web analytics

Gus Melvien Sampaikan Kisah Awal Mula Yai Imam Mondok Di Sarang

ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">
0 0
Read Time:1 Minute, 23 Second

Kediri, Elmahrusy Media. Dalam rangka memperingati Haul Almarhum Almaghfurlan KH. Imam Yahya Mahrus yang ke 12 Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah menggelar Pembacaan Manaqib Syeikh Abdul Qodir secara serentak di asrama masing-masing pada Hari Selasa (05/09) malam. Begitu juga di Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah III, seluruh santri dengan khusyu menghadiri pembacaan Manaqib di Masjid, Hadir juga KH. Reza Ahmad Zahid, KH. Melvien Zainul Asyiqien serta Agus H. Nabil Ali Ustman mewakili Dzuriyah.

KH. Melvien Zainul Asyiqien berkesempatan memberikan keterangan mengenai riwayat singkat dari Yai Imam, terkait kelahiran beliau hingga tempat lahir beliau,

“Ada 2 versi terkait kelahiran Yai Imam, menurut KH.Maimoen Zubair, beliau lahir pada tahun  1948, sedangkan dari keterangan KH. Idris Marzuqi pada tahun 1949. Untuk tempatnya juga ada 2 keterangan, di daerah Mojokudi dan ndalem sepuh KH. Abdul Karim. Terdapat banyak riwayat ini tidak terlepas dari ramai-ramainya terdapat ancaman penajajah dan situasi yang tidak kondusif pada saat Yai Imam lahir.” Tutur Beliau.

Gus Melvien juga menjelaskan mengenai hikayah Yai Imam ketika memutuskan untuk belajar dibawah asuhan KH. Maimoen Zubair,

“Sekitar awal 1970 an, Yai Imam mengantarkan KH. Mahrus Aly ke Surabaya, ditengah perjalanan, sekitar daerah Mojoagung, beliau mendengar satu suara tanpa rupa, “kamu harus mondok di sarang” dengan syarat tidak boleh berkata terhadap siapa-siapa. Setelah selesai mengantarkan pulang KH. Mahrus Aly, beliau pagi-pagi langsung berangkat, selama satu bulan KH. Mahrus Aly mencari Yai Imam tidak ketemu-ketemu.” Jelas Gus Melvien.

Dari kisah Yai Imam yang telah diutarakan, Gus Melvien memberikan ibrah bagi kita semua, terutama jika masih menuntut ilmu di Pondok Pesantren untuk tidak selalu menuntut syarat dan selalu ikhlas dalam menjalaninya seperti yang telah dicontohkan Yai Imam.

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Musabaqah Hifdzil Quran Pembuka Lomba Harlah Asrama Darur Rosyidah Ke-24

Musabaqah Hifdzil Quran Pembuka Lomba Harlah Asrama Darur Rosyidah Ke-24

Grand Opening Harlah 24 Pondok Pesantren Darur Rosyidah HM Al-Mahrusiyah Lirboyo

Grand Opening Harlah 24 Pondok Pesantren Darur Rosyidah HM Al-Mahrusiyah Lirboyo

Memperingati Haul Ke-41 Ibu Nyai Zainab, Asrama Darsyi dan Darzen Menggelar Pembacaan Manaqib dan Maulid Diba’

Memperingati Haul Ke-41 Ibu Nyai Zainab, Asrama Darsyi dan Darzen Menggelar Pembacaan Manaqib dan Maulid Diba’

Haul Nyai Hj. Zainab di Asrama Al-Misky

Haul Nyai Hj. Zainab di Asrama Al-Misky

“Membaca Untuk Menulis” di Pendalaman Materi Vol.1

“Membaca Untuk Menulis” di Pendalaman Materi Vol.1

Sambut Hari Santri, Asrama Darsyi Gelar Pentas Seni Santri

Sambut Hari Santri, Asrama Darsyi Gelar Pentas Seni Santri