web analytics

Jangan Biarkan Kutersesat

Jangan Biarkan Kutersesat
Ilustrasi tersesat
0 0
Read Time:5 Minute, 35 Second

oleh Annisa Mf

‘’Tasya! Di belakangmu. Seru Sandra yang kemudian melempar sebuah batu pada lelaki yang akan menyerang Tasya, kawannya dari belakang, ‘’makasih San! ‘’ balas Tasya setelah berhasil lolos dari ancaman tadi. Kini mereka anak-anak SMA Maximes tengah dalam pertempuran sengit melawan SMA Gressel. Dengan banyaknya pertarungan handal, Maximes dapat dengan mudah mengalahkan Gressel.

Tidak ada sekolah manapun yang dapat mengalahkan Maximes, setelah seorang Annisa Gesandra memimpin geng Maxim. ‘’Bos, kita menang gampang nih, Gressel mah gak ada apa-apanya dibanding yang kemaren’’ lapor Gerry anggota Maxim. Sandra yang tengah merokok hanya diam tak ingin berkomentar.

‘’Oke guys, hari ini gua ingin traktir kalian semua makan bakso bang Asep’’. Ajak Branon pada kawan-kawannya yang berjumlah sekitar 25 anak, membuat bersorak kegirangan. Namun beda halnya dengan Sandra, yang tetap diam membisu. ‘’San!, lo ikut kan?’’tanya Tasya padanya. Akan tetapi , Sandra malah menyambar tas ranselnya dan melangkah pergi menjauh. ‘’Kalian aja, aku mau pulang’’. Ujarnya

Sebelum meneruskan langkah kaki menuju motor ninja miliknya.
Sesampainya di rumah, kedatangan Sandra di sambut dengan lantunan ayat Al-Qur’an yang sedang di lafalkan oleh sang ummik. Tanpa mengucap salam , Sandra masuk ke dalam rumah dan berjalan dengan tenang melawati ruang tamu, tempat di mana ummik berada dengan Al-Qur’an yang selalu berada dalam genggaman. Ummik sendiri yang tengah fokus mendalami bacaanya sampai tak sadar akan kehadiran putri tunggalnya itu.
Di dalam kamar, Sandra langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur miliknya, setelah seharian merasa lelah fisik dan batinnya. Kegiatan sehari-harinnya di sekolah selalu di isi dengan adu fisik, meskipun begitu, belum juga ada yang bisa mengalahkan nilai- nilainya hingga saat ini. Sedangkan dalam rumahnya, ketidakhadiran keluarga yang lengkap sering membuanya kesepian. Abahnya telah pergi saat dirinya masih belita, sedang ummik sibuk mengurus dan mengembangkan semua hal yang di dinggalkan oleh abahnya dahulu, membuatnya menjadi pribadi yang tertutup, dan tidak peduli akan sekitar.
‘’Ceklek….. ummik membuka pintu kamar Sandra dengan perlahan, selepas merampungkan deresannya. Terlihat Sandra yang tengah pulas tertidur di atas kasur, masih dengan seragam lengkap yang masih melekat. Di dekatinya putrinya itu, di usap pucuk kepalanya yang belum juga tertutup jilbab di usianya yang sekarang.
‘’Nak, bangun! Shalat dzuhur dulu’’. Panggil ummik dengan lembut seraya meneruskan belaiannya. Sandra yang merasa terusik dalam tidurnya, perlahan membuka mata. ‘’Dzuhuran dulu ya..’’. Pinta ummik sembari menatap  mata putrinya, namun Sandra kembali menutup mata tuk menghindari tatapan sang ummik. Sandra kemudian bangkit dan melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan ummik sendirian. Ummik menatap kepergian Sandra dalam diam enggan sorotan yang tak dapat di artikan.
Selepas sholat ashar munfarid di kamarnya, ummik memanggilnya keruang keluarga. Sesampainya di sana, Sandra duduk di hadapan sang ummik. Seketika ruangan ruangan yang besar dan megah itu terasa sangatlah hampa. ‘’Nak , besok ummik mau pergi keluar kota, untuk mengantar jama’ah ta’lim ‘’ ujar ummik memuai pembicaran. Tak biasanya ummik pamit seperti ini, pikir Sandra. Namun Sandra tetap diam. ‘’Ummik pesen sama kamu, jaga diri baik-baik saat ummik gak ada, jaga kesehatan. Jangan sering telat makan, kasihan perut kamu, jangan merokok, jangan berantem di sekolah, di manapun itu. Yang ramah sama orang, sopan santunnya dijaga. Dan yang paling ummik nantikan adalah saat kamu mau menutup kepalamu dengan jilbab, pasti cantik sekali bukan.’’
Sandra hanya diam mendengarkan tanpa ingin menyela. Semua yang dikatakan ummik adalah kebenaran yang ingin disimpannya sendiri, tanpa harus diketahui oleh ummik. ‘’Ummik tahu kamu mandiri, namun adakalanya kamu membutuhkan orang lain, sampingkanlah egomu saat bersma orang lain. Kuatkan hatimu saat menghadapi sebuah masalah , masalah ada untuk dihadapi buan untuk di hindari. Dan yang terakhir ummik titip anak-anak saat ummik gak ada disini, belajarlah untuk mengambil tanggung jawabmu bukan malah melemparnya pada orang lain’’.
‘’Insyaallah mik.’’ Hanya jawaban itulah yang mampu Sandra berikan atas nasihat ummik kali ini. Mendengarnya ummik menghela napas berat. ‘’Kemarilah nak, ummik pengen peluk kamu.’’ Sontak Sandra langsung bangkit dari duduknya, Hmm.. Nanti aja ya mik.’’  Sandra menolak berlalu dengan cepat. Ummik yang mendapat penolakan dari putrinya itu merasa sedih dalam hatinnya.
Keesokan harinnya, Sandra bangun kesiangan. Meskipun sudah di bangunkan oleh ummik ia tetap aja menutup mata, tak ingin berpamitan dengan ummik pikirnya. Setelah ummik berangkat ia bergegas bersiap menuju sekolah, juga harus bersiap tuk melompat pagar belakang sekolah, jika ingin masuk kesekolah hari ini. Setelah melewati rintangan yang ada, sampailah ia di ruang kelasnya. Kedatangannya saat jam istirahat. Kini tengah di tunggu oleh segrombolan pria di depan bangkuanya. ‘’Bos!, si panjul minta duel nih, ngelawan bos katanya.’’ Kata si Gerry padanya.’’ Sandra terdiam, teringat akan kata-kata ummik kemaren sore.
Kring-kring… handphone milik Sandra bergetar di saku roknya. Saat di angkat terdengar suara dokter yang sedang memberi tahukan kondisi ummik yang tiba-tiba drop dan sedang berada di rumah sakit. ‘’Ger, lo urus tu si panjul, gua mau kerumah sakit.’’ Tanpa basa-basi Sandra langsung berlari menuju parkiran dan segera mengendarai motornya dan langsung menuju kerumah sakit dimana ummik di rawat. Sesampainya di rumah sakit, di saat Sandra melepas helm miliknya, sebuah selendang putih jatuh tepat di atas kepalanya,entah terbang dari mana, dan yang pasti kini selendang itu kini telah menutupi rambutnya yang di kucir satu. Tak mau ambil pusing dengan selendang itu, Sandra langsung mencari kamar yang di tempati oleh ummik. Setelah mengetahui tempatnya, Sandra langsung berlari menuju kamarnya, pikiran aneh-aneh telah merasuki otaknnya, namun ia tetap berusaha menenangkan pikirnnya.
Ketika Sandra membuka pintu, kerabat-kerabatnya langsung memadang kearah pintu, menyambutnya dengan tatapan iba. Terlihat di tangah ruangan, ummik tengah berbaring di atas kasur, dengan monitor disampingnya yang menunjukan segaris datar dengan bunyi panjang yang melengking.
Sandra masuk perlahan, air matanya jatuh. Perasaannya kini campur aduk. Ia harus tenang pikirnya, namun yang terjadi malah sebaliknya. Ia syok, lututnya lemas seketika, dan ia terjatuh sembari terus menatap wajah ummik yang teduh dengan mata yang tertutup rapat. Terukir guratan-guratan lelah di wajahnya yang mulai menua itu.
‘’Ummikkkkk…’’ Serunya, tangis sudah tak dapat ia bendung. Ia genggam tangan sang ummik erat-erat. ‘’Ummik jangan tinggalin Sandra sendiri, Sandra belum siap. Sandra udah lakuian apa yang ummik minta, Sandra gak berantem, gak ngrokok, dan Sandra juga udah make jilbab. Tengok mik, sandra pake jilbab. Ummik bilang pingin liat Sandra pake jilbab kan, buka mata ummik, ummikkkk…’’ Ia peluk ummik seperti yang di inginkan kemaren. Namun ia sudah terlambat. Ummik sudah menyusul ke alam yang berbeda.

Setelah acara pemakaman dan sebagainya. Sandra kini tengah berdiri di balkon rumahnya. Terlihat dari situ hamparan-hamparan gedung- gedung yang dihuni santrinya. Kini nama Sandra sudah lenyap yang ada hanyalah Annisa , Ning Annisa. Dengan gamis peach dan jilbab yang senada. Ia memandang langit dari balkonnya, Berharap agar abah dan ummiku bisa melihat pejuangan Annisa yang tengah belajar, menjadi pemimpin yang adil dan tangguh. Abah, do’akan putri kalian selalu ya..

TAMAT

 

Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like