web analytics

Menghidupkan Tradisi, Menghayati Esensi Maulid Nabi

0 0
Read Time:3 Minute, 39 Second

Peringatan Maulid Nabi jangan berhenti pada euforia saja, harus tahu esensinya!

-Gus Izzul Maula

Dalam tradisi pesantren, terdapat berbagai amaliyah yang diwariskan oleh para masyayikh dan dipertahankan dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari warisan spiritual yang mengandung nilai pendidikan, keteladanan, dan pembentukan akhlak. Sebagai seorang santri menjaga amaliyah yang telah dicontohkan oleh masyayikh merupakan bentuk penghormatan terhadap tradisi keilmuan sekaligus upaya mempertahankan nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh para masyayikh.

Namun demikian, menjaga tradisi tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk lahiriahnya saja. Peringatan Maulid hendaknya tidak berhenti pada euforia sesaat. Kemegahan acara, lantunan shalawat, dan semarak majelis memang dapat menjadi ekspresi kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW. Akan tetapi, esensi Maulid justru terletak pada sejauh mana peringatan tersebut mampu menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW. dan menghadirkan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Ungkapan Imam Ibnu Atha’illah Al-Sakandari:

حُبُّ النَّبِيِّ إِيمَانٌ، وَذِكْرُهُ عِبَادَةٌ، وَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ نُورٌ

Cinta kepada Nabi merupakan bagian dari iman, mengingat beliau merupakan ibadah, dan bershalawat kepada beliau merupakan cahaya.

Ungkapan tersebut menggambarkan tiga dimensi penting dalam hubungan seorang Muslim dengan Rasulullah SAW. yaitu mahabbah, dzikir, dan shalawat. Ketiganya bukan sekadar aktivitas ritual, tetapi merupakan proses yang semestinya membentuk karakter seorang Muslim.

Mencintai Nabi

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَ وَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidak sempurna keimanan salah satu dari kalian sampai diriku lebih ia cintai dari pada orang tuanya, anaknya, dan semua manusia

-Nabi Muhammad SAW.

Hadis tersebut menunjukkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW. memiliki posisi penting dalam kesempurnaan iman. Namun, bagaimana seseorang dapat mencintai Rasulullah SAW. sementara ia tidak pernah hidup sezaman dengan beliau dan tidak pernah melihat wajah beliau? Tidak pernah mendengar suara beliau. Pada umumnya manusia akan mencintai hal-hal yang dapat dilihat dan dapat dikenali, setelah bertemu, setelah berinteraksi, jadi bagaimana kita dapat mencintai nabi sementara tidak pernah berjumpa sama sekali?

Kuncinya adalah Mengenal. Disinilah pentingnya kita membaca, mengetahui, dan memahami sirah nabawiyah sebagai sarana kita untuk menumbuhkan cinta kepada Nabi Muhammad SAW. dengan membaca sejarah kehidupan Rasulullah SAW. kita tidak hanya mengetahui perjalanan hidup beliau, tetapi juga mengenal kepribadian, perjuangan, kesabaran, kasih sayang, kejujuran, dan akhlak beliau. Semakin seseorang mengenal Rasulullah SAW. semestinya semakin tumbuh rasa cinta dan keinginan untuk meneladani beliau.

Hal tersebut menjadi semakin penting di tengah kehidupan generasi muda saat ini. Kemudahan akses terhadap budaya populer membuat seseorang dapat mengenal berbagai tokoh secara sangat mendalam. Tidak sedikit yang lebih mengetahui kehidupan artis, tokoh hiburan, karakter film, maupun boyband luar negeri daripada sejarah nabinya sendiri. Maulid seharusnya menjadi momentum untuk menumbuhkan cinta kita kepada Rasulullah SAW, bukan sekadar menjadi perayaan tahunan yang selesai setelah acara usai.

Mengingat Nabi

Mengingat Rasulullah merupakan ibadah. Akan tetapi, mengingat tidak sekedar kata ingat saja, mengingat Rasulullah SAW. seharusnya membawa kita kepada upaya untuk meneladani beliau. Mengingat tidak hanya sekedar mengenang tapi meneladani apa yang beliau ajarkan.

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq

Dengan demikian, cinta kepada Rasulullah SAW. harus memiliki konsekuensi moral. Tidak cukup mengatakan bahwa kita mencintai Nabi apabila perilaku kita justru jauh dari akhlak Nabi yang kita teladani. Rasulullah SAW. diutus untuk menyempurnakan akhlak. Sebab itulah, tolak ukur mengingat dan mencintai nabi adalah munculnya perubahan dalam akhlak dan perilaku. Apabila diruntut, Secara tidak langsung meneladani kanjeng nabi bisa menjadi solusi atasi dekadensi.

Shalawat sebagai Cahaya

Bagi seorang thalibul ‘ilmi, memperbanyak shalawat dapat menjadi bagian dari ikhtiar spiritual dalam menuntut ilmu. Proses belajar tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga hati yang lembut, kesabaran, ketekunan, dan keberkahan. Shalawat menjadi salah satu amalan yang dapat menguatkan hubungan batin seorang santri dengan Rasulullah SAW. sekaligus mengingatkannya kepada akhlak yang harus diwujudkan dalam proses belajar.

Pada akhirnya, Maulid bukan sekadar peringatan tentang kelahiran Rasulullah SAW. Ia merupakan momentum untuk menghidupkan kembali mahabbah, memperkuat dzikr, memperbanyak shalawat, dan mengaktualisasikan akhlak Rasulullah SAW. dalam kehidupan.

Sebab mencintai Nabi bukan hanya tentang seberapa meriah euforia peringatannya, melainkan tentang seberapa jauh kita mengenalnya, mengingatnya, bershalawat kepadanya, dan berusaha meneladani akhlaknya. Wallahu a’lam.

About Post Author

Alifia Azzahra

Santri Mahrusy, pengemis syafaat Nabi asal kediri
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Santri Mahrusy, pengemis syafaat Nabi asal kediri

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Tradisi Lempar Buah Penuh Berkah, Peringatan Maulidur Rasul serta Haul Nyai Hj. Siti Qomariyah

Tradisi Lempar Buah Penuh Berkah, Peringatan Maulidur Rasul serta Haul Nyai Hj. Siti Qomariyah

Penutupan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama

Penutupan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama

Sebagai Ajang Promosi: Mengintip Stand Unik di Bazar Muktamar ke-35 NU

Sebagai Ajang Promosi: Mengintip Stand Unik di Bazar Muktamar ke-35 NU

Muktamar ke-35 NU: Solidaritas dan Budaya Gotong Royong Masyarakat Amat Kuat

Muktamar ke-35 NU: Solidaritas dan Budaya Gotong Royong Masyarakat Amat Kuat

Pembukaan Muktamar ke-35, Prabowo Subianto Sampaikan Maaf Kepada NU

Pembukaan Muktamar ke-35, Prabowo Subianto Sampaikan Maaf Kepada NU

Gus Anaz Tegaskan Manifestasi Cinta dan Kepercayaan dalam Pembentukan Akhlakul Karimah

Gus Anaz Tegaskan Manifestasi Cinta dan Kepercayaan dalam Pembentukan Akhlakul Karimah