web analytics

Makin Lawas Makin Kelazz

ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">
0 0
Read Time:1 Minute, 36 Second

Dalam sejarahnya, senioritas diawali sejak pendidikan militer mulai menjamur. Bisa dimaklumi jika hal ini terjadi di dunia kemiliteran. Sebab, atasan mereka berkarir juga berpijak pada senioritas, pangkat dan jabatan lebih tepatnya. Inilah yang menyebabkan senioritas identik dengan kekerasan dalam berpendidikan. Namun, yang membuat senioritas belum sepenuhnnya hilang, dampaknya yang sedikit banyak berpengaruh baik. Misal saja, jika digunakan oleh orang yang tepat, senioritas dapat membuat si junior lebih disiplin dan terawasi, meski kasus seperti ini sangat jarang tercipta.

 

Penyebab sang senior memperlakukan sedemikian rupa pada juniornya, ialah karena merasa lebih mumpuni dan berpengalaman. Dua hal, yang sudah seharusnya ada pada senior. Meski kenyataannya jauh dari kata ideal. Tidak jarang senioritas membuat senior merasa gengsi mengakui junior yang lebih baik darinya. Sehingga, membuat senioritas tidak bekerja semestinya.

 

“Pengalaman adalah guru terbaik” ungkapan yang tidak asing di telinga kita. Benar, jika pengalaman itu bisa kita ubah menjadi pelajaran yang berharga. Bukan trauma masa lalu mendalam. Emosi akan masa lalu yang kita lampiaskan pada junior termasuk hal buruk, dengan dalih mendidik sebagaimana aku dididik. Relevansi kadang dianak-tirikan, zaman tidak diacuhkan. Intinya, agar menjadi sama harus melewati jalan yang sama. Pengalaman, ini yang menjadi titik berat menjadi senior yang baik. Dalam pengalaman, kita dapat diajarkan segala ilmu tentang apapun yang kita tidak dapatkan di bangku sekolah.

 

Namun, seharusnya yang ditularkan adalah ilmu dari pengalaman, bukan pengalaman secara mentah. Dengan artian, harus mengalami kejadian yang sama persis, agar mendapat pengalaman dan ilmu yang sama, plek ketiplek. Benar jika makin banyak pengalaman, kualitas makin kelazz. Menyetujui ucapan Albert Einstein “Satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman.” Buktinya, banyak orang sukses bukan berasal dari ilmu di sekolah, melainkan ilmu dari pengalaman.

 

Jika kita telisik lagi, ilmu pengetahuan modern berasal dari penelitian. Sesuatu yang harus terbukti secara empirik. Artinya, pengalaman dari penelitian. Penelitian membutuhkan waktu, dan waktu membuat kita menjadi lebih senior. Semakin banyak waktu yang dihabiskan, semakin banyak ilmu yang didapatkan. Makin lawas, makin kelazz.

About Post Author

Abidzar Maulana

Ingin bisa segalanya, termasuk menulis
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">

Ingin bisa segalanya, termasuk menulis

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Anjuran Puasa Sunnah di Bulan Sya’ban

Anjuran Puasa Sunnah di Bulan Sya’ban

Kita Perlu Bercanda Untuk Hidup yang Membosankan Ini!

Kita Perlu Bercanda Untuk Hidup yang Membosankan Ini!

Urgensi Barang Ori

Urgensi Barang Ori

Hal Yang Harus Di Lakukan Pada Tahun Baru; Perspektif Islam

Hal Yang Harus Di Lakukan Pada Tahun Baru; Perspektif Islam

Analogi Militansi Media Pondok Jatim dan Perjuangan Komite Hijaz Nahdlatul Ulama

Analogi Militansi Media Pondok Jatim dan Perjuangan Komite Hijaz Nahdlatul Ulama

Tahun Baru Datang Lagi, Tapi Sudahkah Kita Benar-Benar Berubah?

Tahun Baru Datang Lagi, Tapi Sudahkah Kita Benar-Benar Berubah?