Aksara pegon jawa merupakan salah satu warisan dan harta bersejarah bagi bangsa Indonesia yang kini masih sangat lekat dengan dunia pesantren. Tidak banyak yang mengenal akan background pegon sendiri, namun pegon sering kali digunakan untuk menulis manuskrip para ulama terdahulu. Pernyataan yang mendasari latar belakang pegon sendiri adalah penggunaan pegon oleh raja zaman dahulu pada waktu kolonial sebagai sarana media komunikasi kepada raja lain agar kolonial tersebut tidak bisa membaca.
Penerapan makna pegon jawa sendiri masih banyak digunakan dalam dunia pesantren terutama pesantren-pesantren yang berada di pulau jawa. Makna pegon jawa yang biasanya di aplikasikan untuk mema’nai kitab para ulama. Yang mana penerapan pegon jawa tersebut merupakan salah satu sarana untuk melestarikan khazanah literasi pesantren. Selain itu, jika kita mengulik lebih dalam makna pegon jawa sendiri adalah warisan intelektual dan suatu teknologi yang memudahkan para santri dalam memahami suatu makna dalam kitab tersebut. Tidak cukup sampai disini makna pegon jawa ternyata juga membantu para santri untuk mengetahui tarkib (susunan) dan mengantarkan santri untuk memahami maksud dari makna yang dituju. Hal ini jelas berbeda ketika kita sebagai santri hanya mengaplikasikan makna kitab dengan Bahasa Indonesia saja tanpa adanya kode tarkib. Justru hal tersebut akan menimbulkan pemahaman yang berbeda karena kita hanya memaknai secara bahasa tanpa mengetahui kedudukan dari sebuah kalimat.
Tidak dapat dipungkiri bahwa aksara pegon jawa sangatlah membantu dan mengantarkan para santri dalam memahami maksud dari kitab para ulama terdahulu. Sudah tidak asing lagi di telinga kita ketika mendengar makna utawi sebagai mubtada’, iku sebagai Khobar, sopo sebagai fail, ing sebagai maf’ul. Secara keseluruhan makna makna tersebut menempatkan tarkib seperti kedudukan SPOK dalam gramatika Indonesia. Begitu hebatnya harta dan warisan bersejarah ini yang nikmatnya masih bisa kita rasakan sampai saat ini. Tanpa pegon mungkin kita tidak akan bisa merasakan karunia dan nikmatnya ber-Islam di nusantara.
Berkaca dari aksara pegon jawa yang kita gunakan, hal ini menjadi bukti bahwa suatu penemuan yang baik yang kini menjadi tradisi di pesantren Indonesia harus terus di budidayakan. Mengingat aksara pegon dahulu menjadi huruf yang taktis untuk mengelabui para kolonial agar tidak paham dan kini bertransformasi menjadi teknologi para santri dalam menghubungkan maksud dari kalam ulama.
Suatu hal yang baik akan lebih baik jika diabadikan dalam bingkai sejarah. Terutama pada era kecanggihan teknologi sekarang ini membutuhkan adanya kodifikasi aksara pegon melalui digitalisasi. Seperti yang diungkapkan oleh KH. Yaqut Kholil dalam acara Kongres Aksara Pegon yang bertajuk ‘Mengawal Peradaban Melalui Digitalisasi Aksara Pegon’
“Harapannya semoga dengan adanya digitalisasi ini dapat memudahkan para santri dalam belajar, dan aksara pegon tidak hanya tertuang dalam kertas saja tapi juga dalam bentuk e-book atau elektronik lainnya yang sekaligus menjadi kekayaan nusantara yang tidak hilang oleh perkembangan zaman” tutur ketum PBNU saat ini.
Pelestarian aksara/makna pegon jawa melalui kodifikasi digital ini diharapkan tidak hanya sebagai ikon dan warisan intelektual namun juga bisa menjadi kibaran semangat dan kebanggaan para santri untuk terus menjaga dan mengembangkan khazanah literasi dari santri untuk negeri. Hadza min fadhli robbi
Oleh: Salma Mawaddah Mas’udi