web analytics

Bila Ingin Maju Bangsa Harus Menghargai Ilmu

Bila Ingin Maju Bangsa Harus Menghargai Ilmu
Santri sedang mengikuti pengajian
0 0
Read Time:2 Minute, 17 Second

Bila ilmu tidak kita hargai jangan harap ilmu menghargai kita, teringat sebuah makolah untuk memperjuangkan ilmu secara totalitas,  الْعِلْمُ لَا يُعْطِيكَ بَعْضَهُ حَتَّى تُعْطِيَهُ كُلَّكَ “Ilmu itu tidak akan memberimu sebagian darinya, sampai engkau memberikan seluruh dirimu”.

Begitulah, ilmu sulit didapat apabila hanya setengah-setengah. Nah hal itu sangat relevan terhadap bangsa ini. Bangsa yang sangat pelit terhadap ilmu. Banyak pengajar, pendidik, guru hingga dosen tidak terlalu dihargai. Seorang guru yang mengajarkan ilmu jasanya tidak dibayar seberapa. Apalagi yang masih honorer.

Hingga terjadilah kasus guru honorer di Garut yang membakar sekolahnya gegara honor selama dua tahun tak kunjung cair. Banyak pula demonstrasi setiap tahun dari para pencerdas bangsa ini yang menuntut haknya.  Coba tengok Swiss, gaji Guru SD disana 101 Juta/ Bulan.  Ceko 29,5 Juta/ Bulan. Tetangga kita, Australia membayar 1 Milliar pertahun, USA 858 Juta/ tahun.

Hasilnya, warga dan penduduk negara diatas cerdas-cerdas, keilmuannya maju. Tekhnologinya mutakhir. Sebanding dengan bayaran yang dikeluarkan. Sedangkan Bangsai ini? Banyak maunya, ingin negaranya punya ini itu, ingin bisa gini gitu, tapi Masih saja pelit dengan ilmu. Istilah Jawanya “Kegeden empyak keciliken cagak”.

Bukannya guru itu sebuah kewajiban? Tidak boleh menjadi Profesi? Dan tidak boleh mengharap bayaran dari ilmu yang diajar?

Memang benar demikian. Kalau dari sudut pandang guru, kurang etis apabila berharap cuan dari mengajar. Namun bila dilihat dari sudut pandang pelajar tentu bagaimana kita menghargai ilmu serta menghargai yang punya ilmu yaitu guru. Tentu sang pelajar (ortu/ negara) ya harus membayar layak kepada guru-guru yang telah mencerdaskan buah hatinya.

Menghargai secara totalitas, tidak perhitungan. Karena ilmu itu sejatinya mahal, Sayyidina Ali pernah menjelaskan dalam syairnya

لقد حق أن يهدى إليه كرامة        لتعليم حرف واحد ألف درهم

“Yakinlah guru berhak dihadiahkan kemuliaan, karena mengajar satu huruf, berhak seribu dirham”. Boro-boro seribu dirham, dinegara Wakanda ini guru saja ada yang dibayar 200 Ribu. Sayyidina Ali juga pernah ngendikan

أنا عبد من علمنى حرفا واحدا، إن شاء باع، وإن شاء استرق

“Saya adalah hamba sahaya dari orang yang telah mengajariku satu huruf. Terserah padanya, saya mau dijual, di merdekakan ataupun tetap menjadi hambanya.” Tapi yang terjadi di Indonesia malah Kebalikannya, sang Guru seolah menjadi budak dari ilmu-ilmu yang diajarkan. Negara yang maju itu kaitannya dengan technology, technology bisa didapat dengan ilmu dan ilmu bisa raih dengan cara totalitas. Baik dari pelajar, guru dan negara yang mengurusi.

Ketertinggalan Indonesia khususnya dibidang pendidikan ini bisa jadi ‘kualat’ karena kurang memulyakan ilmu. Kurang menghargai ilmu. Terlihat juga pada alokasi APBN 2002, Kemedikbud Ristek hanya menempati peringkat 6 sebesar 72.99 Triliun. Jauh dari Alokasi untuk Kementerian Pertahanan yang mencapai 111.02 T.

Jadi jangan bermimpi Indonesia bisa maju bila tidak mau memulyakan ilmu.

About Post Author

Elnahrowi

Santri Pondok Al-Mahrusiyah yang suka Menulis dan Berjurnalis. Asal dari Sragen Jawa Tengah
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
100 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like