web analytics

Kesunahan-Kesunahan Berwudhu

Kesunahan-Kesunahan Berwudhu
0 0
Read Time:5 Minute, 13 Second

Tidak diterima sholatnya orang yang tidak berwudhu. Karena memang, wudhu merupakan syarat sholat. Dari sekian hal tentang wudhu yang sudah dibahas, kali ini kita akan membahas tentang sunah-sunah wudhu.

Hal ini perlu diperhatikan. Meski hanya sunah, ini merupakan fudlah seseorang dalam meraih ganjaran dan ridho Allah. Bahkan Nabi pernah bersabda,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَ هُمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Aku tinggalkan dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku, serta keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya mendatangiku di Telaga (di Surga).”

Juga potongan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Majah, bahwasanya فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ   “Maka barangsiapa yang benci dengan sunahku, makai ia bukan golonganku.” Oleh karena itu pentingnya kita melakukan perkara sunah, termasuk dalam wudhu.

Dalam kitab Fathul Qarib, Syekh Abu Qasim menjelaskan bahwasanya kesunahan wudhu ada 10.

(وسننه) أي الوضوء (عشرة أشياء) وفي بعض نسخ المتن عشر خصال (التسمية) أوله وأفلها بسم الله وأكملها بسم الله الرحمن الرحيم، فإن ترك التسمية أوله أتى بها في أثنائه، فإن فرغ من الوضوء لم يأت بها

(وغسل الكفين) إلى الكوعين قبل المضمضة ويغسلهما ثلاثاً إن تردد في طهرهما. (قبل إدخالهما الإناء) المشتمل على ماء دون القلتين، فإن لم يغسلهما كره له غمسهما في الإناء، وإن تيقن طهرهما لم يكره له غمسهما. (والمضمضة) بعد غسل الكفين، ويحصل أصل السنة فيها بإدخال الماء في الفم سواء أداره فيه ومجه أم لا، فإن أراد الأكمل مجه

(والاستنشاق) بعد المضمضة ويحصل أصل السنة فيه بإدخال الماء في الأنف سواء جذبه بنفسه إلى خياشمه ونثره أم لا، فإن أراد الأكمل نثره والجمع بين المضمضة والاستنشاق بثلاث غرف، يتمضمض من كل منها ثم يستنشق أفضل من الفصل بينهما.

(ومسح جميع الرأس) وفي بعض نسخ المتن واستيعاب الرأس بالمسح،أما مسح بعض الرأس، فواجب كما سبق، ولو لم يرد نزع ما على رأسه من عمامة ونحوها كمل بالمسح عليها. (ومسح) جميع (الأذنين ظاهرهما وباطنهما بماء جديد) أي غير بلل الرأس، والسنة في كيفية مسحهما أن يدخل مسبحتيه في صماخيه، ويديرهما، على المعاطف، ويمرّ إبهاميه على ظهورهما، ثم يلصق كفيه، وهما مبلولتان بالأذنين استظهاراً.

(وتخليل اللحية الكثة) بمثلثة من الرجل أما لحية الرجل الخفيفة، ولحية المرأة والخنثى، فيجب تخليلهما وكيفيته أن يدخل الرجل أصابعه من أسفل اللحية

(وتخليل أصابع اليدين والرجلين) إن وصل الماء إليها من غير تخليل، فإن لم يصل إلا به، كالأصابع الملتفة وجب تخليلها، وإن لم يتأت تخليلها لالتحامها حرم فتقها للتخليل، وكيفية تخليل اليدين بالتشبيك والرجلين بأن يبدأ بخنصر يده اليسرى من أسفل الرجل مبتدئاً بخنصر الرجل اليمنى خاتماً بخنصر اليسرى

(وتقديم اليمنى) من يديه ورجليه (على اليسرى) منهما أما العضوان اللذان يسهل غسلهما معاً كالخدين فلا يقدم اليمين منهما بل يطهران دفعة واحدة، وذكر المصنف سنية تثليث العضو المغسول والممسوح في قوله(والطهارة ثلاثاً ثلاثاً) وفي بعض النسخ التكرار، أي للمغسول والممسوح،

(والموالاة) ويعبر عنها بالتتابع، وهي أن لا يحصل بين العضوين تفريق كثير، بل يطهر العضو بعد العضو بحيث لا يجف المغسول قبله مع اعتدال الهواء والمزاج والزمان، وإذا ثلث فالاعتبار بآخر غسلة، وإنما تندب الموالاة في غير وضوء صاحب الضرورة، أما هو فالموالاة واجبة في حقه. وبقي للوضوء سنن أخرى مذكورة في المطولات.

  1. Membaca basmalah. Minimalnya basmalah adalah بسم الله . Jika tidak membaca basmalah di awal wudhu, maka sunah membacanya di Tengah wudhu. Dan tidak disunahkan membacanya jika sudah selesai wudhu.
  2. Membasuh kedua telapak tangan yang diragukan kesuciannya sebelum berkumur dan sebelum memasukkan keduanya ke wadah yang berisi air kurang 2 kulah. Sehingga, makruh membenamkan kedua tangan ke dalam wadah sebelum membasuhnya. Dan tidak makruh jika sudah yakin atas kesucian tangannya.
  3. Berkumur setelah membasuh kedua telapak tangan. Yakni dengan memasukkan air ke mulut. Baik memutarnya lalu membuangnya ataupun tidak. Adapaun yang lebih utama ialah memutarnya di dalam mulut lalu membuangnya.
  4. Menghirup air ke dalam hidung. Yaitu dengan memasukan air ke dalam hidung. Adapun yang lebih utama ialah menariknya hingga pangkal hidung lalu membuangnya. Praktik berkumur lalu menghirup air ke dalam hidung dengan 3 cidukan itu lebih utama dari pada memisahnya.
  5. Mengusap seluruh kepala. Sedangkan mengusap sebagian kepala hukumnya wajib. Jika seorang mutawadhi (orang yang berwudhu) tidak ingin melepas benda sejenis sorban atau kopyah yang terdapat di kepalanya, maka cukup dengan mengusap benda tersebut.
  6. Mengusap seluruh telinga. Yakni bagian dalam dan luarnya dengan air baru, artinya bukan air bekas usapan kepala. Untuk praktiknya adalah memasukkan kedua jari telunjuk pada lubang telinga dan memutarnya terhadap cekungan telinga. Dilanjutkan dengan menjalankan jempol pada bagian luar telinga. Kemudian menempelkan kedua telapak tangan dalam keadaan basah pada kedua telinga guna memperjelas basahnya basuhan.
  7. Menyelah-nyelahi jenggot yang tebal bagi laki-laki. Sedangkan menyelah-nyelahi jenggot yang tipis dan jenggotnya perempuan atau khunsa itu wajib dengan cara memasukkan jari-jari dari arah bawah (tempat tumbuh rambut).
  8. Menyelah-nyelahi jari tangan dan kaki. Jika jari-jari yang menempel (rapat) sulit terbasuh tanpa diselah-selahi, maka hukum menyelahinya wajib. Jika sulit diselah-selahi karena melekat, maka haram disobek dengan tujuan untuk diselah-selahi. Menyelahi jari tangan adalah dengan cara tasybik (ngapu rancang: jawa) dan jari kaki dengan cara memasukkan jari kelingking tangan kiri dimulai dari jari kelingking kaki kanan hingga jari kelingking kaki kiri.
  9. Mendahulukan anggota kanan dari pada anggota kiri. Namun, pada anggota yang mudah untuk dibasuh secara bersamaan seperti kedua pipi, maka cukup dibasuh secara bersamaan.
  10. Mengulangi basuhan atau usapan hingga 3 kali.

Berkesinambungan. Yakni tidak ada pemisah yang lama dari membasuh satu anggota ke anggota yang lain, sekira anggota yang lebih dulu dibasuh tidak sampai kering pada kondisi tiupan angin, suhu tubuh, dan cuaca yang normal. Jika membasuh atau mengusap 3 kali maka tolak ukurnya adalah basuhan ketiga. Muwalah hanya disunahkan bagi selain shahibu ad-dharurah (orang yang selalu hadas). Sedangkan bagi shahibu ad-dharurah hukum muwalah ialah wajib.

Wallahu A’lam

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like