web analytics

Dilema Boyong, Antara Nurut Ortu atau Guru

Dilema Boyong, Antara Nurut Ortu atau Guru
2 0
Read Time:3 Minute, 17 Second

-Merenungi Kisah KH Mahrus Aly-

Rojab dan Syawal adalah hari-hari penting bagi santri, dibulan ini banyak agenda sebelum memasuki liburan ramadhan.

Terkhusus santri tua bulan-bulan ini sering mengalami hal dilema, antara putus atau terus mondok, lanjut khidmah atau dirumah Bahkan antara nurut ortu atau tunduk dawuh guru.

Pulang kerumah selamanya atau selepas syawal kembali ke Pondok lagi? Hal itu masih menjadi teka-teki.

Nah, supaya tidak salah langkah dan salah arah mari kita renungi kisah KH Mahrus Aly ini. Ternyata beliau Pernah mengalami hal-hal baina-baina alias dilema diantara dua pilihan.

Dikisahkan, selesai melanglang buana mencari ilmu ke berbagai penjuru. Pondok Lirboyo menjadi destinasi rihlah ilmiah terakhir Yai Mahrus.

Tak ayal Yai Mahrus memiliki niatan untuk boyong kembali ke tanah kelahiran, niat ini diperkuat dengan dawuh orang tuanya,

“Mahrus tidak bisa jadi orang besar, kecuali bila tetap tinggal di Gedongan”.

Kata-kata itu tentu membuat niat boyong Yai Mahrus semakin bulat.

Namun dilain sisi KH Abdul Karim, Sang Guru yang di ta’zimi, ternyata menghendaki Yai Mahrus untuk menjadi menantunya. Tentu disini Yai Mahrus muda semakin bimbang, diaambang dua pilihan, ortu atau guru?

Yai Mahrus tidak egois untuk memutuskannya sendiri. Dengan bijak, Yai Mahrus soan ke Yai Kholil Kasingan Rembang (Sosok guru yang menjadi lantaran beliau futuh) Guna meminta pertimbangan, ajaibnya baru mengetuk pintu dan beruluk salam Yai Kholil mengetahui isi hati sang murid kesayangan,

“Sudahlah, kamu diminta gurumu. Jangan macam-macam,” Tutur Yai Kholil.

Lalu Yai Mahrus yang masih penasaran itu menyahut, “Apakah tidak lebih baik di istikharahi dulu?”

Yai Kholil menjawab, “Apakah istikharahmu lebih baik daripada istikharah gurumu?”M

endengar jawaban Gurunya tersebut, Yai Mahrus memutuskan kembali ke Lirboyo dan mengurungkan niat boyong ke Gedongan. Sampai Lirboyo beliau tetap istikharah guna memantapkan hati.

Walhasil setelah Hati beliau mantap, akad nikah dengan putri KH Abdul Karim, Ibu Nyai Hj. Zainab dilangsungkan pada tahun 1938 M.

Kelak keluarga beliau ini melahirkan generasi-generasi hebat yang berpengaruh bagi bangsa, agama dan negara. KH Imam Yahya Mahrus, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH Hasan Syukri Zam-zami Mahrus dan KH An’im Falahudin Mahrus adalah bukti shohihnya.

Kisah Yai Mahrus diatas cukup menjadi pertimbangan bagi kita, bahwasanya keputusan boyong itu tidak mutlak ditangan orangtua.

Artinya bila kita akan boyong seminimal mugkin soan kepada guru meminta restu. Minta pertimbangan beliau, jangan tiba-tiba se-enak mengambil keputusan sendiri.

Karena sering kita temui, beberapa santri ketika sudah tamat merasa untuk segera boyong tidak mempertimbangkan Khidmah atau tugas-tugas yang belum tuntas, pun demikian wali santri juga merasa ‘berhak’ untuk segera menarik anaknya kembali, kedua kubu ini seoalah melupakan dari sisi hati sang guru. Belum atau bahkan tidak sempat memikirkan, “Kira-kira sang guru ridho apa tidak apabila aku/ anakku boyong?”

Sebagian mereka mungkin menganggap pondok pesantren masih sebagai penitipan anak. Istilah pasrah bongkok’an mungkin juga telah musnah, entah!

Baca Juga: Mondok Katanya

Teringat cerita dari guru saya, kala itu beliau mengisahkan, ada santri yang disuruh orantuanya untuk segera boyong, disisi lain santri ini masih dibutuhkan oleh kiai untuk mengurus pondok. keputusan tak kunjung final, akhirnya kedua belah pihak ini bertemu, antara ortu dan guru, ortu menceritakan alasan kenapa putranya segera disuruh boyong dan kiai memaparkan kenapa anaknya ini ditahan untuk tidak boyong.

Lalu apa yang terjadi? Mengetahui putranya memang masih diminta membantu mengurus pondok akhirnya sang ortu merelakan putranya untuk tetap mondok sampai segala tugasnya tuntas.

Bukankah sebuah kebanggaan apabila ternyata memiliki buah hati yang dibutuhgkan Kiai?

Itu masih kisah modern, belum menengok ke kisah ulama salaf dahulu, bahkan yang mashur kisah Imam Syafi’I yang dilarang boyong sama ortunya meskipun sudah sukses kala itu.

Begitulah babakan perboyongan. Kita masuk dengan cara yang baik keluarnya pun juga harus demikian. Kita masuk dengan restu masyayikh keluarnya pun juga harus demikian.

Kalau memang mau boyong pastikan urusan dan tugas-tugas di pondok tuntas baik tugas personal maupun struktural dan yang terpenting pertimbangkan hati sang guru.

Biar tidak terkesan
HABIS MANIS SEPAH DIBUANG.
Wallohu A’lam.

Sumber Rujukan: Pesantren Lirboyo, Sejarah Fenomena Peristiwa dan legenda.

About Post Author

Elnahrowi

Santri Pondok Al-Mahrusiyah yang suka Menulis dan Berjurnalis. Asal dari Sragen Jawa Tengah
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like