web analytics

Quarter Life Crisis menjalar Santri Millenial? Gimana Solusi nya?

Quarter Life Crisis menjalar Santri Millenial?  Gimana Solusi nya?
Quarter Life Crisis menjalar Santri Millenial
0 0
Read Time:2 Minute, 22 Second

Ketika dewasa, seseorang mungkin merasa bahwa ada banyak hal yang harus dilakukan tetapi ia tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan sesuatu yang disenanginya. Ketika masih kecil, ia mungkin membayangkan bahwa ia akan memiliki banyak hal pada usia 25 atau 30 tahun. Nah, pada saat-saat seperti ini di usia yang dewasa seseorang akan merasakan masa-masa tersulit dan kebimbangan dalam hidupnya, ini lah yang disebut  Quarter Life Crisis. Quarter Life Crisis adalah dimana seseorang yang mencapai usia 20-30 an akan mengahadapi masa-masa tersulit dalam hidupnya, atau bisa dikatakan di seperempat usia hidupnya dia melalui fase yang sangat krusial, terus gimana sih solusi yang efektif untuk menghadapi masa-masa ini? .

Dilansir dari akun blog 7 Summit Pathways (Treatment and Recovery Center), Quarter Life Crisis merupakan fase yang pasti dilalui oleh seseorang , dalam tuntutan perkembangan masa dewasa untuk menjadi mandiri baik secara mental, finansial, maupun karier dengan kemampuan yang dimiliki individu untuk mengatasinya. Namun,  ada beberapa hal yang harus kita ketahui dan gimana sih ketika Quarter Life Crisis ini menjalar kaum santri millenial, dan gimana solusi jitu untuk mengatasinya? Dalam kehidupan pesantren, Santri dituntut untuk belajar dan menaati peraturan. Dalam bidang apapun, eksistensi seorang santri pasti akan dihadapkan rasa bimbang dan depresi dalam menghadapi problema belajarnya ketika di pesantren. Dan dalam tahap masa Quarter Life Crisis ini, santri millenial harus mengetahui aspek apapun dan harus bisa bertahan dalam berbagai konflik dan berbagai masalah yang dihadapinya.

Sebelum penulis memaparkan solusi jitu bagi santri millenial yang berada pada fase Quarter Life Crisis, ada beberapa hal yang perlu santri ketahui, gejala ketika santri millenial sedang dalam fase ini. Pertama, Merasa bimbang dalam memilih tujuan hidupnya setelah selesai belajar, nanti harus gimana? , Kedua, Tidak yakin terhadap segala sesuatu yang dituju, karena merasa tidak berhasil di akhir perjalanannya menuju kesuksesan. Ketiga, Merasa kesepian dan sering menghakimi keputusan sendiri. Keempat, Gampang insecure terhadap pencapaian teman sendiri. Kelima, Sering cemas dan depresi terhadap sesuatu yang dihadapi, entah dalam hal keuangan, pertemanan, atau ketidakpuasan dalam menerima hasil belajarnya yang kurang maksimal, dan lain sebagainya.

Nah, dari beberapa gejala-gejala yang dihadapi santri saat di pondok pesantren, ada beberapa solusi ampuh untuk menumpas masa-masa Quarter Life Crisis, agar tidak mudah putus asa dan menghakimi diri sendiri. Pertama, jangan mudah membandingkan hasil kita dengan hasil orang lain, karena dengan kita percaya kita bisa, maka santri akan dengan mudah menerima hasil apapun yang dia usahakan. Kedua, harus bisa mengubah mindset buruk kita menjadi tindakan yang positif, agar pikiran takut dan kalut bisa dihindari dengan mudah. Ketiga, cari teman yang sekiranya bisa mensupport dan menjadi pendengar yang baik, ketika santri terkena hujanan masalah dan butuh inspirasi untuk bangkit. Dan, yang terakhir adalah Berdo’a dan belajar untuk merawat diri sendiri. Karena munculnya insecure adalah tidak cinta dengan diri sendiri. lantas gimana mau bangkit jika cinta dengan diri sendiri aja belum?

Semoga bermanfaatJ

Wallahu A’lam

About Post Author

elmahrusy16

Elmahrusy Media Merupakan Wadah literasi dan jurnalistik bagi santri, alumni dan pemerhati Pondok Pesantren Lirboyo HM Al-Mahrusiyah
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like