web analytics

Harmonis dan Romantis-nya Kehidupan Sang Perintis ﷺ

Harmonis dan Romantis-nya Kehidupan Sang Perintis ﷺ
0 0
Read Time:4 Minute, 29 Second

Nabi Muhammad ﷺ bak purnama. Baik perawakan maupun perangai. Banyak yang sudah Nabi contohkan pada kita, mulai dari ucapan, perilaku, hingga ketetapan. Memang tak lain dan tak bukan, tujuan diutusnya Nabi adalah sebagai rahmatan lil alamin juga sebagai uswatun hasanah.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab ayat 21).

Semua perilaku Nabi laksana Al-Qur’an berjalan. Begitu indah dan sempurnanya akhlak Beliau, sampai sulit kata yang keluar untuk menggambarkan semua itu. Betapa tidak? Bukankah gelar Al-Amin telah beliau dapatkan di umur yang masih belia karena profesionalnya Beliau saat berdagang? Masyarakat Mekah mengakui itu.

Akhlak Beliau merupakan hal yang tak perlu dibicarakan lagi keindahannya. Hanya saja cukup bagi kita untuk mencontohnya secara perlahan, hingga tak hanya kagum lalu mengelu-ngelu. Sudah dibilang, Nabi merupakan uswatun hasanah bagi kita, selaku umat yang dirindukan.

Termasuk akhlak Beliau pada keluarganya. Keharmonisan selaku tampak dari keluarga Beliau. Baik pada para Ummahatul Mukminin, anak, menantu, hingga cucu-cucu. Meski dalam kesederhanaan, Beliau tak pernah sama sekali mengeluh. Hidup dengan segenap cinta dari para Ummahatul Mukminin; Saudah binti Zam’ah, Aisyah binti Abi Bakar, Hafsah binti Umar bin Khattab, Ummu Salamah, Ummu Salamah, Ummu Habibah, Zainab binti Jahsyi, Juwairiyah binti al-Harits, Zainab binti Khuzaimah, Maimunah binti al-Harits, Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab, Mariyah al-Qibtiyyah. Semua itu sesudah ditinggal wafat kasih cinta Sayyidah Khadijah binti Khuwailid, yang telah melahirkan 6 buah hati.

Para Ummahatul Mukminin sangat bersyukur dan bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga Nabi. Mungkin timbul pertanyaan di benak kita, ‘Bagaimana cara Nabi bersikap adil?’. Tentu Nabi adalah seorang yang paling adil. Bukankah kita mengetahui kisah Nabi saat peletakan Hajar Aswad yang sangat bijaksana menggunakan 4 ujung surban? Begitu pula dengan para istri-istri beliau.

Dikisahkan, suatu hari para Ummahatul Mukminin berkumpul di hadapan Nabi. Mereka meminta keadilan mengenai, “Siapa diantara kami yang paling Engkau cintai?” Nabi begitu terkejut mendengar pertanyaan salah satu istrinya, lalu tersenyum tulus. “Baik, tapi tidak aku jawab sekarang dan kembalilah esok!” Ucap Nabi. Lalu para Istri Nabi itu kembali dengan menyimpan penasaran mendalam di hatinya.

Tanpa sepengetahuan Istri Nabi satu dengan istri yang lainnya, Nabi memasuki setiap rumah dari mereka. Nabi dengan sepenuh hati memberikan cincin dan cintanya dengan pasti pada setiap istri yang Beliau masuki rumahnya. Mereka hanya senang dan takt ahu bahwa Nabi juga memasuki rumah dan memberikan cincin pada istri yang lain.

Tibalah pertemuan yang mereka janjikan itu.

“Baiklah, aku akan memberitahu siapa diantara kalian yang paling aku cintai.”

Semua wajah dari para Ummahatul Mukminin itu terlihat sangat penasaran. Berharap mereka yang dituju dari pertanyaan yang diaju. Nabi meneruskan ucapannya.

“Istri yang paling Aku cintai adalah ia yang Aku beri cincin.” Seyum mereka merekah. Wajahnya cerah. Akhlak Nabi sungguh indah. Allahumma Sholi Ala Sayyidina Muhammad.

Cukup sulit menghadapi para Istri dengan sifat yang berbeda. Nabi juga merasakan itu semua. Tapi, sifat Fathonah Nabi selalu menjadi jalan keluar dari segala penghalang. Kenapa harus risau? Bukan semua ini atas ridho Allah? Bahkan, ucapan

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى

“Dan tidak pula berucap (tentang Al-Qur’an dan penjelasannya) berdasarkan hawa nafsu(-nya).” (QS. An-Najm ayat 3).

Tak sulit bagi untuk menciptakan keluarga yang harmonis, karena Nabi juga merupakan seorang suami yang romantis. Terutama pada Sang Humairo, Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar Sidiq. Banyak hal romantis antara Nabi dan Sayyidah Aisyah yang mungkin saja membuat cemburu para Ummahatul Mukminin, juga pasangan suami istri di luar sana.

Selain Humairo, ternyata Nabi juga memiliki panggilan cinta yang lain pada Sayyidah Aisyah. Aisy atau Uwaisy adalah penggalan dari nama Aisyah yang merupakan nama kecilnya juga. Bahkan saat marah, Nabi pun selalu menenangkannya dengan tenang,

“Ketika Aisyah marah, maka Nabi SAW mencubit hidungnya dan berkata, “Wahai ‘Uwaisy (panggilan kecil Aisyah), katakanlah, ‘Ya Allah, Tuhan Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah kemarahan di hatiku dan selamatkanlah aku dari fitnah yang menyesatkan.”

Bahkan dalam hal makan dan minumpun selalu, Nabi pun selalu menciptakan kesan romantis,

”Terkadang Rasulullah disuguhkan sebuah wadah (air) kepadanya, kemudian aku minum dari wadah itu sedangkan aku dalam keadaan haid. Lantas Rasulullah mengambil wadah tersebut dan meletakkan mulutnya di bekas tempat minumku. Terkadang aku mengambil tulang (yang ada sedikit dagingnya) kemudian memakan bagian darinya, lantas Rasulullah mengambilnya dan meletakkan mulutnya di bekas mulutku.” (HR Ahmad)

Meskipun Sayyidah Aisyah takan mudah menyembunyikan rasa cemburunya pada sosok Khadijah binti Khuwailid, tapi ia merasa paling beruntung. Selain terpilihnya menjadi salah satu bagian dari Ummahatul Mukminin dan menjadi satu-stunya istri yang dinikahkan Beliau dalam kondisi perawan, ia, Sayyidah Asiyah bisa mencinta, menggenggam, dan mengecupnya sampai akhir hayat. Nabi menghembuskan nafas terkhirnya saat berada dipangkuanya. Itulah saat dimana cinta Sang Humairo terbasuh air mata kesedihan yang sama sekali tak bisa ia tuntut untuk segar ataupun manis.

Kisah cinta Nabi abadi dengan meninggalkan semua kenang bagi umat. Mengajarkan banyak hal dalam hadits juga semua khazanah ilmu dalam agama ini. Semoga kita bisa menjadikan Nabi sebagai tauladan dengan menjalankan semua ajaran dan kebiasaan. Meskipun dengan perlahan.

 

***

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like