web analytics

Pantaskah Aku Masuk Surga?

Pantaskah Aku Masuk Surga?
0 0
Read Time:3 Minute, 28 Second

Desas-desus terdengar dari lisan ke lisan. Mereka terheran-heran ketika nama Kemed diputuskan masuk surga oleh pengadilan akhirat. Bukan tanpa alasan, Kemed terkenal ahli maksiat: menurut Supri, temannya. Teman semaksiatnya.

“Kok bisa, ya, Si Kemed masuk surga?” Tanya Supri pada Ebo di tengah kerumunan para peserta padang mahsyar.

“Kamu iri?” Ebo balik bertanya.

“Bukan begitu, Bo. Kan, kita sama Kemed satu tongkrongan. Kita mabok sama-sama, nyolong sama-sama, narkoba sama-sama, bacok orang sama-sama, zina sama-sama. Harusnya hasil sidangnya sama!”

“Ssst! Nggak boleh buka aib orang di depan malaikat dan bejibun-jibun manusia yang entah kenapa bau ketiaknya melebihi 2 RT bangkai tikus got.” Ebo sok bijak. Juga mau muntah.

“Nggak apa-apa, sih! Aku kan udah disidang. Tenang. Ya, walaupun hasilnya masuk neraka!” Ucap Supri santai.

“Masuk neraka tenang. Belum aja pantat kamu dicoblos besi panas. Tau rasa! Nanti nangis. Aku juga belum di sidang.”

“Halah, belum disidang juga hasilnya udah ketahuan, Bo. Kita kan nggak beda jauh!”

“Enak aja, kamu. Contohnya Si Kemed aja bisa masuk surga.”

“Huh!”

Supri membuang muka. Tengok kanan kiri. Melihat Si Kemed yang sudah cengar-cengir di golongan ahli surga. Sedangkan, ia tinggal tunggu kloter barisan. Pembagian kamar. Sesekali keringat menetes lepas. Amandelnya naik turun.

“Ada yang dagang es nggak, sih?”

 

***

 

“Kok, aku bisa masuk surga, ya?”

Baca Juga: Evolusi

Kemed masih sempat bertanya-tanya di tengah senang-senangnya. Dalam ridho Allah.

“Ada apa, Ya Habibi?” Ucap sosok berparas indah. Anggun. Hanum. Menawan. Mempesona.

“Kenapa berhenti?” Tanya-nya lagi, lalu ikut turun dari ranjang. Kembali merangkul.

“Hatiku yang penuh dosa rasanya tak pantas masuk surga!” Tampak sedih wajah Kemed.

“Ini minum dulu!”

Baca Juga: Kampung

Kemed meminumnya. Sesuatu minuman yang begitu manis, segar, dahaga tak pernah mengenal sebelumnya.

“Allah telah menakdirkan Kanda masuk surga-Nya. Dan Dinda diamanahi membuat Kanda senang. Kalau Kanda sedih, Dinda khianat pada Allah.” Wajah risau itu tampak pada sosok nan lembut.

“Tidak sama sekali, Dinda! Aku hanya ingin tau, apa hal yang membuatku masuk surga.”

Simsalabim, Jreng..Jreng..Jreng..Tiba-tiba saja muncul layar besar.

 

***

 

Malam itu seorang lelaki berjalan bergegas.

“Ternyata seperti itu yang namanya tahlilan! Lama, gerah, ngantuk. Kalo bukan karena anaknya Pak Sanusi cantik, aku nggak bakal ikut tahlilan.”

Peci dan baju taqwa itu tampak bertolak dengan tato yang melekat pada tubuh lelaki itu. Meski berbalut, meski tampak kalut.

“Lama-lama cuma dapat kresek ini. Udah dingin pasti nasinya! Ngantuk. Nggak nafsu makan.”

Sangat jelas dari ucap dan langkah jalannya, ia sangat jengkel. Besok-besok nggak bakal ikut tahlil lagi lah, pikirnya.

“Pasti di tongkrongan udah mulai, nih!”

Biasa, kegiatan tiap malam bersama teman tongkrongannya. Luntang-lantung. Senang-senang. Mencoba macam-macam maksiat.

“Nih!”

Baca Juga: Tembok Pemisah

Nasi kotak itu diberikan pada tukang becak yang terkantuk-kantuk menunggu pelanggan.

“Wah, makasih, Pak Haji!” Ucapnya agak keras pada sosok berkopeah dan berbaju taqwa yang cepat berlalu.

 

***

 

Baca Juga: Pulangku Hijrah

“Ini!”

“Wah, bapak bawa oleh-oleh!”

Seorang istri dan 3 anaknya menyambut gembira sebungkus nasi kresek pemberian bapaknya.

“Dari siapa, Pak?” Tanya Sang Istri. Anak-anaknya antusias membuka kresek. Ingin tau lauknya apa.

Dengan sisa keringat dan penat, “Nggak tau. Orang baik tiba-tiba ngasih. Pak Haji!”

“Wah ada amplopnya, Bu, Pak!” Teriak seorang anaknya yang paling besar.

Diantara telur rebus dan kentang balado, amplop itu diambil. Dibuka.

“Wah, banyak banget, Pak!” Kali ini Sang Istri yang ikut berteriak. Ber-Wah terkesima seperti anaknya. Lalu, wah-wah lainnya pun muncul.

Setelah dihitung-hitung, isi amplop itu berjumlah 50 juta. Akhirnya uang itu dijadikan kebutuhan sehari-hari, modal usaha, dan sukses. Sangat sukses. Membebaskan keluarga itu dari kemiskinan. Hingga, mampu membiayai ketiga anaknya bersekolah sampai sarjana. Sarjana Pendidikan, Sarjana Hukum, dan Sarjana Ekonomi. Rumahnya kini sudah tingkat 5. Walaupun nyapu-ngepelnya capek, nggak apa-apa lah yang penting kaya. Mobil Lamborghini, Harley, tronton, jet tempur, halikopter, tank baja, dan motor mio pun sudah terpakir rapih di garasi. Untuk ibadah, kelurga itu bisa bolak-balik haji setiap tahun. Entah bagaimana caranya. Tak taulah. Yang penting haji.

 

Baca Juga: Teras

***

 

“Jadi kanda sudah ngerti, kan? Kanda itu orang baik.”

“Iya.”

“Masih mau lanjut?” Tanya-nya penuh goda.

Tanpa jawaban, Kemed langsung menarik tangan itu. Naik ranjang. Melakukan kegiatan yang diridhoi Allah. Hal-hal surgawi.

 

***

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Baca Juga: Mimpi

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like