web analytics

Fanatik

Fanatik
0 0
Read Time:5 Minute, 15 Second

“Gantian, dong!”

“Antri.”

“Lah, haus!”

Seperti itu, setiap kenteng pulang berbunyi. Setelah Mustahiq mencukupkan pelajaran, beranjak keluar, dan grubuk-grubuk. Ricuh dan selalu. Air di gelas itu jadi incaran para siswa sekaligus santri. Berkah, katanya.

Sudah menjadi kebiasaan di Pondok Pesantren, tempat ladang ilmu dan barokah. Dengan berbagai macam cara dan kesempatan, para santri begitu jeli akan celah-celah itu. Contoh saja dalam Madrasah Diniyah atau madin. Di sana bukan hanya tempat mendapatkan ilmu sesuai jadwal yang ditentukan madrasah. Bukan hanya ilmu dari Mustahiq atau Ustadz yang mengajar dengan menjelaskan penuh ikhlas. Santri juga butuh barokahnya.

Seperti biasa, dalam Madrasah Diniyah ada beragam banyak kelas tingkat dan masing-masing kelas tentu ada struktur kepengurusan yang telah ditetapkan secara mufakat. Ada yang namanya rois pelajaran yang bertugas mengulang dan menjelaskan pelajaran sebelumnya kepada teman-teman dan di hadapan kelas. Ia juga bertugas memimpin diskusi. Satu orang rois diamanahi satu kitab pelajaran.

Baca Juga: TJANGKIR

Ada yang menjadi ketua kelas. Bertugas mengkoordinir kelas. Baik untuk hal internal dan eksternal. Nanti juga ada bawahannya seperti wakil, bendahara, sekretaris, dan sarpras atau sarana prasarana yang terbagi menjadi beberapa bagian; tim bawa spidol dan penghapus, tim bawa sorban dan menggelarnya di meja Mustahiq, tim sejadah dan bantal untuk Mustahiq saat di luar ruangan, dan tim pembawa air dengan gelas dan tutupnya yang sudah disediakan. Diletakan di Meja Mustahiq. Itu semua adalah ladang barokah bagi mereka. Lita’zhimil Ustadz.

Dan berebut air dari gelas Mustahiq setelah pelajaran selesai dan beliau meninggalkan kelas adalah suatu barokah yang ditunggu-tunggu. Barokahnya bisa langsung dirasakan tenggorokan. Segar. Makanya satu gelas air itu menjadi rebutan satu kelas. Bisa dianggap ajang perlombaan. Mereka begitu berhasrat mendapatkan sebab barokah, atau memang benar-benar haus. Tak tau lah.

Untuk minum, kami anggap bonus. Karena memang tujuan penyediaan air di meja Mustahiq adalah tulus asli bentuk ta’zhim murid pada gurunya. Begitu pun sorban, sejadah, juga empuk bantal. Bukankah untuk ilmu manfaatbarokah, santri harus Li Ta’zhimil Ilmi Wa Ahlihi? Bukankah seperti itu yang disampaikan Syekh Zarnuji dalam kitab Ta’limul Muta’alimnya?

Tapi, ada sesuatu yang aneh. Setiap air yang disuguhkan di atas meja itu tidak pernah beliau minum. Dari awal pertemuan. Meskipun seteguk. Walaupun itu adalah suatu anugerah karena jatah air di gelas utuh dan bisa berbagi teguk di mulut gelas itudengan rata. Dahaga memang hilang, tapi barokah? Tidak ada kontak fisik antara beliau dengan air itu! Beliau tidak meminumnya. Kenapa?

Aku sebagai ketua kelas sangat memperhatikan itu. Lalu, tak lupa berkoordinasi dengan sarpras bidang perairan dan perminuman.

“Padahal gelas selalu kucuci dan airnya terlihat jernih” Belanya.

“Aku tau, beliau itu sedikit haus saat menjelaskan suatu pelajaran. Aslinya beliau itu haus. Aku bisa menangkapnyadari cara dan suara beliau ketika batuk. Itu adalah batuk-batuk tenggorokan butuh air. Seret. Tapi, kenapa beliau tidak meminumnya?” Bingungku.

“Mungkin beliau sedang puasa!”

“Puasa kok malam!” Timpalku kesal. Ada-ada saja.

Ditengah obrolan penting itu. Rapat intensif antara ketua dan bidangnya dengan kasus yang serius. Berdua. Sembunyi-sembunyi. Ini urgent. Perintah langsung dari ketua.

Baca Juga: Sebelum Selesai

Setelah berpikir keras dan lama, tiba-tiba saja kepalaku timbul lampu bercahaya terang. Ide. Cermelang.

“Mungkin begini.”

Sarpras itu terlonjak, lalu bersiap. Menyimak seksama.

“Selama ini kan kamu hanya menyediakan beliau minum berupa air putih. Siapa tau beliau pengen yang berasa. Manis-manis. Bagaimana kalau besok air putih itu diganti dengan teh manis.”

“Wah, bagus juga ide kamu.”

Baca Juga: Onthel

Aku mengangguk. Ia mengangguk. Kami mengangguk. Saling mengangguk. Angguk-anggukan. Guk-guk. Bertatap. Lalu, senyum-senyum sendiri. Berdua.

 

***

 

Malam minggu adalah jadwalnya Alfiyah. Setelah pusing dengan tamrin Fathul Muin, para siswa sekaligus santri itu harus berhadapan dengan pelajaran nazhom 1002 bait itu.

“Kalam menurut Ulama Nahwu adalah lafaz yang berfaidah, contohnya seperti Istaqim. Sedangkan isim, fiil, dan huruf dinamakan kalim!”

Kami menyimak dengan seksama penjelasan demi penjelasan dari beliau. Dari 7 bait bab kalam, beliau menyampaikan dengan runtut dan rinci. Semua materi yang berkaitan dengan kalam, beliau jelaskan. Juga dari berbagai kitab-kitab lainnya. Berusaha mencari penjelasan yang lain.

Aku begitu memperhatikan. Extra. Bukan hanya materi pelajaran yang kufokus. Tapi, gelas itu. Teh manis. Berharap diminum.

Bermenit-menit berlalu menciptakan anggukan paham siswa sekaligus santri dari pemaparan panjang beliau mengenai Alfiyah.

“Uhuk..Uhuk..”

Baca Juga: Is’al!

Suara batuk terdengar meletup. Aku sumringah. Berharap teh manis itu diminum. Beliau lantas menghentikan penjelesannya dan beranjak ke mejanya. Duduk. Gelas yang berisi teh manis itu dalam tatapan pupil mata beliau. Tangan kannanya bergerak maju. Semakin dekat. Semakin dekat. Mataku tak berkedip berusaha mendapat momen itu. Tangan itu bergerak maju dan.. meraih handphonenya. Melihat jam dan menutup kitab.

“Sampai sini dulu pertemuan kita. Semoga manfaat barokah, Alfatihah.” Lantas beranjak.

“Gedubrak.”

“Plak!”

“Krek.”

“Sraak.”

The manis itu dihakimi masal. Digilir. Pasrah. Tak berdaya. Lenyap.

 

***

 

Baca Juga: Terang

Aku tampak lebih semangat kali ini. Begitu juga dengan sarpras bidang perairan dan perminuman. Kami sudah memutar otak untuk ini. Sudah mentok. Jurus terakhir. Pasti berhasil. Brown Sugar Milk Boba With Popping Toping. Ya, boba. Minuman itu yang teratas saat kami search di internet. Para teman yang lain kaget bukan kepalang. Apalagi barisan para pencinta barokah itu, kaget pakai Tho’!

“Ini benar?”

“Kesambet apa, nih?”

“Sarpras kita ada kemajuan.”

“Ini adalah ajang lomba yang sesungguhnya.”

Komentar netizen beragam. Sarpras terus dicerca dengan berbagai macam pertanyaan. Seolah habis menang Liga Champion. Ia gelagapan. Aku tersenyum.

Belum sempat ia menjawab semua pertanyaan itu, kenteng tanda masuk berbunyi. Nyaring. Pelajarannya adalah Fathul Muin. Semoga berhasil.

“Juga disunahkan adzan di luar sholat. Seperti azan di telinga orang yang kesusahan, marah-marah, hewan yang tidak jinak, saat kebakaran, kesurupan, dan adzan di telinganya bayi yang baru dilahirkan.” Terang beliau saat menjelaskan Fathul Muin fasal adzan dan iqomah.

Para siswa sekaligus santri itu tampak seperti biasa, memperhatikan. Kali ini lebih. Boba itu juga perlu diperhatikan.

Saat telah cukup pelajaran yang diisi dengan memaknai kitab dan menjelaskannya, kenteng tanda pulang berbunyi. Semua mata tertuju ke depan. Pada beliau. Sesekali batuk itu terdengar. Apakah boba itu akan diminum? Embun pada gelas di meja itu pun tak tau.

“Wah, boba. Kesukaan saya!”

Semua mata tersadarkan. Beliau mulai bereaksi. Aku, juga sarpras tersenyum senang. Sepertinya berhasil. Semoga.

“Siapa sarprasnya?” Tanya beliau. Sang Sarpras mengangkat tangan.

Tak lama tangan beliau terangkat dengan gelas itu. Aku semakin deg-degan saja. Garis finish di depan mata. Gelas itu mendekat ke mulut. Dan,

“Tapi, saya Menchester United!”

Menurunkan gelas itu, lalu beranjak.

Gelas itu bergambar Barcelona dan tetap grubuk-grubuk.

***

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like