web analytics

Menilik Sejarah, Kiprah dan Perjuangan KH. Imam Yahya Mahrus Bersama Dr. Kiai Bustanul Arifin, M.Pd,I

Menilik Sejarah, Kiprah dan Perjuangan KH. Imam Yahya Mahrus Bersama Dr. Kiai Bustanul Arifin, M.Pd,I
0 0
Read Time:5 Minute, 26 Second

Sejak dulu Mbah Imam terkenal dengan kiai intelek yang melebihi zamannya, di masa sekuno itu beliau mampu memiliki gagasan-gagasan yang dianggap tidak wajar oleh orang-orang sekelilingnya. Sebab itu beliau merasa kesusahan untuk mencari teman berjuang. Namun beliau tidak ada niatan sedikit pun untuk memilih menyerah, sekalipun tenaganya tersisa tinggal sebutir saja.

KH. Imam Yahya Mahrus mewarisi Keintelektualan Mbah Mahrus Ali

Setelah wafatnya Mbah Mahrus, KH. Imam Yahya Mahrus diangkat menjadi rektor Universitas Islam Tribakti (UIT) pada Desember 1985, pada saat itu ada BISMA (Bimbingan Studi Mahasiswa) kalau sekarang namanya PBAK (Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan). Dari sinilah kiprah Mbah Imam dimulai.

Dulu Mbah Imam pernah berkeluh atas adanya peraturan baru, yang berbunyi kalau di kampus hanya tersedia fakultas khusus, maka Universitas akan diganti menjadi Institut, beliau berkata “Kalau UIT yaa akan terus menjadi UIT”, akhirnya Mbah Imam memperjuangkan UIT yang dulu hanya ada fakultas Syari’ah dan Tarbiyah, menjadi 5 fakultas, yakni fakultas pertanian, hukum, ekonomi, keguruan dan ilmu Pendidikan dan Fakultas Dakwah. Pendirian fakultas ini bebarengan dengan dibukanya TK, MI, MTs dan MA tanggal 21 bulan Juni 1986.

Sebelum menjadi Universitas Islam Tribakti, dulunya bernamakan Yayasan Badan Wakaf, kemudian berubah menjadi Yayasan Pendidikan Islam Tribakti (YPIT) di bulan November 1986 dan setahun selanjutnya sudah mulai penerimaan mahasiswi pertama kalinya.

Perjuangan KH. Imam Yahya Mahrus Mendirikan Pondok Pesantren

Perjuangan KH. Imam Yahya sangatlah berat, pada awal melangkah beliau sering kali kena tipu. Pernah suatu waktu, saat Mbah Imam sedang mencari sebidang tanah, malah beliau dibohongi. Saat itu beliau dikenai harga tanah 40jt namun Kiai Imam membayar 15-20jt dulu, sertifikat belum sampai ke tangan, malah sudah dijual lagi pada orang lain dan uang Kiai Imam tidak kembali.

Sebelum mendirikan pondok pesantren, beliau mendirikan pendidikan formal dari TK, MI, MTs dan MA yang tergabung dalam Yayasan Pendidikan Islam Tribakti. Gedungnya bertempat dibelakang Pascasarjana UIT (sekarang) dengan bangunannya masih memakai triplek. Atas pembangunan ini Kiai Imam pernah didemo oleh para aktivis kampus. Beruntungnya setelah tragedi ini, semua kembali damai bersahaja.

Bertambahnya waktu, semakin menambah pula jumlah pelajar, termasuk pelajar putri untuk menampungnya, maka dibangunlah asrama 81 di depan Rumah Sakit Gambiran. Setelah 6 bulan lamanya, asrama beralih menjadi pondok dengan nama HM Putri dan ini menjadi pondok putri pertama di Lirboyo.

Pada tahun 1987 Kiai Imam sudah mulai merintis pondok pesantren, bahkan sudah ada plakatnya, namun baru bisa diresmikan pada tanggal 1 Agustus 1988 dengan nama Pondok Pesantren Ibnu Rusydi, diambil dari nama kecil Mbah Mahrus. Asma itu hanya bertahan sampai 3 bulan dan diganti menjadi HM Putra (HMP) sampai pada tahun 2014. Kemudian berubah lagi menjadi Al-Mahrusiyah yang bertahan hingga detik ini.

Sebelum pendirian pondok pesantren, Kiai Imam hanya sekadar membuka pengajian biasa, muhadatsah dan amaliyah-amaliyah dzikir seperti Istighotsah. Namun karena banyak muncul keluhan mahasiswa yang tidak punya tempat belajar di Lirboyo, maka niat beliau semakin mantap untuk mendirikan Pondok Pesantren.

Awal-mula Pelaksanaan Amalan Istighotsah

Istighotsah mulai dijalankan semenjak meninggalnya KH. Mahrus Ali, dimulai dari jam 2 sampai selesai. Pada saat itu memang banyak ulama yang diangkat Allah Swt. seperti Kiai Mustain Romli, Kiai Zarkasyi, Kiai Jamal mertuanya Gus Maksum dll. Dalam waktu 3 bulan ada 9 kiai wafat, makanya sebelum Mbah Mahrus meninggal beliau dawuh sudah waktunya santri menjalankan amalan-amalan orang dulu. Sebelum Mbah Mahrus meninggal, beliau sempatkan untuk memberikan ijazah amalan pada santri. 3 hari setelahnya, muncul Istighotsah Al-Mahrusiyah dengan durasi 2-3 jam dan hingga saat ini masih diamalankan oleh para santrinya.

Keteladanan KH. Imam Yahya Mahrus

  • Kesederhanaan KH. Imam Yahya Mahrus

Imam Yahya adalah sosok yang sangat sederhana, bahkan untuk makan saja hanya dengan nasi putih yang ditutul dengan sambal bawang. Beliau senantiasa mengajarkan pada santrinya, kalau mondok itu cukup bawa sarung 3 saja, 1 untuk solat, 1 untuk main dan 1 untuk salat jumat. Baju yang dipakai pun cukup seragam, baju untuk ibadah dan untuk main bisa dengan kaos secukupnya.

  • Sikap bertanggungjawabnya KH. Imam Yahya Mahrus

Mbah Imam selalu mengajarkan para santri untuk bertanggung jawab. Ketika beliau menugasi santri pun konsisten mendampingi dan mengarahkan, apa yang masih kurang, apa yang belum bagus dan seterusnya.

Beliau juga mengajarkan santrinya untuk mandiri. Bahkan ketika santri sudah menjadi pengajar, baiknya membawa pulpen atau alat ajar sendiri, walau sebenarnya sudah disediakan oleh madrasah. Tanggung jawab dan kemandirian betul-betul Mbah Imam tekankan.

Pernah saat Dr. Bustanul Arifin M.Pd.I (santrinya) hendak mengajar Arba’in Nawawi. Pertanyaan spontan beliau adalah “Wis apal hadis piro? Ndang jal aku tes!” Jadi pengajar diperintah untuk memahami dan menguasai betul pelajaran yang hendak diajarkan oleh santri, bahkan murod secontoh-contohnya harus dikuasai.

Beliau pernah berpesan “Pondok ini pondokmu, sekolah ini sekolahmu. Ayoo dirawat yang bagus. Bagusnya pondok menunjukan kebagusanmu. Buruknya pondok juga keburukanmu.” Beliau mengajarkan solidaritas dan menjaga satu sama lain, serta mengajak untuk berjuang demi pondok sampai kapanpun.

Beliau juga pernah dawuh, “Bila kamu bisa lakukan sendiri maka jangan gantungkan pada orang lain.” Mbah Imam tekankan betul soal kemandirian pada santrinya, bukan saja mengarahkan tapi mencontohkan pula pada para santri.

  • Sikap Toleransi KH. Imam Yahya Mahrus

Imam Yahya merupakan salah satu kiai yang memiliki sikap toleransi yang tinggi, tidak pernah membeda-bedakan antar agama atau aliran, tidak memandang Muhammadiyah, Ahmadiyah atau salafiyah, beliau tetap rangkul semua.

Beliau itu selalu ingin mengerti siapapun, menghargai siapapun, entah dia bertato, ahli maksiat, nakal dan sebagainya, dengan siapapun ia ingin punya hubungan baik dengan mereka. Mbah Imam itu masuk kemanapun oke, ibarat beliau seperti air, bila dicampur kopi bisa menyesuaikan, bersama teh bisa menyesuaikan.

Beliau ketika diberi sesuatu, maka langsung masuk ke rumah untuk mengenakannya. “Waahh pas, apik, nambah ganteng,” respon nya selalu begitu. Ini beliau lakukan untuk menghargai dan membahagiakan hati si pemberi. Sederhana, namun karena ini banyak yang menyukainya. Mbah Imam juga sosok yang tak pernah marah, malah beliau sangat menaruh perhatian tinggi pada santri. bahkan memanggil para santri saja dengan panggilan “anakku”

  • Dakwah KH. Imam Yahya Mahrus

Dalam berdakwah, pendakwah harus pintar-pintar menarik perhatian para jamaah dan senantiasa menyesuaikan diri dengan mereka, demikian pula yang dilakukan oleh KH. Imam Yahya Mahrus. Dulu Beliau pernah mengisi acara pengajian di Kantor Bank, beliau memakai busana celanaan, sepatunan, berpakakain rapi. Ini mengajarkan, dalam berdakwah pun harus menyesuaikan audiens pengajian, dengan maksud menghargai dan menghormati lembaga.

Melalui dakwah beliau, ada salah satu alumni yang mengikuti prinsip dakwahnya, ialah Dr. Kiai Bustanul Arifin, M.Pd.I, sampai saat ini beliau sering mengisi berbagai acara, dari acara pengajian kampung atau tingkat kota. Menurutnya, ini semua karena beliau pernah di do’akan bisa melayani masyarakat seperti Mbah Imam, sebab itu yang mengundangnya semakin membludak, hingga marak yang melaqobinya sebagai kiai kanjeng.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like