web analytics

Mahfud, M.Pd.I.: Tabib Sang Murobbi

Mahfud, M.Pd.I.: Tabib Sang Murobbi
0 0
Read Time:8 Minute, 45 Second

Alhamdulillah, Tim Redaksi Elmahrusy bisa bersilahturahmi dengan KH. Mahfud, M.Pd.I. Dalam rangka pembukuan KH. Imam Yahya Mahrus, kami pun melakukan wawancara untuk mengulik kisah-kisah beliau selaku tabib atau orang yang biasa melakukan terapi pengobatan memijat dan membekam Yai Imam. Bagaimana kenangan serta pesan dan kesan yang didapat, berikut adalah wawancaranya::

  1. Sejak kapan panjenengan masuk di Al-Mahrusiyah? Keadaan Al-Mahrusiyah tempo dulu?

Sebenarnya saya tidak pernah mondok di Al-Mahrusiyah. Saya itu lulusan pondok ini (Pondok Pesantren Hidayatul Muta’alimin) lalu ke Pondok Pesantren Riyadul Qur’an Malang, sampai ke Cidahu Banten. Dan beberapa pondok kilatan.

  1. Awal kenal Yai Imam?

 

Awal kenal itu ketika beliau mengisi ceramah saat saya wisuda Qur’an di Malang. Meski sebelumnya juga pernah bertemu dan bersalaman. Hanya sekedar itu, karena tentu sungkan. Saya hanya sebatas tau, bahwa beliau adalah kiai Lirboyo. Lalu di 2001, saya kembali bertemu beliau saat di pernikahan saya. Beliau lagi-lagi yang mengisi ceramah dengan gayanya yang humoris. Kala itu hadir juga Yai Abdul Aziz Paculgowang.

Di luar itu, sebenarnya ada 2 alasan saya bisa kenal dan akrab dengan beliau. Pertama, karena saya masih ada ikatan keluarga dengan beliau. Saya ini menantu dari Kiai Hamid yang merupakan putra dari Kiai Asy’ari. Kiai Asy’ari itu putra dari Kiai Sholeh Banjarmlati. Karena memang Kiai Asy’ari itu adiknya pas Kiai Ya’qub. Berarti Kiai Asy’ari itu pamannya Kiai Mahrus.

Kedua, karena saya adalah orang yang biasa pijat dan bekam beliau.

 

  1. Untuk pijat dan bekam ini bisa dijelaskan, Yai?

 

Pijat dan bekam ini saya pelajari dari Kiai Hamid. Karena memang beliau adalah orang yang ahli dalam suwuk. Saya belajar ilmu terapi seperti ini pada beliau. Tapi karena beliau sakit, akhirnya saya yang melanjutkan. Saya ingat betul pesan Yai Hamid, “

Yang penting ketika ngobati orang, jangan minta. Kalau diberi ya diterima, tapi jangan dimakan. Tapi pemberian itu disalurkan untuk sosial, untuk kepentingan umum. Namanya ya perjuangan ya seperti itu, tidak boleh untuk memperkaya diri. kerja ya kerja. Kerja itu berbeda dengan mengabdi dalam perjuanagn. Agar tidak thoma’.”

Dan pada saat itu pun Kiai Imam sedang sakit-sakitan. Karena kenal dan akrab, saya menjadi orang yang biasa memijat dan membekam beliau.

Yai Imam itu kalau bekam ya sesempatnya. Tapi, anehnya, beliau jika datang ke sini untuk pijat atau bekam, beliau itu tidak mau di dalam (rumah). Ya, hanya di teras saja. Buka baju, saya pijat, saya bekam. Dan jika ada para tamu yang datang pun ya biasa saja. seharusnya  jika dilihat orang kan, namanya kiai, gimana gitu. Tapi beliau tidak ada yang namanya gengsi. Sulit bagi kita untuk meniru.

Beliau itu punya kencing manis kering. Sudah tinggi kadarnya. Setiap beliau drop, langsung masuk rumah sakit dan saya pasti dipanggil. Karena dengan diambilnya darah orang yang kencing manis itu lebih cepat untuk prospek sembuhnya dibanding dengan obat dokter.

Yai Imam itu ketika bekam lebih suka menggunakan silet dari pada dengan jarum. Bekam itu hampir setiap minggu, terutama saat beliau setelah dioperasi, dikemo. Jadi setaip beliau pulang dari rumah sakit, beliau langsung ke sini untuk bekam. Bahkan saat dikemo yang ketiga kali, dokternya sempat heran bahwa rambut beliau tidak rontok sebagaimana orang-orang kebanyakan. Karena memang, bekam itu mampu menyedot zat-zat kimia dalam tubuh lewat darah.

Sebelum itu, saya sering datang ke rumah beliau untuk memiijat atau bekam. Kadang pula saat istighotsah, meski dilihat banyak santri, meski belaiu sedang sakit, beliau tetap istighotsah sambil saya bekam. Di setiap bekam itu pasti diselingi dengan cerita dan ngobrol.

 

  1. Sikap Yai Imam terhadap keluarga?

 

Beliau dengan keluarga itu sangat akrab. Dengan istri dan anak-anaknya itu sangat-sangat akrab. Bahkan dalam lingkup keluarga pun, beliau tidak menunjukkan sisi ke-kiai-annya. Beliau tetap apa adanya, selaknya suami pada istri, ayah pada anak-anak. Bagaimana beliau waktunya ngobrol, ya ngobrol. Waktunya bercanda, ya bercanda.

Beliau pun telah menanamkan pendidikan dalam keluargnya. Meski hanya sebatas pendapat. Jika ada sesuatu, beliau itu selalu minta pendapat keluarga, istri dan anak. Begitupun jika hal itu terjadi pada anaknya, beliau mengajarkan untuk meminta pendapat pada teman-temannya. Beliau telah mencontohkan sendiri.

Dan beliau tidak membedakan antara anak atau santri-santrinya. Jika memang ada yang salah, melanggar syariat beliau ya tetap marah. beliau tetap memarahi mereka.

 

  1. Sikap Yai Imam terhadap pendidikan?

 

 

Yai imam itu merupakan sosok yang sangat memperhatikan pendidikan. Sudah tidak perlu diragukan lagi soal beliau mengajar ngaji atau pun kemajuan berpikirnya dengan mendirikan lembaga pendidikan dari tk sampai perguruan tinggi, hal itu bahkan beliau tularkan pada saya. Beliau pun ikut memperhatikan pendidikan di luar pesantrennya sekalipun. Karena memang orang pertama yang mengusulkan agar pondok ini memiliki lembaga formal, ya Yai Imam.  Dulu pondok ini diisi untuk orang-orang rusak. Dulu yai hamid itu bangun pondok untuk nambani wong-wong gendeng.

Hingga ketika saya baru menikah, di tahun 2002, dulu belum ada santri yang mau belajar. Sampai Yai Imam mengusulkan membangun lembaga formal, beliau itu datang dengan membawa semen 20 sak yang diangkut oleh mobilnya Yai harun dan disopiri oleh kholis. Semen-semen itu diperuntukkan untuk membangun mushola yang mana akan menjadi cikal bakal gedung-gedung sekolah.

“Nek gawe sekolah rak usah minder. Gaweo, tak ewangi!” Pesan terakhir beliau soal pendidikan.

Beliau adalah sosok yang luar biasa dengan pendidikan. Bahkan, dalam hal kampus tribakti, beliau kadang menyuruh mahasiswa itu untuk demo. Menyuarakan pendidikan. Tapi, jika demonya itu berlebihan, ya beliau tetap marah. tapi tidak lama-lama, nanti tetap ngasih rokok. Beliau itu nggak bisa marah lama-lama.

 

  1. Bagaimana awal mula berdirinya Pondok Ngampel?

 

Untuk berdirinya pondok ngampel, saya lupa tahun berapa. Yang pasti, waktu itu tanahnya belum dibeli, susah bagi si pemilik untuk melepas. Untuk hal ini, Yai Hamid yang ikut mengurusi dengan Yai Imam. Karena Yai Hamid itu ahli bekam, ahli suwuk. Saya itu hanya sekedar mengantarkan bapak (Yai Hamid) saja ke sana. Atau paling tidak, jika saya disuruh bapak baca apa, jika disuruh baca qulhu, ya saya baca qulhu. Jika disuruh baca fatihah, ya saya baca fatihah.

Ngampel itu dulu angker, tapi alhamdulillahnya dengan segala usaha beliau-beliau yang luar biasa, tanah ngampel itu bisa didapat. Tapi yang saya dengar dari cerita para alumni, ngampel bisa sampai sebesar itu karena ada andil do’a Yai Hamid. Karena Yai Hamid pernah do’a, “nanti ampel itu lebih besar dari induknya (pondok pusat).”  Dan sekarang terbukti.

 

  1. Apakah ada kesan dan pesan yang begitu mengena bagi panjenengan, sampai wafatnya Yai Imam?

 

Kesan, kadang beliau itu lucu, juga aneh. Beliau itu sakit, tidak boleh ngerokok, tapi tetap ngerokok. Kadang-kadang minta ke saya. Tentu dari dokter kan tidak dianjurkan merokok, apalagi dari ibu nyai. Jadi rokok saya, ya saya taruh motor, baru bekam beliau. Tapi, ketika sudah malam, saat orang-orang rumah sudah pada tidur, beliau nanti ngajak saya ke luar rumah untuk ngobrol, juga sambil ngerokok.

Setiap saya minta amalan, pasti beliau itu minta mahar. Dan maharnya itu ilmu. Misal, jika ingin amalan ini, harus hafal imrithi. Maksuudnya apa? Berarti orang itu jika ingin amalan harus berilmu dulu.

Bahkan di minggu-minggu sebelum beliau wafat, beliau sempat ke sini. Sebagimana umumnya pijat dan bekam, kaos rangkepan beliau dibuka. Tapi suatu waktu kaos itu beliau ditinggal. Sampai sekarang kaos itu masih saya simpan.

Dan di saat bekam-bekam terakhir, sebelum beliau wafat, ada beberapa hal yang menurut saya cukup aneh. Mungkin tanda-tanda. Pertama, beliau itu sempat meminta ijazahannya Yai Hamid tentang melihat hal-hal ghaib kepada saya. Awalnya saya bingung kenapa ke saya dan untuk apa, tapi setelah beliau wafat, saya pikir-pikir mungkin namanya orang sholeh itu bisa saja sebagi wasilah untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi kematian. Seperti Yai Hamid yang sebelum wafatnya minta dibelikan jam dinding besar dan tak lepas dari melihat jam. Kedua, Yai Imam itu memanggil Gus Reza untuk datang ke rumah sakit. Padahal hari itu Gus Reza akan berangkat ke Malang. Dan benar, setelah Gus Reza datang, beliau wafat. Nah, mungkin yang ketiga ini merupakan pesan beliau yang waktu itu sulit untuk saya pahami. Beliau sempat bilang, “Adik-adik’e diawasi yo!” pikir saya waktu itu yang dimaksud adik ya adik saya. Ternyata setelah di 2 minggu beliau wafat , saya baru paham bahwa yang dimaksud adik-adik itu adalah gus reza dan adik-adiknya, putra putri beliau.

Sampai di hari wafatnya, ketepatan waktu saya jenguk beliau yang saat itu sudah dirawat di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, ternyata adalah hari di mana beliau wafat. Pas saya baru sampai halaman rumah sakit, beliau sudah dipanggil Allah.  Kira-kira jam 1 siang.

Untuk pesan, tentu banyak yang beliau sampaikan. Tapi selama saya kenal dan duduk dengan beliau, kebanyakan membahas tentang hal internal pondok dan dirasa tidak enak untuk diceritakan.

Tapi ada satu pesan Yai Imam yang saya paling ingat betul beliau bilang “santri itu ngaji saja yang pintar, jangan pengen jadi orang jaduk.” Jaduk itu akan berdampak di masa tua, karena belum mengalami. Kira-kira begitu. Yang enak, belajar saja yang benar.

 

  1. Untuk Istighotsah, Yai?

 

Bedakan orang jaduk dengan wirid. Istighotsah itu wirid, karena sebuah zikir yang dibaca istiqomah. Mungkin tidak langsung terlihat di pondok, tapi nanti ketika sudah di rumah. Dan yang namanya keanehan atau kejadian yang luar biasa itu tidak bisa dikendalikan. Spontan ketika diperlukan. Lalu, bagi orang itu ya kesannya biasanya aja, tidak ada yang aneh. Tapi kan orang lain yang melihat, terkesan aneh. Karena yang bisa merasakan dan melihat itu orang lain. Amalan seperti puasa mutih itu, tidak boleh sebelum selesai ngajinya. Tapi wirid seperti istighotsah kan tidak apa-apa.

Dari pada wiridan amalan untuk jaduk dan menjadi terkenal, lalu dibutuhkan orang dengan mengharap imbalan, lebih baik langsung wiridan  nekane duit ae. Haha.

 

.

  1. Pesan untuk para santri?

 

Ketika sowan, ziaroh dengan orang alim, nggak usah aneh-aneh. Langsung saja, “Assalamualaikum yai, saya mahfuz bade sowan” lalu entah baca yasin atau tahlil. Nah, setelah tahlil, jangan lupa baca inna anjalna 11 kali. Setelah itu, do’a dan kalaupun mau sambat, ya silahkan sambat. Curhat. Tapi jangan lupa, ketika kita sowan pada kiai siapapun yang belum mengenal kita, jangan lupa untuk memperkenalkan nama. Begitupun ketika sowan dengan orang yang sudah wafat.

Terus ketika kalian mengamalkan suatu wirid, jangan berniat apa-apa selain dilancarkan dalam mencari ilmu. Jikapun nanti timbul sirri, itu bonus. Karena jika kalian malah ada bayang-bayang niat selain mencari ilmu, maka akan mengganggu.

Intinya, apapun yang menjadi kegiatan pondok, ya lakukan saja. nanti akan tau hasilnya di rumah, bukan di pondok. Kalau hasilnya langsung terasa di pondok malah menyaingi yaine. Dan bisa dipastikan hasil itu sesuai dengan bidangnya masing-masing.

 

 

 

 

 

 

 

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like