web analytics

Peran KH Mahrus Aly dan Pekik Kemerdekaan RI

Peran KH Mahrus Aly dan Pekik Kemerdekaan RI
5 0
Read Time:1 Minute, 53 Second

Pondok Lirboyo dan Pekik Kemerdekaan RI

Sejak zaman prakemerdekaan, KH. Mahrus Aly termasuk salah seorang di antara sekian banyak pejuang yang tak pernah absen mengabdikan diri pada Republik tercinta ini. Ketika Jepang berkuasa,

Kiai Mahrus Aly pernah menjadi anggota Kamikaze (tentara berani mati). Hal ini dilakukan untuk menimba ilmu dari penjajah, yang nanti bisa digunakan sebagai bekal perjuangan melawan penjajah yang tak lain adalah jepang Sendiri.

Pada tahun 1943-1944 M. Yai Mahrus mengutus beberapa santri lirboyo untuk menggantikan beliau berlatih tentang tekhnik perang yang kemudian diajarkan kepada Santri Lirboyo lainnya.

Hari ini 77 tahun yang lalu, setelah dibacakan teks proklamasi, Koamandan Sudanco di Kediri Mayor Mahfudz melapor kepada Yai Mahrus bahwa Indonesia telah merdeka. Seluruh santri Lirboyo dikumpulkan di Serambi Masjid dan diinfokanlah kemerdekaan hari itu Pekik Kemerdekaan dan Takbir sahut menyahut menggelegar.

Keduanya sepakat melucuti senjata tentara Jepang di Kediri. Yai Mahrus berbekal ilmu yang diperoleh dari Kamikaze menyusun strategi, mengajak santri Lirboyo melucuti alutsista Militer Jepang
dengan penuh semangat para santri menyambut ajakan sang Kiai.

Di bawah komando Kiai Mahrus dan Mayor Mahfudl, tepat pukul 22.00 wib, sebanyak 440 santri bergerak menuju markas Kempetei yang dijaga ketat. Untuk mempelajari posisi lawan, Syafi’i Sulaiman yang saat itu masih kecil disusupkan ke sarang lawan. Setelah berhasil membaca posisi dan keadaan, dia segera kembali melaporkan hasilnya pada Kiai Mahrus dan Mayor Mahfudz.

Tepat pada pukul 01.00 dini hari dengan berbekal senjat seadanya, para santri yang sudah siap mati syahid itu mengadakan serangan besar-besaran. Ternyata Jepang yang memiliki senjata lebih lengkap dan modern menyerah tanpa syarat sebelum berjibaku dengan para santri. Segenap senjata yang dimiliki Jepang diberikan pada para santri yang kemudian dibawa ke pondok.

Atas Kebijaksanaan KH Mahrus senjata rampasan yang jumlahnya mencapai satu truk itu diserahkan pada Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kini masih tersimpan di Markas Kodam V Brawijaya Kediri.

Belum cukup disitu, ketika mendengar arek-arek Surabaya mati-matian melawan tentara Sekutu yang kembali ke Indonenesia, Spontan Kiai Mahrus berkata,

“Kemerdekaan ini harus kita pertahankan sampai titik darah penghabisan”.

Selanjutnya pada resolusi jihad, Yai Mahrus mengirim 97 santri ke medan perang. Begitulah perjuangan Kiai dan santri Lirboyo pra dan pasca Kemerdekaan.

melihat militansi KH Mahrus Ali yang begitu mati-matian terhadap negara ini, bukankah layak apabila Yai Mahrus menyandang gelar Pahlawan Nasional?

About Post Author

Elnahrowi

Santri Pondok Al-Mahrusiyah yang suka Menulis dan Berjurnalis. Asal dari Sragen Jawa Tengah
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
100 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like