web analytics

Menggali Eksistensi Pesantren, di Tengah Berita Yang Sedang Tren

0 0
Read Time:2 Minute, 36 Second

Santri merupakan seorang pelajar yang menempuh pendidikan dalam dunia pesantren. Dalam prosesnya belajarnya, santri  diberikan dedikasi berbagai fan ilmu, mulai dari ilmu yang sifatnya wajib personal (Fardhu ‘ain), atau ilmu yang wajib bagi sebagian orang (Fardhu kifayah). Sedangkan pesantren sendiri, merupakan lembaga pendidikan berbasis agama islam yang di prakasai oleh para kiai dan ‘Alim Ulama terdahulu. Sebagai orbit belajar santri, tentunya pesantren memiliki peran besar dalam mencetak

Generasi emas nan brilian bagi bangsa dan tanah air Indonesia. karena selain mengajarkan pendidikan Agama, pesantren juga mengajarkan pendidikan non agama dalam konteks ini ilmu umum. Nah, atas latar belakang  berdirinya pesantren, tentunya tak lepas dari ajaran akhlak, adab atau pendidikan moral santri. Dengan berpatok pada Kiai dan ‘Alim Ulama dengan Tawadhu’ dan kerendahan hatinya, ibarat padi semakin berisi semakin menunduk ke bawah.  Intinya, seorang santri selalu mengedepankan  tata krama atau atitude sebagai ciri khas santri salafy.

Namun, belakangan ini informasi terjadinya konflik dalam pesantren yang telah terekspos ke khalayak umum, menjadi  hal buruk yang mencoreng nama pesantren. Seperti kejadian kasus kekerasan, perundungan, bully dan lain sebagainya. Kasus yang teridentifikasi di lakukan oleh sesama santri atau bahkan pengurus santri, menajadi bahan asumsi buruk oleh  masyarakat luar, yang tak mengetahui detail hiruk pikuk kehidupan santri dalam pesantren.

Atau mungkin kasus kekerasan verbal atau non verbal yang dilakukan oleh pengurus pondok itu sendiri, walaupun itu di lakukan oleh oknum-oknum tertentu, tetapi dampaknya mengglobal ke seluru santri di bawah naungan pesantren. Sebenarnya yang perlu di garis bawahi disini adalah, tentang penerapan hukumnya. Dalam pesantren sendiri  menerapkan hukum adat, atau hukum yang sesuai dengan kultur/kebiasaan pesantren. Berbeda dengan hukum sipil negara.

Nah, maka dari itu hukuman yang berada di dalam pesantren sebenarnya tetap mengedepankan nilai kemanusiaan. Walaupun toh terkadang bisa di bilang agak ekstrim atau menyakiti tetapi sebenarnya tidak dengan niat ingin menyakiti. Tujuannya adalah agar si santri tersebut tersadar dari kesalahannya.

Bayangkan saja, dalam pesantren menampung berbagai macam orang dengan isi hati dan kepala yang berbeda-beda. Berbagai karakter yang bervariasi memunculkan sifat baik, sangat baik, buruk, jahat dan sangat jahat. Dengan hal itu, pesantren di tuntut mengedepankan pada perbaikan karakter atau watak yang sesuai dengan syari’at islam, Dan dalam syar’at sendiri pasti mengarah pada hal yang sifatnya baik. Disinilah titik tekannya, tugas pesantren kalau di amati memang cukup berat. Yaitu membenahi watak atau karakter seseorang agar sesuai dengan syari’at.

Maka tak heran donk, kalau para pengurus pesantren kadang kala memukul, menghukum, menyuruh atau bahkan memarahi dan memaki. Itu sebenarnya tidak berniatan menyakiti, akan tetapi agar si seorang santri yang belum sesuai dengan ajaran syari’at berada pada jalur syari’at sebenarnya. Nah, dari sini mungkin teman-teman yang belum paham secara detail mengenai seputar pesantren sudah faham yah, yang mana pesantren tak sebengis yang kita bayangkan. Walaupun toh, ada beberapa kasus atau kabar kekerasan berujung kematian itu sebenarnya hanya sebagian saja dan di lakukan oleh oknum tertentu.

Esensi pesantren seperti yang terpapar di atas tadi adalah  pembentukan karakter dan watak agar menjadi lebih baik yang sesuai dengan syari’at islam. Pesantren ibarat bengkel manusia, di mana keberadaannya bertujuan untuk membenahi dan mengedukasi seseorang agar lebih baik lagi. Sekiannn semoga bermanfaat.

About Post Author

Darul Said

Jurnalis Pesantren Berusaha menjadi yang terbaik, di antara yang baik "Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak".
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
el mahrusy id

Jurnalis Pesantren Berusaha menjadi yang terbaik, di antara yang baik "Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak".

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Mengenal 78 Cabangan Iman: Menyelami Kedalaman Ajaran Syaikh Nawawi Al-Jawi

Mengenal 78 Cabangan Iman: Menyelami Kedalaman Ajaran Syaikh Nawawi Al-Jawi

Memilah Makna Ramadhan Bukan Dari Sekadar Kemasan   

Memilah Makna Ramadhan Bukan Dari Sekadar Kemasan  

Mengapa Ibu Disebut Tiga Kali dalam Hadits Nabi? Berikut Penjelasan dan Hikmahnya

Mengapa Ibu Disebut Tiga Kali dalam Hadits Nabi? Berikut Penjelasan dan Hikmahnya

KH. Mahrus Aly: “Mulango Ngaji! Nek Nganti Awakmu Ora Iso Mangan, Ketho’en Kupingku.”

KH. Mahrus Aly: “Mulango Ngaji! Nek Nganti Awakmu Ora Iso Mangan, Ketho’en Kupingku.”

Bayangkan Jika Kita Tidak Menulis

Bayangkan Jika Kita Tidak Menulis

Hikayah dan Hikmah di Balik Istimewanya Bacaan Tahiyat

Hikayah dan Hikmah di Balik Istimewanya Bacaan Tahiyat