web analytics

Madura dan Setumpuk Kagum Kami

Madura dan Setumpuk Kagum Kami
0 0
Read Time:2 Minute, 53 Second

Dalam rihlah ke Madura kali ini, dengan mencari data tentang isu lingkungan pondok pesantren, kami bisa mengenal Madura lebih karena hampir 5 hari di sana. Jika kita berpikir tentang Madura, tentu yang akan terlintas di pikiran adalah satenya, nasi bebek, baju garis merah, atau kumis lelakinya beserta celuritnya yang menyeramkan. Ternnyata tak sedangkal itu.

Jembatan Suramadu menjadi titik awal pertemuan kami dengan pulau garam itu. Mulai dari Bangkalan hingga sampai Sumenep, banyak hal yang perlu kita ulik. Mungkin hanya beberapa dan terbatas sempitnya pengalaman. Tapi, inilah yang kami temui selama rihlah ini; hal-hal yang membuat kami terkagum-kagum.

Agamis. Mungkin itu kesan pertama saat kami menginjakan kaki di tanah Madura. Bukan hanya tentang Islam dan hal teologi, banyak bisa ditemui tentang kebiasaan orang Madura, terutama lelaki yang selalu memakai sarung ke mana pun dan di manapun. Di setiap kesempatan dan keadaan. Mulai dari yang berkendara ataupun tidak. Mulai dari  pengendara berjaket jeans, berkemeja, ber-jas, hingga bapak-bapak rumpi pinggir jalan, tukang sate, tukang parkir, tukang cukur, ataupun tukang pulsa sekalipun. Mereka semua bersarung. Jadi  ingat pondok. Serasa kota santri.

”Di Madura itu sarung sudah seperti pakaian adat, Mas.” Ucap salah satu penduduk asli sana yang kami temui.

Tak hanya sarung, kopeah pun pasti akan serasi dengan sarung-sarung yang mereka pakai. Bagi santri seperti kami, Madura merupakan habitat.

Tak hanya itu, agamisnya orang Madura bisa dilihat dari berbagai masjid yang berdiri megah di sana. Hal itu kami temui di sepanjang jalan menuju sumenep. Masjid sana begitu khas, dengan tinggi megah menjulang, kubah dan menara, serta interior dan eksterior masjid di dominasi dengan corak warna emas. Dengan begitu, kesan glamour begitu terasa. Tapi, seperti masjid yang lain yang hanya sibuk dalam bermegah membangun, di Madura, masjid sudah merupakan makanan sehari-hari. Karena setiap datang waktu shoolat, masjid-masjid di sana selalu ramai oleh para manusia yang menunaikan penghambaannya dalam sembah syukur pada Tuhan Semesta Alam. Sebut saja Masjid Syaikhona Kholil, Masjid Agung Keraton Sumenep, Masjid Agung Sampang.

Selain itu, hal yang mmembuat kami kagum adalah tentang ramahnya orang Madura. Ya, mereka sangat ramah, terutama pada tamu. Mungkin sebagian dari kita ada yang menganggap orang Madura sebagai orang yang keras dan bersikukuh. Tapi, itu jika mereka terusik. Asal kita baik, mereka justru lebih baik membalasnya. Hal itu sangat terasa, saat kami bersilahturahmi ke Pondok Pesantren Annuqayah yang notabene santrinya adalah penduduk asli Madura. Bukan hanya tentang orang yang menerima dan menyambut kami, tapi juga mereka yang kami temui acak di pesantren, juga orang-orang luar masyarakat umum. Seperti bapak penjual nasi bebek itu, contohnya.

Mungkin ini yang paling jarang terlihat, tapi memiliki andil yang sangat besar; Perempuan Madura. Mereka para perempuan Madura, terutama dari kaum ibu tak kalah dominasi dengan para lelaki Madura. Bukan hanya tentang hal pemikiran dan perasaan, mereka juga berani dan tak bisa diremehkan dalam hal kekuatan. Kerap kali kami melihat pekerjaan yang seharusnya tak dilakukan oleh kaum perempuan. Mereka mengangkat banyak kayu bakar, mengembala kambing, mencangkul di ladang.

Dengan begitu jadi teringat dengan suatu ungkapan,

النساء عماد البلاد إذا صلحت صلح البلاد وإذا فسدت فسد البلاد

“Wanita adalah tiang negara, apabila wanita itu baik maka akan baiklah negara dan apabila wanita itu rusak, maka akan rusak pula negara.”

Baca Juga: Mondok Katanya

Syekh Musthofa Al-Gholayini menambahkan dalam karangannya, Idhotun Nasyi’in,

ولا ريب ان سعادة النشء وهم عماد الاءمة اكثر ما تكون با لمراءة

“Tidak dapat diragukan lagi, bahwa kebahagiaan generasi muda yang merupakan penopang utama umat, itu lebih banyak bergantung pada kaum ibu.”

 

Wallahu ‘alam.

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like