web analytics

Emen Pulang Kampung

Emen Pulang Kampung
Santri sedang mempersiapkan perpulangan
0 0
Read Time:3 Minute, 58 Second

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu Emen tiba juga. Setelah Emen memustuskan tiga tahun tidak pulang ke kediaman asal. Ini ia lakukan sekadar mendapatkan barokah, dengan menuruti anjuran dari Mbah Yai. Walau dikenal orang yang kopler (jail), namun ia cukup patuh pada Mbah Yai.

    Tepat tiga tahun yang lalu, Emen bersama teman-temannya, yang masyhur disebut dengan Geng PECEL LELE -Penggemar cewek lemu-lemu- sepakat untuk tidak pulang selama 3 tahun, 3 bulan, 3 hari 3 menit dan 3 detik.

    Detik-detik menuju perpulangan itu sungguh momen yang sangat menegangkan bagi geng yang tak jelas ini. Perwaktunya mereka amati dalam-dalam, melebihi dalamnya kapal selam sedang menyelam. Begitu 10 detik terakhir selesai, sorak-sorai dari geng ini mengalahi gemuruhnya pertandingan final piala dunia Indonesia VS Argentina. Walau beranggotakan 5 orang, namun damage kerusuhannya seolah-olah memporak-pondakan suasana kamar.

    Si Ainul menari-nari, bergoyang dombret mengalah-ngalahi goyangan Inul. Sedang Si Alik dengan damainya menikmati goyang itik ala Zaskia Gotik. Berbeda dengan Si Emen, yang lebih memilih jempalikan, jungkar balik ke depan, belakang hingga tak sengaja terjungkal menyundul pantat Alik.

“Aduuhh.. Ini pantat apa kayu lik? Kerasnya minta ampun.” Keluh Emen.

“Pesshh..” Tiba-tiba ada udara yang keluar dari pantat Alik.

“Astajiimm.. Apa ini?!! Baunyaaa. Kampret luh lik”

“Alhamdulillah, akhirnya nih angin keluar juga.” Ujar Alik sembari menikmati syahdunya kentut miliknya.

Sontak seluruh rakyat kamar ketawa dengan menutup hidung, menahan aroma busuk dari Alik.

“Kurang ajar kau lik, sini Kau! Ku sepak pantatmu itu!!” Alik pun segera lari menjauhi Emen, timbullah kejar-kejaran diantara keduanya. Sedang warga kamar tertawa menonton perlakuan mereka.

***

Diperjalan pulang, Emen terus memikirkan keadaan Si Jengki. Motor kesayangannya. “Si Jengki gimana kabarnya yaa? Kira-kira Deddy kasih asupan bensin ga yah? Olinya udah di update belum yah? Rantainya masih mulus apa udah keriput yaahh? Duhh.. nanti Deddy taruh Jengki di gudang, menyatu dengan debu dan berkawan dengan kecoa. Alaahh jangan sampailah, mudah-mudahan Deddy merawat Jengki dengan benar dan perhatian Ya Allahh..” Was-was Emen pada astrea kesayangannya itu.

Sesampainya dirumah, belum sempat bersalaman dengan orang tua, malah Emen sudah berpelukan dengan astrea putih kesayangannya.

“Kurang ajar kamu Men, 3 tahun kamu ndak pulang. Begitu pulang, kamu peluk Jengki. Sedangkan Deddy yang udah kasih kamu Jengki tak sedikit pun kamu sentuh.” Geram sang ayah.

Mommy pun menyauti, “Lahh Iyaa. Mommy juga ga sedikit pun kamu sentuh. Jadi nyesel Mommy ngeluarin kamu”

“Hehe, Yaelah Mom, Ded. Emen cuman ingin mencurahkan rasa kangen Emen sama Jengki”

“Ya sudah, sana-sana mandi. Mommy suda ga tahun sama bau kamu ini.” Sebal Ibu Emen, bercampur rasa ingin muntah karena aroma ketiak yang semerbak dari Emen.

“Hehe, kebetulan nih Mom. tiga hari belum mandi.”

“Kalo gituu, kamar mandi!! Emen datang!” kepala menjulur kedepan, kedua tangan mengepal mengarah samping belakang. Posenya bak Naruto sedang mengejar musuh.

***

Baca Juga: lampau l Puisi

    Tepat jam setengah Sembilan, Emen sudah siap untuk mengenang kisah romance dengan Si Jengki. Ternyata sifat pelupa belum bisa keluar dari otak Emen. Baru saja tiga tahun tidak mengelilingi kota, Emen merasa seperti amnesia, alias lupa dengan jalanan kota. Padahal tidak banyak perubahan dari kota kelahirannya ini.

    Sesampainya di Jl. Dr. Iwan Bachdim, jalan yang dipilihya setelah memakai trik cap cip cup di pertigaan tadi. Tak disangka ternyata dia bertemu dengan jalan yang berlawanan.

“Aduuhh.. Ko lawan arah si? Alaahh bodo amatlah. Kita Gass terus Jeng!” Teriak Emen pada Jengki.

Baru 10 meter berperang melawan arus, ia diberhentikan oleh Pak Cocol. Polisi dengan kulit hitam pekat, perut bulat, dan suka nilang mendadak. Ternyata Dewi Fortuner sedang tidak berpihak pada Emen. Dengan mata mengerut, bibir mencucu, Pak Cocol mendekati Emen.

Langsung saja Emen diintograsi, “Kamu kenapa lawan arah?”

Baca Juga: Naum

Dengan santainya Emen mejawab “Ya mending lawan arah pak, ketimbang lawan orang tua. Kualat”

“Kamu tau ndak, apa yang kamu lakukan itu bahaya!” Tegas Pak Cocol.

“Kalo saya mah yang penting ga lawan orang tua Pak. Kata guru saya, ndak ada yang lebih bahaya dari marahnya orang tua. Jadi selagi yang saya hadapi itu bukan orang tua, yaa gass.”

“Malah bawa-bawa orang tua segala lagi. Yaudah, mana SIM kamu?”

“Ini pak!” Emen menyodorkan kartunya.

“Surat Izin Merokok?. Bukan ini maksud saya!”

“Yaa saya punyanya itu kok Pak”

“Kamu, belum punya SIM berani-beraninya keluar!” Pak Cocol semakin marah.

“Ya gimana lagi pak. Soalnya kalau keluar naik haji Saya belum mampu Pak.”

“Astaghfirullah, kamu ini makin kurang ajar yahh”

Padahal Pak Cocol baru saja berantem dengan istrinya. Sebab itu, ia memilih keluar untuk sekedar meringankan beban. Namun apa daya, dia malah bertemu dengan pembuat beban.

“Kamu tau! Saya baru ada masalah, sekarang saya mau cari mangsa buat asupan. Dan kamu malah semakin membuat saya marah. Sudahlah, sana kau pergi! Sebelum kamu saya makan!”

“Wuuhh.. Dasar serigala bertubuh gajah, sukanya cari mangsa!”

“Hrrrrrr… Sana kau pergi! Aaauuuuuu.”

Oleh: Iwan Nur

Sumber gambar: PWNU JATIM

About Post Author

elmahrusy16

Elmahrusy Media Merupakan Wadah literasi dan jurnalistik bagi santri, alumni dan pemerhati Pondok Pesantren Lirboyo HM Al-Mahrusiyah
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like