web analytics

Menangani Akhlak Anak Digital Native

Menangani Akhlak Anak Digital Native
Ilustrasi tholabul ilmi dalam mencetak akhlaqul kharimah
0 0
Read Time:6 Minute, 19 Second

Salah satu pembicaraan yang fenomenal zaman sekang ialah merosotnya akhlak anak terhadap orang tua. sudah tidak heran lagi, kenapa akhlak anak bisa merosot bahkan bisa drastis nyaris tidak memiliki akhlak sekalipun? Sebenarnya sedikit sekali bagi orang tua yang tidak menyadari, bahwa pemerosotan akhlak anak tidak dipandang dari kesalahan sang anak saja. Butuh perenungan yang mendalam akan hal ini. Sehingga orang tua harus sadar, apakah orang tua sudah menjalankan kewajiban untuk anaknya?

Perlu diketahui, bahwa kedua orang tua punya peran penting dalam mendidik sang anak dengan beragam cara. Sebaliknya, sang anak juga memiliki kewajiban menghormati kepada orang tua. sehingga orang tua dan anak memiliki kewajiban masing-masing, agar membuat keluarga menjadi harmonis.

Kewajiban orang tua dalam mendidik akhak kepada sang anak memang harus diperhatikan betul. Di dalam kitab akhlaqul lil banin karangan beliau Syekh Umar bin Achmad Baradja sudah menceritakan, bahwa akhlaq itu seperti halnya bunga, jika bunga dirawat sejak kecil secara tekun, ketika sudah besar akan tegak lurus dan terlihat indah. Sebaliknya, jika bunga tidak dirawat dan dibiarkan saja dari sejak kecil, ketika tumbuh besar akan terlihat buruk, bengkong, dan tidak indah atau layu.

Hal ini sama dengan seorang anak. Jika anak  diajarkan akhlak dan ber-perilaku baik secara tekun dari kecil, nanti ketika sudah dewasa, didikan akhlak yang diterapkan oleh orang tua akan membekas dibenak sang anak sampai akhir hayatnya.

Sebaliknya, jika sang anak tidak diberikan didikan akhlak sejak kecil, nanti kalau sudah dewasa, jangan harap ada yang namanya akhlak pada diri sang anak. Sudah tidak heran lagi, jika sang anak tidak mempunyai akhlak, salah satu faktornya ialah orang tua tidak menerapkan didikan akhlaq kepada sang anak.

Apa lagi Melihat Era sekarang, dunia telah dipenuhi oleh tekhnologi, pastinya sangat menjamur sekali ditelinga, mendengar kata Hand phone (HP) seakan sudah menyatu dengan kehidupan sehari-hari.  sekarang semua masyarakat atau setiap individual sudah mempunyai Hp masing-masing, entah mulai dari anak kecil hingga orang dewasa.

Selain Pendidikan akhlak yang diterapkan, orang tua juga perlu ada penanganan lebih  terhadap penggunaan HP pada sang anak. Sebenarnya Hp untuk sang anak mempunya nilai plus dan minusnya sendiri. Poin plusnya ialah anak-anak era sekarang merupakan anak digital Native atau anak yang terpapar oleh digital sejak lahir. Sehingga untuk menjauhkan HP pada sang anak, memang sangat sulit sekali.

Uniknya, Anak sekarang lebih mengenal tombol “play” sebelum huruf Alfabert, hal ini juga menjadikan faktor tersendiri bagi orang tua dalam mendidiknya. Dan inilah poin-poin plus atau poin positifnya jika sang anak memegang HP, disertai adanya bimbingan, Batasan, pantauan, arahan dari kedua orang tua.

  1. Pintar memilih informasi sesuai dengan kebutuhan.

Pembahasan pertama yang harus digaris bawahi ialah harus ada pantauan lebih dari orang tua, agar anak bisa memilih informasi yang tidak menyeleweng. Agar kedepannya nanti sang anak terbiasa dengan informasi-informasi yang bersifat positif.

Masalah informasi media, dalam teori komunikasi, ada namanya teori Use and Grafication. Teori ini dikembangkan oleh Elihu Khadz tahun 1959 yang menyatakan,  bahwa media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha untuk mencari sumber media yang paling baik dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhannya. Menurut teori ini, konsumen media mempunyai kebebasan untuk memutuskan bagaimana (lewat media massa) mereka menggunakan media dan bagaimana media itu akan berdampak pada dirinya.  [2]

Poin pertama ini sangat jelas sekali, ketika sang anak memgang HP tanpa pantauan dan arahan orang tua, maka potensi terjangkit oleh konten buruk bisa mungkin terjadi, sehingga bisa mempengaruhi akhlak dan tingkah laku sang anak.

  1. Berfikir kreatif

Anak Digital Native cenderung bisa berfikir kreatif, karena sejak kecil sudah bisa mengakses informasi dengan cara sekali klik, jika sang anak bisa mengontrol dan selalu mendapatkan konsumsi konten-konten bernilai positif, maka yang dihasilkan akan memepengaruhi kecerdasan dalam berfikir kreatif.

  1. Kebiasaan baik

Ketika sang anak sudah mulai terlatih pada hal-hal yang positif, maka tingkah, perilaku serta pola hidupnya akan baik. Hal ini selaras sekali dengan teory komunikasi Hipodermik [4] istilah singkatnya teory ini seperti jarum suntik, jika seseorang terkena jarum suntik, pasti nanti akan terkena efek sampingnya. Contoh kecilnya, seorang anak yang melihat film power ranger di televisi, setelah film tersebut selesai, pola fikir sang anak seakan-akan ingin menjadi power ranger, dan perilaku yang ia tonton pasti akan ditiru. Coba bayangkan, bagaimana jika sang anak meniru perilaku yang tidak baik? Terus bagaimana perilaku kedepannya nanti?

Diatas ialah poin bernilai positif pada sang anak, sekarang dampak negatif pada sang anak saat memegang HP tanpa adanya pantauan, arahan serta batasan memegang HP.

  1. Bahaya terlalu sering menatap HP menyebabkan kantong mata kering.
  2. Radiasi yang mengganggu perkembangan dan kesehatan sang anak.
  3. Kurangnya bersosialisai, hal ini bisa menghambat kemampuan interaksi sang anak dengan orang lain.
  4. Anak akan susah untuk mempelajari hal baik (diluar konteks HP), seperti memahami hal-hal pelajaran dll.
  5. Bisa menjadikan malas belajar, karena sudah kecanduan dan terlalu fokus pada asiknya bermain HP.

inilah konsekuensi jika sang anak dibebaskan memegang HP dan tidak ada bimbingan dari orang tua sama sekali. Apalagi kedua orang tua juga mempunyai kewajiban yang lebih terhadap anaknya, agar sang anak memiliki masa depan yang positif dan memiliki etika atau akhlakul karimah.

Sebenarnya selain kitab akhlaqul lil banin yang membahas tentang kewajiban orang tua mendidik pada sang anak, ada juga kitab yang lebih menegaskan lagi yakni Kitab Targhib Wa Tarhib Karya Zakiyudin Abdul Azhim Al-Mundzir. Jika diringkas, Ada tiga point yang bisa dijadikan motivasi orang tua dalam mendidik anaknya.

Point pertama ialah, Rasulullah SAW. telah menyebutkan satu pelajaran akhlaq pada sang anak lebih baik dari pada ibadah sedekah makanan pokok seberat 1 sha atau setara dengan 2,7 kilogram gandum.

عن جابر بن سمرة رضي الله عنه قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم  لأنْ يُؤَدِّبَ الرجلُ وَلَدَه خيرٌ من أن يتصدق بصاع أخرجه الترمذي

Artinya, “Dari sahabat Jabir bin Samurah ra, Rasulullah saw bersabda, ‘Pengajaran seseorang pada anaknya lebih baik dari (ibadah/pahala) sedekah satu sha, (HR At-Tirmidzi).

Anak merupakan anugrah dan Amanah dari Allah SWT. sudah sepatutnya kedua orang tua merawat dan memuliakan sang anak dengan penuh kasih sayang, lazimnya kedua orang tua memberikan hal terbaik untuk sang anak, antara lain makanan, minuman dll. Tetapi pemberian terbaik orang tua untuk sang anak ialah memberikan didikan akhlaqul karimah dan memuliakan sang anak. Hal ini sesuai dengan Poin kedua dan ketiga.

عن أَيُّوبَ بْنِ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا خَيْرًا لَهُ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ

Artinya, “Dari Ayyub bin Musa, dari bapaknya, dari kakeknya, Rasulullah saw bersabda, ‘Tiada pemberian orang tua terhadap anaknya yang lebih baik dari adab yang baik,’” (HR At-Tirmidzi).

عن ابن عباس عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أَكْرِمُوْا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوْا آدَابَهُمْ رواه ابن ماجه

Artinya, “Dari sahabat Abdullah bin Abbas ra, dari Rasulullah saw bersabda, ‘Muliakanlah anak-anakmu, perbaikilah adab mereka,’” (HR Ibnu Majah).

Jadi, mulai dari sini mari berfikir sekali lagi, faktor apakah yang menyebabkan merosotnya akhlak sang anak di era digitalisasi ini? Orang tua ataukah anaknya? Artikel ini hanya memberikan edukasi saja, mari bersama-sama mengambil hikmahnya.

Wallahua’lam

Ref :

Kitab Taghrib wa tarhib

Kitab Ahlaqul lil banin kara syeikh Umar Baraddja

Jurnal Humaizi, M. (2018). Uses and Gratifications Theory.

Mukarom, Z. (2020). Teori-Teori Komunikasi. Bandung: Jurusan Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Penulis : Muhamad Burhanudin

About Post Author

Burhan Udin

Anak ingusan yang mencari ridho dalam dunia literasi.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like