Kediri, Elmahrusy Media.
Perhelatan acara takzhim Haul KH. Imam Yahya Mahrus selalu menjadi momentum yang spesial. Tidak hanya bagi para masyayikh dan dzuriyah, tapi terkhusus juga bagi para santri dan alumni seluruh keluarga besar Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyah.
Momentum haul menjadi hari raya penghormatan sekaligus pelepasan rindu seorang murid pada gurunya, santri pada kiainya. Sekaligus men-tadaburi setiap uswah dan nilai pengajaran serta akhlak, tak terkecuali napak tilas nostalgia para alumni dengan pondok dan kawan lamanya.
Haul selalu menjadi momentum yang semarak.
Tidak terkecuali dengan Haul KH. Imam Yahya Mahrus yang pada tahun ini telah menginjak edisi ke-15 yang digelar pada Jum’at (07/08), di Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyah 3 Ngampel.
Sungguh kebahagiaan dan keistimewaan yang tiada tara, dari setiap alim ulama yang turut hadir takzim haul di setiap tahunnya, pada edisi kali ini KH. Ahmad Bahauddin Nursalim berkesempatan hadir takzim haul sekaligus memberikan dawuh dalam sesi mauizhotul hasanah.
Gus Baha yang terkenal sebagai ulama yang tidak hanya alim terutama dalam pembahasan kitab kuning dan ulumul Qur’an, tapi beliau juga terkenal sebagai kiai dengan cara penyampainnya yang humoris. Hal itu pula yang membuat apa yang beliau sampaikan begitu terasa segar.
Terlebih Gus Baha berada satu panggung dengan Gus Reza. Chemistry dan ukhwah itu kian erat. Terlebih dalam hal keilmuan dan candaan. Gus Baha sampai menyebut Gus Reza itu sebagai ‘rival’ dalam konteks candaan.
“Niki sing bade sare, monggo. Karena kenangan terbaik saya dengerin ngaji Gus Reza itu (Gus Reza bilang) ‘Ngaji itu raudhotul jannah. Sing jenenge pertamanan niku enake yo nggo turu’. Niku kulo kenang tenan. Aliran sesate kulo kenang betul.” Ucap beliau mengawali dengan guyonan.
Selepasnya, Gus Baha juga menceritakan tentang bagaimana Yai Imam saat mondok di Sarang, Rembang.
“Gus Imam, abahnya Gus Reza itu sering teng nggone kulo, mergi riyen teng Sarang. Dari zaman Mbah Zubair sampai Mbah Maimoen. Senengane niku golek manuk. Manuk perkutut. Pokok senengane dolan Gus Imam niku.”
“Gus Imam itu ikut berjasa, niki kersane Nyai Zakiyah Miskiyah perso, (Yai Imam) termasuk sing dados sebab ipun Pondok Al Anwar. Riyen mbah Zubair itu miyayi tapi nggeh kepengen Mbah Moen niku dadi kiai. Mulane Gus Imam ben manggon Pondok Al Anwar. Riyen asmene taseh pohama. Tiap wangsul teng kidul kaleh Mbah Zubair kalian wangsul maleh teng ler. Istilahe riyen ler dan kidul. Akhire di kenang. Gus Imam dikenang termasuk dados sebabe pondok Mbah Maimoen.”
Memang dalam beberapa keterangan sejarah dikatakan, bahwa Yai Imam adalah santri pertama yang mondok di Al Anwar, Sarang. Sebab Yai Imam yang ngaji ke Mbah Maimoen, akhirnya menyebabkan Mbah Moen mendirikan Pondok Al Anwar. Begitu pula apa yang disampaikan Gus Baha, dari apa yang disampaikan Ibu Nyai Zakiyah Miskiyah.
“Untunge Gus Reza mboten mondok (di) Sarang, menowo dikenang pondok Sarang rodo masalah.” Lanjut Gus Baha menambahi.
Kemudian Gus Baha juga membahas perihal perbedaan metode pengajaran Mbah Kiai Abdul Karim dengan Mbah Kiai Zubair, terutama perihal pemberian dhomir dalam memaknai kitab.
Pembahasan kian meluas dan berbobot hingga sampai pada penjelasan Qur’an, tafsir, dan sejarah kenabian.
Acara ditutup dengan do’a, Yai An’im mempersilahkan Gus Baha untuk memimpin do’a.