web analytics

Naum

Naum
0 0
Read Time:3 Minute, 14 Second

“Um, bangun dong!”

Namanya Alam. Sering dipanggil Naum karena perilaku tidurnya yang menggila atau bahkan di luar nalar. Di manapun dan kapanpun. Disetiap kesempatan ia pasti tertidur. Jika meskipun tanpa ada kesempatas sekali pun ia tetap mencari-cari kesempatan untuk tidur. Seakan-akan ia selalu mengantuk sepanjang hari dan melampiaskannya pada tidur. Tak mengenal waktu. Ia selalu tertidur.

Boni tampak kesal padanya. Bukannya tanpa alasan, Alam kali ini tertidur di depan lemarinya. Boni mau ambil gayung. Boni mules. Sudah dipanggil, ia tak bangun. Sudah ditarik, ia tak bangun. Sudah disiram, ia tak bangun. Boni geleng-geleng kepala. Tak ad acara lain.

“Brooot…”

Angin dasyat menyembur ke wajah alam dengan keras dari tembakan super yang membuatnya gelagapan langsung bangun. Baunya lebih dasyat.

Alam langsung bangun berdiri seraya memegang hidung, melihat suasana sekitar, dan kembali tergelepak. Entah pingsan, entah kembali tidur. Tapi, kali ini tak di depan lemari Boni.

Baca Juga: TJANGKIR

“Yes, Mision Sucses!”  Ucap Boni seraya mengambil gayung dan berlalu untuk mulesnya.

Seperti itulah Alam. Selalu membuat resah teman-temannya karena tidurnya. Ia pernah, pada saat sholat subuh, setelah do’a qunut langsung sujud, Alam masih saja berdiri seraya menadahkan tangannya sampai jama’ah subuh itu bubar. Ia pernah, pada saat masak nasi, ia malah tertidur hingga gosong berkeraklah nasi itu. Ia juga pernah naik sepeda, lalu ia kembali tertidur. Terceburlah sepeda itu ke sungai. Tak sampai di situ. Alih-alih berenang menepi. Ia malah kembali tertidur di dalam sungai. Pingsan.

Dan masih banyak lagi cerita luar biasa tentang tidurnya itu yang tidak bisa disebutkan satu per satu tetapi tidak mengurangi rasa hormat dan ta’zhim saya kepadanya. Amazing!

Bukan hanya tentang hal menyebalkan saja, tidur Si Ala mini juga bisa disebut berkah bagi sebagian orang pada saat momen tertentu. Seperti pada saat makan, contohnya. Pada saat makan, santri pasti mengedepankan kebersamaan. Pada saat itu mereka mengadakan iuran untuk makan bersama. Alam juga iuran. Tapi, pada saat makanan datang, ia malah tertidur. Dengan seperti itu, jumlah pesaing suapan telah berkurang. Berkah!

Setiap orang diciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bukan berarti hanya kelebihan. Bukan hanya kekurangan. Alam pun begitu. Ia memiliki kelebihan yang luar biasa di atas kekurangannya yang tak kalah luar biasa pula.

Baca Juga: Onthel

Ustadz Husen menjelaskan panjang lebar mengenai Kitab Al-Jurumiyah, kitab yang berisikan tentang ilmu gramatika arab. Mulai dari pengertian, pembagian, dan besertaan dengan contoh-contohnya. Para siswa yang sekaligus santri menyimak dengan seksama apa yang disampaikan oleh Ustadz Husen. Meskipun tak semuanya. Alam salah satu siswa yang sekaligus santri di kelas itu. Dan bisa ditebak ia sedang apa!

“Alam! Bangun, Kamu. Saya sudah jelaskan panjang lebar, tapi kamu malah tidur. Sekarang kamu ulangi apa yang sudah saya jelaskan tadi.” Ucap Ustadz Husen dengan nada sedikit menekan.

Alam yang terbingung-bingung sambil mengucek matanya saat mendapat sodoran ucapan Ustadz Husen yang serasa menyeramkan. Semuanya terdiam. Merasa takut. Horror.

“Ustadz Husen kenapa, sih?” Tanya Alam pada Andre, teman sebelahnya.

“Kamu disuruh maju!” Bisiknya.

Baca Juga: Mimpi

Alam maju dan mulai menjelaskan pelajaran yang telah ia lewatkan dalam mimpi. Dan, luar biasa! Semuanya bisa ia jelaskan dengan lancar. Bahkan semua pertanyaan yang ditanyakan oleh teman-temannya bisa ia jawab dengan mudah. Ustadz Husen mengangguk-anggukan kepala. Temannya geleng-geleng.

“Wali!” Batin sebagian temannya.

 

***

 

Di tengah gelap gulita malam, seorang santri terduduk terpaku di hadapan tumpukan kitab-kitab. Sesekali ia menyeruput kopi. Ia membaca. Ia menulis. Ia buka lembar demi lembar berteman cahaya yang terpancar dari balik celah jendela. Tak ada yang melihatnya. Tak ada yang mengenalinya. Tapi, Tuhan Maha Melihat.

Setelah cukup lama bergelut dengan tumpukan kitab itu. Ia gelarkan sajadahnya. Ia berdiri menghadap Tuhannya dengan penuh kekhusyuan. Ia berzikir. Ia berdo’a dengan penuh kerendahan hati. Tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya. Ia menghina di hadapan Tuhan semesta alam. Ia hanya mengharap RidhoNya.

Ia Alam.

Selesai. Ia bereskan semua kitab dan semuanya. Ia rapihkan di kamar. Lalu, tertidur sepanjang hari. Kadang ngorok. Kadang ngiler. Idih.

 

***

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like