web analytics

DeLiang: Anak Muda 11 Tahun Dengan 300 Bacaan, 37 Tulisan, dan 20 jutaan.

DeLiang: Anak Muda 11 Tahun Dengan 300 Bacaan, 37 Tulisan, dan 20 jutaan.
0 0
Read Time:4 Minute, 28 Second

Masa muda adalah masa emas. Sebuah masa di mana seseorang dalam taraf produktivitas yang tinggi, yang juga tentunya didukung dengan kekuatan fisik prima dan tekad yang kuat.

Dan tentunya, kadar belajar adalah hal yang harus disorot. Karena seberapa effort diri dalam belajar, sangat berpengaruh dan menentukkan langkah berikutnya: masa yang akan datang. Sudah bisa dipastikan, ilmu dan pengetahuan adalah kunci kebahagiaan.

Tapi siapa sangka, ada seorang anak muda yang memiliki minat belajar terutama lewat membaca dan menulis, yang bahkan pernah membaca 300 lebih buku dalam setahun dan telah menghasilkan 37 buku, yang kini harus sukses begitu awal dengan sudah memiliki royalty 20 juta di umur 10 tahun?!

Ialah DeLiang!

Bernama lengkap Muhammad DeLiang Al-Farabi. Ia lahir di Taipei, Taiwan, 18 Juni 2012. DeLiang merupakan putra Ario Muhammad dan Ratih Nur Esti Anggraini. Meski ia lahir di Taiwan dan dibesarkan di Bristol, Inggris, yang karena kedua orangtuanya saat itu sedang menyelesaikan pendidikan doktor di negara Eropa tersebut: sebenarnya ia tetap putra Indonesia yang kini tinggal di Trenggalek, Jawa Timur.

Pembentukan sikap DeLiang yang begitu haus belajar terhadap membaca dan menulis tidak terlepas dari peran kedua orang tuanya, terutama sang ayah. Kesan pertama kali yang menjadi titik mulai terbangunnya jiwa seseorang yang menyukai membaca dan menulis itu disebabkan sebuah buku diary berwarna silver yang diberikan ayahnya untuk ia tulis.

“Sebenarnya aku didorong oleh Ayahku. Dia memberiku sebuah silver diary dan memintaku untuk menulis cerita pendek atau apapun. Kemudian aku mulai tertarik untuk menulis beberapa cerita,” ungkap DeLiang menggunakan Bahasa Inggris, seperti dikutip dari akun @ario_muhammad87, Kamis (25/1/2024).

Memang, kebiasaan dan penerapan nilai-nilai pendidikan orang tua sangat berpengaruh bagi anak. Hal itulah yang didapatkan DeLiang dari kedua orang tuanya.

Kedua orang taunya adalah seorang akademisi yang sangat memperhatikan pendidikan. Bahkan, ketika DeLiang berumur 4 tahun, ia sudah diboyong ke Bristol, Inggris, untuk menyelesaikan pendidikan S3 kedua orang tuanya. Dan di sana pun DeLiang disekolahkan yang berperan pada baiknya bahasa Inggrisnya.

Ayahnya yang seorang penulis, sampai tidak kira-kira dalam membelikan banyak buku yang sedang digemari oleh anaknya. Itu semua merupakan salah satu langkah mengenalkan anak pada literasi. Meskipun sejatinya, ayah dan ibunya tetap memegang prinsip parenting yang membebaskan buah hati mereka, termasuk menjaga imajinasi sang anak agar tetap tumbuh dan berkembang.

Hingga, saatnya pada momen pemberian “Diary Silver” itu yang menjadi titik permulaan tumbuhnya jiwa penulis DeLiang. Sang Ayah bertutur, “Ketika dia suka membaca, akhirnya kami membiasakan dia untuk menulis emosinya di buku. Dia bilangnya silver notebook, bukunya sampai sekarang kita masih simpan, tulisan-tulisan lamanya. Jadi di situ biasanya dia menceritakan kesehariannya ngapain.”

Meskipun DeLiang terkadang membuat cerita sesuai dengan imajinasinya sebagai seorang anak laki-laki, kiprahnya dalam dunia literasi telah membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk meraih prestasi.

Hingga di umurnya yang menginjak 11 tahun, ia telah menerbitkan 37 buku. DeLiang pertama kali menerbitkan bukunya yang berjudul DeLiang the Deer saat berusia tujuh tahun. Karena regulasi penerbit di Eropa yang menerapkan aturan batasan usia pada penulis, Ario memutuskan untuk menerbitkan buku DeLiang lewat penerbit indie di Amazon.

Bahkan 2 novelnya yang berjudul Quirky Friends dan Weird Family, dikatakan pernah tembus Top 15 kategori Dark Comedy Amazon Amerika Serikat dan Inggris. Novel fantasi DeLiang lainnya, yakni Regal The Last Guardian, juga sempat tembus Top 50 Amazon Amerika Serikat dan Inggris.

Jadi tidak heran jika ia sudah mendapatkan 20 juta di royalty pertamanya pada umur 10 tahun.

Menurutnya, alasan untuk menjadi penulis adalah harus sering membaca. Karena 100 persen ide buku yang diterbitkan DeLiang merupakan hasil proses membaca.

“Ketiga anak2 kami sangat doyan membaca buku. Si Sulung yg mengisi seminar ini tiap tahun membaca 300+ buku,” tulis Sang Ayah,  Ario.

“Tahun 2023, DeLiang membaca 368 buku selain telah menulis 40 buku di usia 11 tahunnya. Anak kedua kami juga tak jauh beda, di usia 6 tahunnya sudah menulis 2 buku walau belum lancar membaca, ditulis oleh kami lewat storytelling,” sambungnya.

“Sejak tinggal di Inggris ketika saya & istri sama2 S3 dulu lalu bekerja di sana, kami konsisten melakukan pendidikan literasi,” tegasnya.

Sang ayah menyebutkan DeLiang kini sudah merilis 37 buku di usianya yang masih 11 tahun. Perang Badar atau The Battle of Badr menjadi buku seri ke-37 dan akan diterbitkan sebuah penerbit asal London.

Perang Badar berisi gabungan serial fantasi, time-travel, dan kisah Sirah Rasul. Buku tersebut telah menjalani supervisi oleh Islamic Scholars, salah satu lulusan University of Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Prestasi DeLiang tidak berhenti di bidang akademik dan kepenulisan saja, ia juga beberapa kali menjadi pembicara seminar, salah satunya menjadi pengisi acara untuk para guru di SD Chadijah Surabaya pada 19 Desember 2023 silam.

DeLiang juga dikatakan pernah mengisi seminar literasi di hadapan siswa-siswa SD dan SMP Polandia yang diadakan via Zoom Meeting. Hal itu dilakukan DeLiang setelah pulang dari Inggris 2 tahun silam.

Ia pun kerap kali terlihat mengisi di beberapa stasiun televisi dan platform media sosial, termasuk di Podcastnya Deddy Corbuzier.

Dengan begitu, apa yang bisa kita ambil dan petik dari kisah inspiratif ini? Sudah berapa judul buku yang diterbitkan di umur yang kian banyak ini? Setidaknya, mulailah membaca satu dua kalimat, satu dua paragraf, hingga beberapa judul tulisan lalu buku.

Sampai mulailah memberanikan diri untuk menulis satu dua kalimat, satu dua paragraf, hingga beberapa judul tulisan lalu buku: dan bersiaplah untuk menjadi penulis!

Bukan maksud membanding-bandingkan, kita semua hebat dengan caranya masing-masing.

Semangat!

 

Referensi: Timesindonesia.co.id, Tirto.id, Goodnewsfromindonesia.id.

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like