web analytics

Meneladani Perjuangan Ulama Nusantara Dalam Kemerdekaan Indonesia

Meneladani Perjuangan Ulama Nusantara Dalam Kemerdekaan Indonesia
0 0
Read Time:4 Minute, 59 Second

Tak terasa, saat ini kita sudah memasuki bulan Agustus, seperti yang kita ketahui bulan agustus merupakan bulan istimewa bagi negara Indonesia. Pada bulan ini Presiden pertama RI yaitu Ir Soekarno, memproklamasasikan kemerdekaan Indonesia dari jajahan belanda, tepatnya hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945 di jalan pegangsaan timur 56, Jakarta Pusat. Tentunya dalam memproklamir kemerdekaan Indonesita, tak semudah memproklamirkan kemenangan pilpres yang kita ketahui. Semua itu harus melalui proses panjang dengan penuh tantangan dan perjuangan.

Nah ngomong-ngomong kita sebagai santri, sebenarnya apa yang harus dilakukan  dalam menghargai jasa para pahlawan yang telah gugur mendahului kita. Dalam catatan sejarah sendiri, santri memiliki kontribusi besar dalam kemerdekaan Indonesia. Seperti yang tercatat dalam  buku Api Sejarah dan Revolusi Jihad. Bahwasannya tokoh ulama yang cukup fenomenal yaitu KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa jihad untuk para santri turun dalam medan perang yang terjadi di Surabaya,

Dari sinilah, kita sebagai santri dipaksa memiliki ghirroh besar dalam diri kita untuk menghargai jasa para pahlawan. Bukanlah hal yang mudah dalam proses perjuangan yang dilakukan para pahlawan kita, nyawa sudah menjadi jaminan pasti demi mengkibarkan bendera merah putih. Dari kalangan pesantren, terutama ulama-ulama terdahulu, Juga berjuang bertaruh nyawa dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Adapun ulama-ulama NU yang berjuang dalam kemerdekaan adalah sebagai berikut.

1. KH M Hasyim Asy’ari

Ialah tokoh utama pendiri NU. Pendiri dan Pengasuh pertama Pesantren Tebuireng, Jombang tersebut merupakan satu-satunya penyandang gelar Rais Akbar NU hingga akhir hayatnya dan tidak pernah ada lagi hingga sekarang. Ayahanda KH Abdul Wahid Hasyim ini ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 17 November 1964 berkat jasanya yang berperan besar dalam pendidikan melalui NU dan melawan penjajah.

 2. KH Zainul Arifin  

KH Zainul Arifin, merupakan tokoh NU asal Barus, Sumatera Utara. Keturunan raja-raja Barus ini aktif di NU sejak muda melalui kader dakwah.

 3.  KH Abdul Wahid Hasyim 

KH Abdul Wahid Hasyim adalah putra Hadratussyekh KH Hasyim As’yari. Ia tercatat sebagai salah seorang anggota Badan Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

4.  KH Zainal Musthafa 

Ulama lainnya yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional adalah KH Zainal Musthafa. Sang ulama ini merupakan tokoh NU dari Tasikmalaya, Jawa Barat dan pernah menjadi salah seorang Wakil Rais Syuriyah. Dirinya merupakan salah seorang kiai yang secara terang-terangan melawan para penjajah Belanda.

 5. KH Idham Chalid 

Ulama ini tercatat pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda. Juga sebagai Ketua MPR dan Ketua DPR. Sebelum aktif berpolitik dan duduk di kuris parlemen dan kementerian, Kiai Idham merupakan seorang pejuang kemerdekaan dari tanah kelahirannya di Kalimantan Selatan.

6. KH Abdul Wahab Chasbullah 

Ialah salah seorang pendiri NU. Sebelumnya, Kiai Wahab dikenal sebagai pendiri kelompok diskusi Tashwirul Afkar (pergolakan pemikiran), pendiri Madrasah Nahdlatul Wathan (kebangkitan negeri), pendiri Nahdlatut Tujjar (kebangkitan pedagang).

Sejak 1924, Kiai Wahab mengusulkan agar dibentuk perhimpunan ulama untuk melindungi kepentingan kaum tradisionalis yang bermazhab.

7.KH As’ad Syamsul Arifin  

KH As’ad Syamsul Arifin salah seorang kiai berperang melawan penjajah. Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo, Banyuputih, Situbondo tersebut menjadi pemimpin para pejuang di Situbondo, Jember maupun Bondowoso.

8. KH Syam’un

KH Syam’un merupakan pengurus NU di Serang, Banten. Pernah hadir di Muktamar NU keempat di Semarang pada 1929, pada Muktamar NU kelima di Pekalongan 1930 dan pada Muktamar NU kesebelas di Banjarmasin pada 1936. KH Syam’un selain alim dalam keilmuan, menguasai tiga bahasa asing dan pernah mengajar di Arab Saudi pada masa mudanya, ketika kembali ke tanah air, bergabung dengan kelaskaran. Ia pernah menjadi perwira tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Juga pernah menjadi Komandan Batalyon berpangkat daidancho atau mayor tahun 1943.

9. KH Masykur 

KH Masjkur adalah tokoh NU yang pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Di antara kontribusinya adalah ikut terlibat merumuskan Pancasila sebagai dasar negara. KH Masjkur juga tercatat selaku pendiri Pembela Tanah Air (Peta) yang kemudian menjadi unsur laskar rakyat dan TNI di seluruh Jawa.

10. H Andi Mappanyukki

H. Andi Mappanyukki (Suku Bugis) Raja Bone, pendiri NU Sulawesi Selatan, berjuang melawan penjajah Belanda dan Jepang 1945-1949. Ia mendapatkan gelar Pahlawan Nasional RI berdasarkan SK Pres RI No 089 5 November 2004.

11. H Andi Djemma (Suku Luwu) 

Ia merupakan Raja Luwu. Pendiri NU Sulawesi Selatan ini berjuang melawan penjajah Belanda 1946-1948. Ia mendapatkan gelar Pahlawan Nasional RI berdasarkan SK Pres RI No. 073 6 November 2002.

12. Usmar Ismail

Ia berasal dari suku Minang, beliau adalah Muassis, pendiri Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) NU bersama H Djamaluddin Malik, dan Asrul sani pada tahun 1962-1970, Usmar Ismail pun mendapat amanah sebagai Ketua I PBNU 1964-1970 PBNU.

Ia dikenal sebagai seorang sutradara film, sastrawan, wartawan, dan pejuang Indonesia. Ia dianggap sebagai pelopor perfilman di Indonesia. Selain itu, dikenal sebagai pelopor drama modern di Indonesia, dan juga Bapak Film Indonesia.

Data di atas merupakan beberapa ulama yang berjuang besar dalam proses kemerdekaan Indonesia. Walaupun beliau seorang Kiai, yang dikenal berkompenten dalam segi dorongan ruhaniyah, tetapi kenyataanya tidak. Dalam perjalan kemerdekaan pun, beliau turut langsung di medan perang. Selain memberikan dorongan yang bersifat ruhaniyyah, beliau-beliau juga andil dalam wujud nyata di medan laga.

Inilah yang patut kita teladani sebagai santri, apalagi santri yang distatuskan sebagai regenerasi kiai dan harapan besar bangsa. Jangan sampai kita menyia-nyiakan perjuangan pahlawan, khususnya dari tokoh ulama. Walaupun sekarang kita sudah berbeda dalam segi dimensi waktu atau dimensi masa, tetapi dengan menjadi regenerasi yang baik dan juga bermanfaat, hal seperti itu sudah bisa dikatakan sebagai cara kita dalam menghargai jasa para pahlawan.

Selain itu, spektrum dimensi masa sekarang adalah jatah kita sebagai santri dalam meneruskan perjuangan para pahlawan. Menimbang kultur tantangan terdahulu dan saat ini amatlah berbeda. Kalau zaman dahulu berjuang dengan cara angkat senjata pergi ke medan laga, untuk saat ini adalah berjuang dengan menggerakan pena di atas kertas yang di barengi dengan pikiran bersahaja.

Bagi santri meneruskan perjuangan pahlawan khususnya para ulama adalah kewajiban Mutlaq bagi santri saat ini. Teruslah belajar dengan giat, tuntaskan berbagai hafalan dan buatlah dunia terbungkam dengan karyamu.

Sekian, Wallahu a’lam

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like