web analytics

Jaburan: Ritual Budaya Nusantara

Jaburan: Ritual Budaya Nusantara
Tim Pers Mahrusy sedang merayakan syukuran
0 0
Read Time:3 Minute, 57 Second

Banyak budaya yang tumbuh secara natural dalam diri santri, Jaburan misalnya. Jaburan atau bahasa gaulnya traktiran adalah salah satu tradisi yang sudah menjadi adat di pesantren manapun. Ini riil, sampel saya ambil dari pesantren yang kini tengah saya tempati, yaitu Pondok Pesantren Putri Lirboyo Al-Mahrusiyah di pondok yang saya tempati dulu juga sering sekali mendapatkan Jaburan.

Biasanya jaburan para santri beragam, mulai dari memesan grabfooddari rumah dikirim ke pondok, masak mie instan dan makan di nampan, makan jajanan sambangan, atau bahkan hanya secuil terang bulan (martabak manis), Hehe ngeness. Namun, di Mahrusiyah ini Jaburan sudah menjadi tradisi yang tak lain esensinya yaitu untuk menjaga solidaritas, kepedulian, kekompakan dan keakraban antar sesama teman. Nah, tradisi inilah yang menjawab tantangan budaya bangsa yang mulai luntur.

Lain halnya Jaburan di desa saya biasanya ada ketika bulan ramadhan. Bulan ramadhan selalu menawarkan suasana, nuansa dan aroma yang selalu bahagia, sambil tadarusan Al-Quran dan menunggu bedug maghrib tiba, banyak sekali Jaburanyang disediakan masyarakat untuk anak-anak, tapi biasanya Jaburan juga dilakukan giliran dari tiap masing-masing rumah.

Bagi para jamaah maiyah atau pengidola Emha Ainun Nadjib atau biasa dipanggil Cak Nun jika baca tulisan saya pasti teringat dengan tulisan-tulisan dalam website kenduri cinta dengan judul rubrik JABURAN. Dalam rubrik ini Cak Nun yang cenderung mengangkat nilai-nilai dan hikmah puasa.

Jaburan di tulisan Cak Nun menggambarkan betapa bahagia orang zaman dulu menyelenggarakan tradisi yang biasanya di laksanakan di surau atau mushala kecil, setelah sholat tarawih selesai kegiatan bagi-bagi makanan kepada seluruh jamaah sholat tarawih khususnya anak-anak, disini warga digilir untuk bershodaqoh berupa makanan ringan seperti krupuk rambak, lenteng, karak, roti bolu, tahu asin dll. Namun sangat ironi, sayapun dulu menjadi jamaah pengumpul Jaburan.

Biasanya saya dan teman-teman ikut sholat tarawih saat awal-awal bulan romadhon saja, setelah berjalan lima hari kita hanya berangkat, ikut sholat dua rokaat lanjut mainan kembang api dan ketika tarawih sudah rokaat-rokaat terakhir saya dan teman-teman kembali ke masjid untuk berebut Jaburan, hehe.

Ritual budaya nusantara sangat merespon tergerusnya budaya bangsa, Jaburan menjadi bagian dari sepaket budaya bangsa. Namun ketika budaya mulai luntur akibat konflik pandemi sekarang seharusnya ada cara yang pas untuk menggelorakan kembali tradisi bangsa.

Dalam agama islam jaburan bisa dikatakan shodaqoh atau sedekah. Sedekah menurut KBBI berarti pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya, di luar kewajiban zakat dan zakat fitrah sesuai dengan kemampuan pemberi. Seperti dalam QS: Al-Baqarah ayat 245:
مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗٓ اَضْعَافًا كَثِيْرَةً ۗوَاللّٰهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۣطُۖ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

“Barang siapa yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepda-Nya-lah kamu dikembalikan.”

Melansir dari situs resmi Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, kebudayaan memang memegang peran penting dalam memajukan bangsa. Di tengah era peradaban dunia yang semakin ketat, budaya menjadi salah satu investasi yang mampu membangun masa depan bangsa.

Menurut Retno Susilowati Kolumnis, Pemerhati Pendidikan Dan Peneliti Public Sphere Center (Puspec) Bangsa ini harus menyadari betapa akar-akar budaya kita mulai lemah dan meranggas, dengan demikian, agenda besar kita bersama adalah menghidupkan kembali pesan-pesan kearifan lokal yang biasanya tersaji dalam tradisi hidup sehari-hari, dalam mitologi, dalam sastra yang indah, dalam bentuk ritual ritual penghormatan leluhur atau upacara ada, dalam wujud nilai-nilai simbolik bentuk rumah, dalam bahasa dan seni budaya untuk selanjutnya dimanisfetasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kita bahkan percaya bahwa ketika sumber-sumber kearifan lokal tersebut bisa hidup berkembang lagi, maka budaya dan karakter bangsa ini sebagai bangsa yang kuat dan tangguh akan kembali terlihat. Tercerabutnya nilai-nilai kearifan lokal di kalangan generasi muda yang terjadi hari ini sesungguhnya harus membuka mata kita akan pentingnya dihidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal yang ada di masyarakat. Nilai-nilai kearifan lokal tersebut bisa dijadikan pegangan, tali pengikat, sebagai filter, di tengah ancaman kebersamaan, ancaman intoleransi, korupsi serta derasnya arus modernitas yang membawa anak muda kita ke dalam pilihan pragmatis, hedon dan profan.

Jaburan sangat strategis dimulai dari diri sendiri untuk menjaga kebersamaan, solidaritas, dan bersosialisasi dengan teman. Apalagi untuk menyambut Hari Raya Idul Adha seperti sekarang ini, karena beersedekah tak harus saat bulan muharram atau ramadhan saja, setiap hari bersedekah juga disunahkan. Di pesantren, teman menjadi elemen terpenting bagi kita dibandingkan dengan keluarga yang jauh. Menjaga teman hakikatnya menjaga persaudaraan, kemanusiaan, dan keutuhan bangsa. Lalu kapan kita akan serius jaburan sama teman? ,-

Oleh: Laelizakiaa_

 

About Post Author

elmahrusy16

Elmahrusy Media Merupakan Wadah literasi dan jurnalistik bagi santri, alumni dan pemerhati Pondok Pesantren Lirboyo HM Al-Mahrusiyah
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like