web analytics

Kok Bisa, Ibadah Kuat Muthola’ah Sambat?

Kok Bisa, Ibadah Kuat Muthola’ah Sambat?
ilustrasi muthola’AH
0 0
Read Time:4 Minute, 0 Second

Suatu ketika ada santri yang begitu taat beribadah, khusu’, amalannya banyak dia sangat giat dan kuat melakukan lelakon-lelakon ritual.

Namun disisi lain dia agak lemah atau boleh dikatakan mudah lelah dalam belajar, menghafal atau dalam bermusyawarah. Melihat hal itu dia menyangka basic, skill, dan kemampuannya itu lebih condong ke hal-hal yang bersifat ritual daripada ke hal-hal intelektual.

Dia juga memberi bukti, dua Jam mujahadah dia kuat, Begitu dua jam dibuar mutholaah dia keburu sambat.

Nah kemudian saya memberi perspektif berpikir kepada dia, bahwa ibadah dan mutholaah itu sudah dua hal yang berbeda.

Bagi saya aktivitas santri tadi yang fokus pada ritual-ritual, amal-amalan, dan kesunahan lain sampai menganggapnya sebagai sebuah skill dan keunggulan pada dirinya secara bersamaan menomorduakan mutholaah, itu merupakan pelampiasan bahkan bisa jadi dia terkena “Ghurur” alias tertipu.

Dia melakukan hal itu bisa jadi karena tidak kuat dengan pelajaran, mutholaah, hafalan, musyawarah dan aktivitas lain yang berkaitan dengan otak.

Kenapa sebagai pelampiasan? jelas! Karena dibanding dengan ibadah, mutholaah lebih berat.
Ketika ibadah, kita tidak memerlukan perangkat apapun, kita cukup modal badan sehat dan suci sudah bisa menjalankan ibadah. Mengenai khsusu’? Hanya Allah yang bisa menilai.

Hal itu berbeda dengan mutholaah atau belajar, tidak hanya badan yang sehat, kita perlu aktivitas otak, butuh pemahaman mendalam, nyari refrensi, tanya sana-sini belum lagi beban untuk mengamalkannya. Jelas. Secara psikologis dan Fisik, lebih melelahkan proses belajar.

Dari sifatnya, belajar juga lebih penting didahulukan sebelum ibadah (apalagi yang sunah-sunah)
Seperti yang didawuhkan Imam Mawardi dalam Kitab Adabu dunya Waddinya:
واذا لم يكن إلى معرفة جميع العلوم سبيل وجب صرف الاهتمام إلى معرفة أهمها والعناية باولها و افضلها

Karena sama sekali tidak ada jalan untuk menguasai keseluruhan ilmu pengetahuan, maka wajib menetapkan skala prioritas untuk mendahulukan yang terpenting dan bersungguh-sungguh untuk mempelajarinya

وأولى العلوم وأفضلها علم الدين. لان الناس بمعرفته يرشدون و بجهله يضلون. إذ لا يصح أداء عبادة جهل فاعلها صفات أدائها ولم يعلم شروط إجزائها.

Hal pertama yang harus diketahui adalah mempelajari ilmu agama. Karena manusia dengan mengetahuinya akan memeroleh petunjuk dengan tidak mengetahuinga akan menyasarkan manusi. Pengetahuan akan hal tersebut (ilmu agama) menentukan keabsahan ibadah.

Mungkin saking sulit dan pentingya belajar, Nabi Muhammad Saw. ketika melewati majelis dzikir dan majelis belajar beliau lebih memilih duduk bersama orang-orang yang sedang belajar.

Kanjeng Nabi juga pernah bersabda,
فضل العلم خير من فضل العبادة

“Keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah”
فْضَلُ النَّاسِ المُؤْمِنُ العَالِمُ الذِي إِذَا احْتِيْجَ إليه نَفَعَ، وإن اسْتُغْنِيَ عنه أغْنَى نَفْسَه Artinya,
“Orang paling utama adalah seorang mukmin alim yang bermanfaat bila dibutuhkan dan mencukupi dirinya bila ‘tidak diperlukan,’” (HR Ibnu Asakir).

Ditinjau dari efeknya pun juga demikian, belajar berimbas luas, beda dengan ibadah yang didominasi profit pada pribadi.

Maka, bila ada yang merasa ‘kok ibadah bisa kuat, ketimbang belajar yang mudah lelah’ bukan berarti basic atau kemampuan anda di bidang ibadah, melainkan anda saja yang tidak kuat merasakan pusing dan beratnya belajar.

Maka jangan sampai ketika santri kuat melakukan amalan-amalan lalu mengabaikan belajar, hal itu sama saja blunder. Bagaimanapun amalan-amalan atau semacam Ibadah itu sudah template, pakem, dan pasti sesuai dengan yang mengajarkan. Beda dengan belajar yang tidak terbatas dan masih terbarukan. Masih dari Maqolah Imam Mawardi, والإحاطة بجميعها محال لعجز عقول البشر عن احاطتها أو لعدم تناهيها مع تناهي الاعمار واحاطة لغير المتناهي بالمتناهي محال

“menguasai semuanya (ilmu) adalah suatu hal yang mustahil, karena keterbatasan akal, energi, dan waktu yang manusia miliki. Sedangkan luasnya ilmu tidak berbatas.”

Maka, sebelum kita memasuki tua,
mari kita kerahkan seluruh energi untuk belajar, musyawarah mutholaah dan apapun itu yang berkaitan dengan aktivitas otak.

Karena ketika sudah tua nanti, kita tidak akan memiliki waktu seluas dan seleluasa masa muda ini.

Perlu diingat pula, ibadah merupakan sebuah kewajiban ‘habblu minallah’ bersifat vertical.
Sedangkan belajar kewajiban yang bersifat horizontal, hablu minannas.

Beribadah dan amal-amalan diwaktu muda juga baik, Namun, kita yang masih santri ini lebih baik prioritaskan masa muda untuk mendalami keilmuan. Karena masa muda tidak akan terulang. Sedangkan ibadah kapanpun bisa kita laksanakan.
Namun kita jangan lupa pula sambil mengamalkan, teringat ancaman dari Nabi, اَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ اللهُ بِعِلْمِهِ “Manusia yang paling berat siksanya di akhirat adalah orang alim yang yang mana Allah SWT tidak membuat manfaat akan ilmunya”

Terakhir saya teringat ketika Yai Mahrus tidak suka melihat santri-santrinya yang berkutat dengan amalan-amalan, beliau lebih suka santrinya menjadi pejuang di masyarakat dengan keilmuan. Hasilnya kita lebih banyak melihat santrinya Yai Mahrus yang jadi ulama, umara’, dosen ataupun teknokrat daripada yang berkecimpung didunia Perdukunan.
Wallahu a’lam.

 

 

 

About Post Author

Elnahrowi

Santri Pondok Al-Mahrusiyah yang suka Menulis dan Berjurnalis. Asal dari Sragen Jawa Tengah
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like