web analytics

Petik Rintik Matamu

Petik Rintik Matamu
0 0
Read Time:4 Minute, 0 Second

Jalan itu ramai. Dipenuhi ribuan tapak kaki berbentuk sandal ataupun berbentuk jari-jari. Para santri berlalu lalang dari zaman ke zaman dengan buku berbahasa arab tanpa harokat. Dari sekian banyaknya tapak-tapak itu ada satu tapak yang berbeda. Berbentuk bulat. Tapak bekas tongkat.

Namanya Hasan. Anak laki-laki berumur 15 tahun yang hidup hanya dengan kaki kanan. Dan kaki kirinya telah diambil takdir dalam kecelakaan masa lalu. Ia terus berjalan dengan tangan kirinya yang memegang tongkat penyangga dan tangannya yang membawa beberapa kitab-kitab pelajaran yang berselimut sorban.

Aku hanya memperhatikan dari jauh. Membiarkan ia berjalan membelah lautan para pencari ilmu dengan semangat dan tekad yang ia miliki. Hasan adalah adik kelasku dan aku dua tingkat di atasnya. Walaupun seperti itu, aku mengakui ia lebih cerdas dari padaku.

Ia Ahli Bathsul Masail, rois kelas, tim pembukuan, dan suka rela mengajar sorogan teman-temannya. Mungkin kalian tidak percaya, tapi karena semangat, tekad, usaha, dan do’anya lah ia bisa seperti itu.

Malam itu di Mushola pukul 02.00 WIB. Aku terbangun dari tidur karena ingin buang air kecil. Lalu, mataku melihat remang-remang ke arah tiang Mushola. Seorang anak sedang sibuk dengan puluhan kitab bercahaya dari celah jendela. Ia Hasan. Lalu, anak itu sholat malam, meminta dan berkeluh kesah pada Tuhannya. Masuk waktu subuh, ia adzan, istiqomah, berdiri di shaf awal, tadarus Al-Qur’an dan belajar lagi.

Begitu keseharian Hasan. Jika hari libur, ia habiskan waktunya di Maqbaroh Masyayikh. ia hebat. Bahkan, aku jarang sekali lihat ia tidur dan makan. Paling hanya sepotong roti murah untuk mengganjal perutnya. Aku semakin tertarik padanya.

Aku pernah lihat ia sedang menulis belasan kitab seorang diri. Aku mencoba mendekatinya

“Lagi apa, San?”

“Lagi nulis, Fi.” Ucapnya tersenyum.

“Ini kitab kamu semua? Banyak banget!”

“Bukan, ini kitab-kitab kakak kelas. Aku disuruh nulisin.”

Tulisan Hasan kuakui memang bagus, mungkin itu kenapa ia disuruh menuliskan kitab-kitab kakak kelas.

“Kok, kamu mau? Ini kan banyak!”

“Hitung-hitung bantu. Kadang juga ada bonusnya, lumayan untuk tambah-tambah uang bulanan.” Ia kembali tersenyum, tapi kali ini lebih lebar.

Mulai saat itu lah aku mulai akrab dengan Hasan. Anak yang senyum selalu terlukis di kedua bibirnya dan ceria seakan menjadi bagian dari dirinya. Jika dilihat, ia serba kekurangan, baik fisik maupun ekonomi. Tapi, ia tak menyerah.

 

Baca Juga: Asin Air Mata

***

 

Hari ini, Pondok lebih ramai. Tepat di aula Pondok semua santri berkumpul untuk menyaksikan lomba UTI (Ujian Tulis Ilmiah) untuk memperingati Hari Milad Pondok Pesantren Darul Iman yang ke 12 tahun. Ada 200 peserta dan Hasan salah satunya. Setiap peserta diberi 100 soal dari berbagai fan ilmu. Baik fiqh, nahwu, shorof, aqidah, hadits, sejarah maupun akhlak. dan untuk mengerjakannya diberi waktu 30 menit. Selesai nggak selesai harap dikumpulkan!

Sebelum lomba dimulai, Hasan dengan kopeah lusuh, baju putih tanpa 2 kancing, dan sarung kotak-kotak hitam sempat menghampiriku.

“Gimana Khadafi, aku ganteng, nggak?” Ucapnya tersenyum.

Aku sedikit termenung.

“Hmm, ganteng kok, San!” Seraya ikut tersenyum.

“Do’ain aku, ya!”

“Iya. Aku pasti do’ain. Semangat.”

“Makasih, Fi.”

Waktu dimulai. Seluruh peserta mengerjakan soal dengan serius dan fokus. Itu semua sangat terlihat dari ekspresi mereka yang tegang, kecuali Hasan. Ia tetap tenang dan pasti.

Setelah 30 menit, proses mengerjakan dihentikan. Lalu, disambung istirahat, sholat, makan siang, dan kembali lagi. Penghitungan nilai telah selesai dilakukan dan kini saatnya pengumuman pemenang lomba. Lalu, nama-nama disebutkan dan Hasan berhasil mendapatkan juara 2 dari 200 peserta. Ia hanya kalah tiga soal dari Mumtaz asal Bekasi yang menjadi juara 1, Masya Allah!

Hasan naik ke atas panggung bersama para pemenang lainnya untuk menerima penghargaan. Diantara para pemenang itu, hanya ia yang paling kecil dan paling muda. Ia tersenyum lebar menghadap puluhan ribu santri.

Setelah selesai, aku dan Hasan pergi ke lantai 5 aula untuk melihat pemandangan sambil minum es dan jajan-jajan.

“Wah, aku bangga banget sama kamu Hasan! Juara 2 dari 200 peserta.”

“Ini juga berkat do’a kamu, Fi.”

“Coba aku bisa seperti kamu, San.”

“Kamu jangan bilang seperti itu, Fi! Kita semua ini sama. Bahkan, kamu lebih beruntung dari aku. Kamu lengkap fisik, kecukupan ekonomi, dan banyak orang yang mau berteman sama kamu.”

Hasan menatapku serius dengan mata yang sendu. Aku tertegun.

“Sedangkan aku hanya memiliki satu kaki, serba kekurangan dalam ekonomi dan tak ada seorang pun yang mau berteman denganku. Dan kamu, Fi? Aku sudah kehilangan kedua orang tuaku saat kecelakaan masa lalu. kaki ini tanda kepergian orang tuaku. Tapi, aku tak peduli dengan semua itu, aku tetap semangat belajar dan bersungguh-sungguh dalam meraih kesuksesan. Harusnya kamu bisa lebih dari aku. Aku juga pengen temanku sukses, aku mau kita sukses bersama. Ayo berubah, Fi! Aku yakin kamu bisa. Tunjukkan pada orang tuamu, bahwa harta, usaha, tenaga, dan do’a mereka tak sia-sia.” Lanjutnya yang membuat air mataku tak terasa menetes. Itu sangat mengena di hati.

Baca Juga: Terang

“Terima kasih, San. Terima kasih.”

 

***

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like