web analytics

Membuka Kesadaran Esensi Filantropi Dalam Makna Ritual Berkurban

Membuka Kesadaran Esensi Filantropi Dalam Makna Ritual Berkurban
0 0
Read Time:3 Minute, 5 Second

Momentum Idul Adha membawa nilai dan pesan kemanusiaan yang sangat luhur, yaitu mengakhiri tradisi pengorbanan dan penumbalan manusia. Diganti dengan menyembelih hewan, membunuh karakter negatif dan karakter kebinatangan pada diri manusia. Tradisi berkurban bukan hanya sekedar untuk berbagi daging sapi atau kambing tapi dalam jangka panjang manifestasinya dapat memupuk kerukunan dan keguyuban antar anggota masyarakat. Berkurban juga mengedukasi kita untuk membentuk kesolidaritasan, persatuan, dan meningkatkan jiwa filantropi atau kedermawanan umat Islam.

Sejarah mencatat bahwa tradisi perbudakan, penumbalan, dan pengorbanan manusia dimasa Nabi Ibrahim AS (Abad ke-18 SM) dan sebelumnya begitu mendarah daging. Para raja dan dan penguasa tidak jarang menjadikan manusia sebagai tumbal untuk melanggengkan kekuasaannya. Tradisi kemanusiaan yang memilukan ini perlu dilawan dan diakhiri. Idul Adha sarat pesan memanusiakan manusia dengan mulia. Sosok Nabi Ibrahim yang begitu patuh dan taat atas perintah Allah untuk menyembelih putranya sendiri bisa diteladani. Ketaatan yang tidak bisa ditandingi oleh siapapun ini melatih iman yang mengharuskan keikhlasan, kesabaran, keberanian, dan ketangguhan mental spiritual. Secara antropologi, teladan Nabi Ibrahim AS dalam mengorbankan buah hati yang sangat dicintainya merupakan bentuk edukasi harmonis untuk mengenyahkan budaya mengorbankan dan perbudakan manusia. Mengakhiri tradisi kekerasan dan menyudahi pelanggaran terhadap HAM, khususnya hak hidup dan merdeka dari segala bentuk perbudakan dan penjajahan.

Esensi berkurban membawa tiga nilai edukasi, yaitu edukasi iman, edukasi kemanusiaan, dan edukasi filantropi atau kedermawanan. Edukasi iman mengajarkan kita untuk menjadi hamba Allah yang taat, tulus, tabah, dan takwa dalam menjalankan perintah Allah. Melalui misi suci yang diteladankan kekasih Allah, Nabi Ibrahim AS, Allah SWT memerintahkannya menyembelih putra tercinta, Ismail, dalam beberapa kali mimpinya. Sang ayah pun berdialog dari hati ke hati dengan putranya, saat ayahandanya meminta pendapatnya mengenai perintah Allah untuk menyembelihnya. Sang anak justru menegaskan keyakinan ayahnya, “Wahai ayahanda, lakukanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapati diriku termasuk orang yang sabar.” (QS Ash-Shaffaat [37]: 102).

Selain itu berkurban juga membentuk nilai kemanusiaan yang tumbuh dalam karakter seseorang. Momentum Idul Adha mampu mereduksi ‘kecurigaan’ antara yang miskin dan yang kaya (yang berkurban). Sehingga dari perayaan Idul Adha harmonisasi kehidupan bisa tercipta. Afirmasi berkurban juga memberikan sarat akan edukasi filantropi. Edukasi filantropi merupakan aktualisasi sikap peduli etos berbagi dan spirit mengasihi sesama yang tidak berkecukupan, terutama asupan gizi hewani. Ibadah-ibadah sunnah dalam Islam, seperti zakat, infak, sedekah, wakaf, dan berkurban. Karena itu, semangat yang dikembangkan adalah aktualisasi kedermawanaan sosial dengan menyantuni, mengasihi, dan memberdayakan kaum lemah, tidak mampu dan tidak berdaya.

Kedermawanan sosial dalam berkurban juga diteladani Nabi Muhammad SAW ketika berada di Madinah, setelah hijrah dari Mekkah. Setiap Idul Adha beliau selalu menyembelih sendiri dua ekor hewan kurbannya, lalu membagikan dagingnya kepada yang berhak menerimannya, dan sebagian kecil dagingnya dikonsumsi keluarga Nabi sendiri. Etos filantropi pertama kali dipelopori dan digerakkan Nabi Muhammad SAW dan istri tercinta Khadijah RA, yang mendermakan dan mewakafkan hampir seluruh hartanya untuk misi mulia dan kemajuan peradaban Islam. Dengan kata lain, edukasi filantropi salah satu kunci kesuksesan dunia Islam dalam membangun peradaban Islam Berkemajuan.

Sejarah membuktikan edukasi dan tradisi filantropi merupakan salah satu sakaguru ekonomi umat sekaligus menjadi solusi yang dahsyat dalam mengatasi berbagai polemik umat dan bangsa seperti pengurangan angka kemiskinan dan kelaparan. Gerakan mewakafkan diri untuk kemaslahatan bangsa dan umat juga termasuk simbolis jiwa filantropis. Idul Adha dan ibadah kurban diharapkan mampu menjadi model strategis untuk menumbuhkan kesadaran dan etos filantropi dengan edukasi filantropi umat dan bangsa yang dapat bersinergi menurunkan angka kemiskinan Indonesia. Edukasi filantropi perlu digaungkan melalui pemberdayaan peserta didik di lingkungan pesantren, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi untuk belajar mengasihi sesama melalui kurban berjamaah secara patungan, sehingga edukasi filantropi selalu menginspirasi NKRI untuk berbudaya memberi dan berbagi, bukan meminta-minta. Karena tangan di atas (memberi itu lebih baik dan mulia) daripada tangan di bawah (meminta-minta

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like