web analytics

Mondok Katanya

Mondok Katanya
0 0
Read Time:2 Minute, 51 Second

 

Berdasarkan  definisi yang kita ketahui pesantren merupakan tempat dimana kita bisa menuntut ilmu pengetahuan, membenahi perilaku moral, mencerdaskan akal, dan tak lupa belajar bersosial.

Mayoritas masyarakat menganggap bahwa jebolan pondok pesantren pastilah bukan kaleng-kaleng entah adabnya maupun ilmu agamanya. Jangankan soal agama, ditanya soal media pun santri jago pula.

Berdasarkan eksistensinya saat ini, tentu pesantren pantas bila dianggapap sebagai lembaga pendidikan terbaik demi menjaga kemerosotan moral remaja zaman now.

Bila dibandingkan dengan pergaulan yang ada diluar, pergaulan dalam pondok pesantren tentu lebih aman bila dijalankan dan ditaati segala bentuk peraturannya.

Karena apa yang berlaku dalam pondok pesantren tentu sudah disesuaikan dengan perkembangan zaman dan diserasikan dengan syariat keagamaan.

Memang benar saat ini pesantren sedang eksis-eksisnya, bahkan tak hanya masyarakat desa, kaum-kaum elit asal kota pun berlomba-lomba memasukan putra putrinya ke pondok pesantren. Entah karna memang menyadari peran pesantren atau karna mengikuti tren.

Bila kita menilik cakrawala masa lalu, kita akan melihat dimana setiap insan pondok pesantren bercengkrama dengan bahasa krama, tersenyum ramah bila disapa, dan tak marah-marah dikala ada masalah.

Belum lagi ketekunan mereka dalam menuntut ilmu, dari pagi hingga pagi, ativitas sehari-hari hanya diisi dengan mengaji dan mengabdi.

Tak akan luput dari arah manapun mata memandang pasti akan tertangkap objek dimana, kaum berpeci fokus mengkaji kembali materi melalu kitab salafi, ataupun mbak santri yang sibuk melalar dengan hafalan nadhomnya.

Semua waktu dan tenaga mereka curahkan untuk ilmu dan agama. Hal-hal seperti itu menjadi pemandangan indah nan unik, belum lagi bila kita lihat santri tertidur saat melalar nadhoman, bukan mata yang melihat tapi justru mata yang dilihat.

Dimana nadhom dan kitab kuning menjadi saksi bisu perjuangan santri dalam menuntut ilmu.
Sayangnya, sebagian pemandangan indah itu hanya masa lalu. Entah apa yang terjadi dengan santri masa kini. Dimana bahasa krama sudah minim dilontarkan, justru dikalahkan dengan bahasa kasar yang semakin berkembang,

bahkan absen nama-nama binatang pun hampir setiap hari mereka lakukan. Membuka kitab hanya ketika akan tam-taman, membaca kitab bila dihadang oleh ujian.

Tak lagi mata memandang kerumunan orang belajar, melainkan dimanapun mata terarah disitu orang tidur dengan alasan lelah.

Pagi hingga malam hanya mereka isi dengan ghibah, tanpa meghiraukan seruan sholat berjama’ah.

Mondok, katanya..
Sholat jamaah? malas
Madrasah diniyah? Tertidur pulas
Musyawarah? Berujung ghibah
Jamiyah dibaiyah? Beralasan lelah
Setoran hafalan? Lupa belum nglalar
Taat peraturan? Justru Merasa terkekang
Begitu tamatan, waktunya mengabdi justru melarikan diri.

Menurut kalian, poin-poin diatas fakta? Atau rekayasa?Bila kita cerna, untuk apa kita masuk ke pondok pesantren kalau bukan untuk memperbaiki diri? kalau bukan untuk menuntut ilmu? Hanya sekedar menambah relasikah?

Sobat…
Perlu kita ingat, keberadaan kita di pondok pesantren tidak hanya sebagai penumpang transit untuk makan, mandi, dan tidur. Kita punya tujuan,

merubah diri menjadi lebih baik, menuntut ilmu agama agar menjadi benteng syariat dan pengokoh madzab, supaya islam tidak luntur oleh jalannya peradaban.

Menjadi manusia yang berguna, dan menjadi hamba yang tak lelah untuk beribadah pada tuhannya.
Tanpa kita sadari, banyak masyarakat yang menanti hari kepulangan kita dari pondok pesantren, untuk apa?

Karna mereka haus akan ilmu agama. Masyarakat awam butuh sesorang untuk menjadi pawang demi menjaga keimanan.

Tidak harus menjadi kiai terkenal, cukuplah bermanfaat bagi orang-orang sekitar. Menjadi oase pengetahuan bagi mereka yang ingin mengokohkan iman.

Melanjutkan estafet perjuangan para ulama. Bila tak mampu berdakwah kesana kemari, minimal ajarkanlah alquran pada anak usia dini. Tidak harus masyhur karna yang masturpun banyak yang menjadi wali. Wallahu A’lam.

About Post Author

Alifia Azzahra

Santri Mahrusy, pengemis syafaat Nabi asal kediri
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like