web analytics

Kemerdekaan dan Peran Santri: Jejak yang Sering Terlupakan

0 0
Read Time:2 Minute, 31 Second

Pada tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia selalu merayakan hari kemerdekaan dengan penuh kegembiraan. Bendera merah putih berkibar di setiap sudut negeri, lomba-lomba rakyat digelar, dan upacara bendera menjadi adat tahunan yang mengingatkan kita pada perjuangan panjang para pahlawan. Namun di balik narasi besar tentang proklamasi 17 Agustus 1945, ada satu kelompok yang perannya kerap lupakan dari aktor  sejarah arus utama Indonesia yaitu;para santri dan kalangan pesantren.

Kemerdekaan Indonesia tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah buah dari perjuangan panjang berbagai elemen bangsa,kaum nasionalis sekuler, kalangan terpelajar, tokoh agama, hingga rakyat marjinal. Di antara elemen-elemen itu, dunia pesantren memiliki kontribusi yang sangat signifikan, meskipun sering kali hanya menjadi catatan kaki dalam buku-buku sejarah.

Salah satu sejarah yang paling monumental adalah lahirnya Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi ini menyerukan kewajiban berjihad mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan, sebagai respons atas kedatangan kembali pasukan Sekutu yang diboncengi NICA (Netherlands Indies Civil Administration).Maklumat ini menjadi salah satu pemantik semangat perlawanan rakyat Surabaya dalam pertempuran 10 November 1945, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Tanpa fatwa ini, sejarah mencatat bahwa semangat perlawanan rakyat mungkin tidak akan sedemikian membara.

Kaum santri, yang terdidik dalam tradisi keilmuan Islam klasik, ternyata tidak hanya piawai dalam ilmu fikih dan tasawuf, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan dan daya juang yang kuat. Konsep atau landasan hubbul wathan minal iman cinta tanah air sebagian dari iman yang di cetuskan oleh KH, Abdul Wahab Chasbulloh dan terus berkembang di lingkungan pesantren. Hingga menjadi landasan teologis yang menggerakkan mereka untuk turut angkat senjata. Semangat ini menunjukkan bahwa bagi santri, mempertahankan kemerdekaan bukan sekadar urusan politik semata, melainkan juga bagian dari panggilan agama untuk melindungi jiwa, harta, dan martabat bangsa dari penjajahan.

Banyak pesantren kala masa itu berubah fungsi menjadi markas perjuangan. Kiai-kiai memimpin laskar-laskar rakyat, sementara santri-santrinya turun ke medan pertempuran dengan bekal keberanian dan keyakinan spiritual yang kuat. Tokoh-tokoh seperti KH. Wahab Chasbullah, KH. Zainul Arifin, KH Mahrus ‘Aly dan banyak kiai lain di berbagai daerah turut memobilisasi massa untuk mempertahankan kedaulatan yang baru seumur jagung.

Peran santri dalam sejarah kemerdekaan ini penting untuk terus digaungkan, bukan sekadar untuk memberi pengakuan historis yang adil semata, tetapi juga untuk menegaskan bahwa nasionalisme dan keislaman di Indonesia bukanlah dua hal yang bertentangan. Justru sebaliknya, keduanya berjalan beriringan dan saling menguatkan. Pengakuan negara terhadap kontribusi ini pun akhirnya terwujud melalui penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, yang secara langsung merujuk pada momentum Resolusi Jihad tersebut.

Merayakan Hari Kemerdekaan atau HUT RI dengan mengingat peran santri bukan berarti menyisihkan peran kelomopok lain, melainkan melengkapi mozaik sejarah bangsa agar lebih utuh. Kemerdekaan Indonesia adalah hasil kerja kolektif dari berbagai kekuatan masyarakat dari kalangan terpelajar di kota hingga santri di pelosok pesantren. Dengan memahami kontribusi santri secara proporsional, generasi muda dapat mewarisi semangat perjuangan yang lebih utuh: bahwa cinta tanah air dan penghayatan agama bisa tumbuh subur dalam satu jiwa yang sama, sebagaimana telah dicontohkan oleh para santri pejuang di masa lalu.

 

 

About Post Author

Darul Said

Jurnalis Pesantren Berusaha menjadi yang terbaik, di antara yang baik "Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak".
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
el mahrusy id

Jurnalis Pesantren Berusaha menjadi yang terbaik, di antara yang baik "Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak".

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Menjaga Ta’aluq: Ikatan Hati Santri dan Orang Tua

Menjaga Ta’aluq: Ikatan Hati Santri dan Orang Tua

Tajdiddun Niat dan Pondok Pesantren

Tajdiddun Niat dan Pondok Pesantren

Budaya dan Pesantren

Budaya dan Pesantren

Peran Besar Budaya Dalam Dakwah Walisongo

Peran Besar Budaya Dalam Dakwah Walisongo

Kebesaran NU dan Dedikasi Para Pendiri untuk Bangsa

Kebesaran NU dan Dedikasi Para Pendiri untuk Bangsa

Saya Ingin Menjadi Seperti Pak Tohari

Saya Ingin Menjadi Seperti Pak Tohari