web analytics

Khazanah23 Series; Makam Sunan Muria.

Khazanah23 Series; Makam Sunan Muria.
0 0
Read Time:2 Minute, 32 Second

Kudus, Pers Mahrusy.

(01/02) Perjalanan akhirnya berlanjut pada Makam Sunan Muria. Tapi, sebelum ke sana, selepas dari Makam Sunan Bonang, para peserta terlebih dahulu mampir di Pati. Tepatnya di Masjid Agung Baitunnur untuk istirahat dan sholat subuh berjamaah. Untuk penempatannya, peserta putra berada di serambi masjid dan peserta putri berada di barat masjid lantai 2. Lama transit di sana diberi waktu hanya 2 jam. Tidak lama-lama. Setelah selesai, perjalanan kembali lanjut.

Bus berhenti di parkiran yang sudah disediakan. Banyaknya jumlah bus membuat 2 bus harus parkir di tepi jalan. Makam Sunan Muria yang berada di atas gunung dengan ketinggian 1600 meter di atas permukaan laut mengharuskan peserta menggunakan ojek untuk sampai di makam. Peserta putri di instruksikan berangkat terlebih dahulu, baru disusul peserta putra. Satu motor untuk satu orang penumpang.

Nah, di sini yang membuat para penumpang geleng-geleng kepala. Naik ojek menuju ketinggian dengan jalan tepi jurang yang berkelok dan sempit, para abang-abang tukang ojek itu tetap melakukan motornya dengan kecepatan tinggi. Beragam mulai dari motor besar maupun kecil motor matic. Memang abang-abang tukang ojek itu sudah ahli dan track jalannya adalah makanan sehari-hari, tetapi bagi mereka yang baru pertama kali menaikinya cukup membuat detak jantung berdenyut lebih cepat. Nafas tertahan-tahan.

Para peserta sampai di puncak. Pemandangan indah, juga udara dingin yang menerpa kulit di pagi hari, membuat sebagian peserta harus menggunakan sorban. Karena peserta putri yang datang terlebih dahulu, maka mereka langsung digiring untuk ke area makam terlebih dahulu. Sebagian ada yang berwudhu dan ke toilet. Para penjual botol kosong, juga kantong kresek untuk sendal berderet rapih menyambut para peserta. Tidak hanya itu, bahkan sedari titik awal area jalan menuju makam pun sudah berbaris toko oleh-oleh. Peserta langsung ke makam.

Sholawat sholallah ala Muhammad terdengar nyaring bertalu-talu membelah dingin. Menunggu datangnya dzuriyah. Saat itu juga, sama seperti di Makam Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi, cukup lama peserta membaca sholawat. Sampai akhirnya, tahlil dimulai dengan dipimpin oleh Gus Nabil.

Para peziarah lain pun berdatangan berlalu lalang tanpa henti. Membuat makam semakin penuh. Banyaknya peziarah pun sampai berada di lantai bawah. Bahkan, ada juga yang menunggu giliran. Macam-macam. segala semangat dan dingin itu harus tertahan saat pembacaan tahlil harus usai. Peserta beranjak kembali ke bus. Tentu naik ojek tadi. Jalan keluar berbeda dengan jalan awal masuk. Bahkan, di jalur arah pulang para pedagang lebih banyak dan antsusias. Para pedagang itu sangat beruforia saat mengetahui jumlah bus kami yang mencapai 30 armada. Dari situ saja para peserta telah mendapat pahala karena menyenangkan orang lain. Masya Allah. Lalu beranjak. Sama, peserta putri terlebih dahulu, lalu peserta putra.

Nah, ini yang lebih meneggangkan. Berbeda dengan awal datang tadi yang tracknya menanjak, pulang tracknya menurun. Rintik hujan pun yang mulai turun tetap, kecepatan tidak dikurangi. Kencang. Ngebut. Malah ada yang menyalip satu sama lain diturunan. Bisa dibayangkan! Dasar ojek-ojek road race.

Para peserta naik ke busnya masing-masing. Makan pagi dibagikan. Perut terisi. Dingin sedikit berkurang. Dikit.

Perjalanan masih harus berlanjut. Masih di Kudus, rombongan akan menuju Makam Raden Ja’far Shodiq Sunan Kudus.

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like