web analytics

Pelecehan Seksual, Siapakah Yang Harus Disalahkan?

Pelecehan Seksual, Siapakah Yang Harus Disalahkan?
0 0
Read Time:3 Minute, 24 Second

Pelecehan seksual memang terkadang masih tabu untuk diperbincangkan. Masih banyak dari masyarakat yang menutup mata dan telinganya untuk pelecehan seksual. Asal kalian mau tau, menurut data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPPA) Kementerian PPPA selama tahun 2022, jumlah kasus pelecehan seksual di Indonesia telah mencapai angka 11.595 kasus dan perempuan menjadi korban terbanyak dengan 10.246 kasus, sedangkan laki-laki hanya 1.349 kasus.

Pelecehan seksual tak hanya dengan tindakan, tapi juga ucapan, tulisan, simbol, dan isyarat merupakan bisa menjadi cara pelecehan seksual. Dari tahun ke tahun kasus ini terus merangkak naik dan perempuan selalu menjadi objek utama. Kelemahan dan segala kekurangannya atas lelaki selalu dijadikan celah untuk melakukan aksi bejat yang sama sekali tidak manusia.

Kita semua sepakat, bahwa perempuan adalah makhluk yang diciptakan dengan segala pesona. Bahkan, Ar-Rumi sampai mengatakan,”Perempuan adalah cahaya Tuhan.” Benar adanya akan hal itu. Tapi, segala pesona itu malah berjung dan memancing hawa nafsu jahanam yang mengarah pada pelecehan seksual.

Pelecehan seksual menandakan bobroknya moral suatu bangsa dan Indonesia adalah bangsa yang hampir roboh karena persoalan ini. Pelecehan terjadi dimana-mana. Di dunia akademis dan bahkan tumbuh subur di lingkungan keluarga. Miris! Guru dengan murid, ayah pada anak. Ia korban, ia tersangka. Lalu, siapa yang benar? Siapa yang pantas untuk disalahkan?

Memang dari semua kasus pelecehan, laki-laki selalu mencatatkan namanya sebagai tersangka. Laki-laki selalu memanfaatkan kelemahan perempuan sebagai objek tujuan kejinya. Hingga, hal itu terjadi dan kasusnya semakin tinggi. Tapi, apakah itu bisa disalahkan pada laki-laki sepenuhnya?

Datangnya pikiran adalah dari melihat. Coba kita lihat keadaan perempuan sekarang yang seakan telah hilang kodrat malunya. Menari, berpakaian, dan mengumbar bagian tubuh yang seharusnya tidak perlu. Itu hanya mengganggu ketenangan publik. Itu menyalahi norma sosial dan moral.

Jika di ruang publik, kita harus tau aturan dan saling menghormati setiap individual masing-masing. Laki-laki menghormati perempuan, begitu pun sebaliknya. Perlu ditekankan untuk penghormatan pada perempuan. Karena ibu kita semua adalah seorang perempuan dan kita semua mengetahui tingginya derajat martabat seorang ibu. Allah SWT berfirman dalam QS.Luqman ayat 14 menjelaskan,

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”,

Bahkan hadist dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi:

يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ

“Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya.” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan)

Sebgitu mulianya perempuan di mata Islam. Tak ada lagi yang namanya penindasan di zaman sekarang. Ini bukan zaman jahiliyah lagi dan pelecehan seksual harus hilang dari negeri ini.

Lalu, bagaimana cara kita untuk menghindari dan menanggulangi perihal ini? Ini bukan soal perempuan dan laki-laki. Kita adalah kita yang bertanggung jawab atas diri sendiri. Seharusnya setiap individu, kita bisa meningkatkan iman dan islam kita. Perbanyak ilmu agama dari sumber yang dapat dipercaya. Kita semua sudah diajarkan untuk menanggulangi syahwat dengan cara menikah bagi yang sudah mampu, jika tidak, bisa dengan berpuasa.

Inti masalah dari kasus ini adalah kerontangnya jiwa masyarakat Indonesia dari iman, islam, dan nilai-nilai agama. Sekian.

 

***

 

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like