web analytics

Langkah Berani Menggelorakan Pesantren Berwawasan Ekologi

Langkah Berani Menggelorakan Pesantren Berwawasan Ekologi
0 0
Read Time:4 Minute, 23 Second

Lingkungan pesantren acap kali dicap tidak bersih, menyikapi hal tersebut golongan dari kalangan pesantren perlahan mulai melakukan gebrakan, salah satunya Pondok Pesantren An-Nuqoyah yang telah mendapat predikat sebagai salah satu pesantren berwawasan ekologi di Indonesia. Alhamdulilah, tempo waktu tim redaksi berkesempatan untuk sowan dengan beliau, Dr. KH. Mohammad Shalahuddin Warits, M.Hum, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nuqoyah Daerah Lubangsa, beliau memberikan pengetahuan mengenai ekologi, khususnya di lingkungan pesantren, untuk lebih lengkapnya, silahkan simak keterangan di bawah ini,

Pondok Pesantren An-Nuqoyah telah masyhur dikenal sebagai Pesantren ekologi sekaligus berwawasan lingkungan, bagaimana usaha ataupun langkah-langkah yang ditempuh?

Kami senang sekaligus kembali untuk belajar berkat mendapat salah satu dari 3 pesantren berwawasan lingkungan di Indonesia, generasi sebelum kami itu interest dengan lingkungan, bukan hanya lingkungan hayati tapi juga lingkungan sosial, sebenarnya terdapat permasalahan besar terkait ekologi ini, terutama sampah, apalagi dalam lingkup pesantren yang memiliki komunitas banyak, sulit untuk menunggu kebijakan pemerintah, mengingat sampah tidak menunggu, setiap hari berproduksi luar biasa besarnya.

Oleh karena itu, kita mulai untuk mengkampanyekan untuk mengelola sampah,, hasilnya penurunan drastis terjadi, padahal baru dikelola, belum dilanjutkan lagi melalui program berkelanjutan, jika hal ini dilakukan secara masif, maka akan berdampak pada lingkungan sekitar mengenai pengelolaan sampah.

Proses An-Nuqoyah dalam mengkampanyekan ini terlebih dahulu dikomunikasikan kepada masyarakat mengenai lingkungan pesantren, yang paling sulit itu ketika banyaknya sampah yang dibawa dari luar. Maka dari itu, coba kita batasi, dimulai dari pondok putri, jadi yang masuk kawasan pesantren terlebih dahulu di scanning. Alhamdulilah masyarakat sportif terhadap kebijakan ini, kami juga memiliki target untuk tidak membuang sampah ke TPS nya pemerintah, karena bagi kami, jika sampah masih bisa dikelola, itu tidak dikategorikan sebagai sampah, bisa jadi kompos dsb.

An-Nuqoyah di tahun 1981 telah mendapat penghargaan kalpataru (penghargaan mengenai lingkungan hidup), bisa dijelaskan sejarah mengenai penghargaan yang didapat dan mengenai perkembangan hingga sekarang?
Berawal dari lingkungan daerah sini yang gersang, keanekaragaman hayati rendah, membuat para sesepuh kami melakukan penghijauan, usaha kami sekarang masih jauh dengan apa yang telah dicapai orang tua kami, sebab itu tahun 81 an, jadi kalau dilihat sekarang itu lebih mengenai penghijauan yang dilakukan sesepuh dahulu.

Sampai sekarang, kami menargetkan nol sampah ke TPA dalam satu bulan, tapi ternyata kira-kira hanya dalam lima hari tercapai, saya bilang stop, awalnya itu bingung, bau busuk sudah kemana-mana, tapi kalau tidak begitu kita jadi tidak kenal masalah. Nah, nanti kalau sudah kuat akan dibuat sistem yang lebih besar lagi, kami juga sudah menyiapkan beberapa lahan tanah untuk pengelolaan sampah, harapannya seluruh sampah akan dikelola melalui sistem yang sudah ada, selain itu seminimal mungkin untuk mengurangi pembakaran, untuk teknologinya kita tadiriji (bertahap), sebab teknologi terakhir yang paling utama adalah kesadaran, kemauan, aksi, dsb. ditawari mesin-mesin nanti dulu, tapi bagaimana kita mengusahakan untuk tidak menghasilkan sampah, dari kesdaran kemauan tindakan nyata, baru kemudian ditingkatkan dengan adanya fasilitas,

Tanggapan Kyai terhadap fenomena Pesantren acap kali dicap kotor?

Sebenarnya pesantren itu mendidik melalui karakter, yang artinya tidak terlau butuh sarana dan prasarana yang lengkap dan memadai, sebab karakter itu dididik melalu sikap masing-asing individu, sama halnya dengan kebersihan, bukan melalui fasilitas lengkap, melainkan bagaimana memunculkan kesadaran untuk bersikap bersih, tidak menghasilkan sampah saja sudah luar biasa, apalagi dapat membersihkan atau mengelolanya.

Mengenai kumuh, coba kita pandang dari sisi lain, kalau pendapat saya kumuh itu bisa jadi bagian dari pendidikan inklusif (terbuka) terdapat nilai-nilai kesederhanaan, tidak membeda-bedakan kelas dan sebagainya, tetapi bukan kita membenarkan lingkungan pesantren kumuh, karena bisa saja pesantren dibuat elit, orangnya khusus-khusus dan sebagainya, sekali lagi, itu adalah bagian kecil dari pendidikan pesantren yang terbuka, maka dari itu cobalah kita menghapus stigma itu dan harus mulai dilaksanakan untuk menyuarakan kebersihan kepada semua pihak.

Pendapat anda perihal Negara islam banyak yang kotor dan hubungan antara islam dan lingkungan?

Jangankan An-Nadhofatu, sebagian dari guru kita berkata “Al-Amnu Qoblal Iman”, berikan ketentraman terlebih dahulu, baru membahas tentang iman, Nabi juga melalui sisi yang seperti itu, baru setelah memperoleh gelar Al-Amin dan dirinya dapat memberi kenyamanan, setelah itu mengajarkan syari’at, tauhid dan akidah,

Dalam Alquran disebutkan
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
kita diberi amanah oleh Allah berupa bumi ini, artinya jika kita melakukan kerusakan berarti sama saja bermkasiat terhadap diri kita sendiri yang telah diamanahi oleh Allah untuk menjaga bumi, seperti polusi terlalu berlebihan menghasilkan sampah, berdasarkan penelitian pun kebanyakan sampah berasal dari sisa makanan, artinya itu semua terdorong dari ketamakan manusia, jadi sebenarnya hubungan nya itu sangat dekat sekali.

Melihat peliknya kerusakan lingkungan dan permasalah sampah di Indonesia, bagaimana kyai memandang hal ini?
Indonesia belum punya satu produk legislasi atau peraturan yang kuat sekaligus mengakar mengenai sampah, undang-undang sekarang mengarahkan kepada insenerator/ pembakaran dan juga membuat sampah menjadi listrik, kalau begitu artinya bukan mau menghentikan sampah, ini tidak menyelesaikan permasalah sampah yang sesungguhnya, sekarang yang ada di Indonesia hanya menumpuk, buang tumpuk sudah, mau peraturan yang ada nyatanya di lapangan begitu, kalau kami di pesantren itu mengurangi sampah, dengan begitu, harus ada mental kuat untuk melawan nya.

 

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like