi pesan yang tertulis di benda pipih itu.

“Syaira?”. Tanya laki-laki itu. Yang ditanya hanya mengangguk dengan rasa terkejutnya. Bumi yang tadinya nampak melebar karena lamanya waktu. Kini Bumi mulai menyempit karena seorang yang ditemu.

“Saya disuruh Bibimu untuk mengantarmu berkeliling. Namun kebetulan saya tadi ketemu teman saya di seberang jalan jadi kita ngobrol sebentar”. Jelasnya.

“Oh tidak apa-apa. Maaf jika permintaan Bibiku merepotkanmu”. Ucap Syaira. Merekapun berjalan menuju tangga menuju lantai dua.

“Perpustakaan ini merupakan perpustakaan umum terbesar di Mesir setelah Perpustakaan Nasional Mesir. Dan diresmikan sekitar tahun 1955 oleh ibu negara saat itu, yakni Suzan Mubarak”. Laki-laki itu berjalan memimpin didepan Syaira sembari memperkenalkan serta menjelaskan apa saja yang mereka temui.  “Seperti Tour Guide saja”. Ucap Syaira

Baca Juga: Evolusi

Setelah beberapa jam menyusuri bangunan yang memiliki luas area kurang lebih 3.465 meter itu, mereka pun istirahat di kafetaria yang berada di gedung tersebut.

“Kata Bibimu kamu suka ke perpustakaan”. Tanya laki-laki itu setelah menyeruput minuman dihadapannya.

Syaira menganggung pelan dengan tangan memegang gelas minuman. “Aku menyukai hal-hal yang berkaitan dengan buku”. Jawab syaira menatap lurus kearah gelas didepannya yang kemudian beralih ke laki-laki didepannya. Syaira tergolong Bibliophile atau orang yang suka membaca, merawat dan mengkoleksi buku namun kecintaannya masih taraf yang aman dan wajar.

“Karena-“.

Khoiru Jaliisin Fiz Zamaani Kitaabun”. Potong Laki-laki itu.

Baca Juga: Anak Singkong

Syaira sempat terkejut dengan jawaban laki-laki dihadapannya. Kenapa dia bisa tau apa yang ingin dikatakan olehnya?

“Ya benar. Sebaik-baik teman duduk disetiap waktu adalah buku”. Syaira membenarkan perkataan laki-laki dihadapannya.

“Dan memang benar adanya yang dikatakan Mahfudzat Arab kuno, bahwa ‘Kairo menulis, Bairut mencetak dan Irak membaca’”. Ucap laki-laki itu dengan seulas senyum.

“Jika Kairo menulis, Beirut mencetak dan Irak membaca. Lalu kamu?”. Tanya Syaira dengan senyum sedikit bercanda untuk mengikis kecanggungan diantara mereka.

Syaira memang tengah berada di dalam zona waktu bagian bercanda. Namun lawan bicarannya tidak.

“Aku pernah mengagumimu”.

Selesai

About Post Author

Mufrodatul Hidayah

Santri Al-Mahrusiyah Putri Lirboyo Kediri Mahasiswi IAIT Kediri yang ingin menjadi manusia berguna dari Batang Jawa Tengah
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like