web analytics

Rutinan Manaqib Jum’at Legi Asrama Ar-Raudhoh, Sebagai Ikhtiar Membumikan Adat Abah Yai

Rutinan Manaqib Jum’at Legi Asrama Ar-Raudhoh, Sebagai Ikhtiar Membumikan Adat Abah Yai
Rutinan Manaqib Jum’at Legi, sebagai Ikhtiar Membumikan Adat Abah Yai
0 0
Read Time:3 Minute, 30 Second

Manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani tidaklah asing lagi bagi Pondok Pesantren Lirboyo Al-Mahrusiyah, disetiap acara dan kegiatan khusus tidak pernah absen dengan pembacaan Manaqib beserta Rowi, ditambah lagi adanya Marawis atau Banjari El-Mahrusy yang semakin menambah kemeriahannya. Bagi Santri Al-Mahrusiyah atau yang sudah menjadi alumni seakan hafal betul dengan berbagai kegiatan saat di Asrama, apalagi semakin tahun kegiatan dan peraturan semakin maju dan terstruktur. Kali ini, Penulis akan sedikit memaparkan tentang salah satu kegiatan rutin pembacaan manaqib yang dilaksanakan di ndalem Asrama Ar-Roudloh setiap Jum’at Legi di setiap bulannya.

Awal mulanya, Rutinan pembacaan manaqib di ndalem ini sudah lebih dulu ada pada masa Abah Yai Imam Yahya Mahrus, seiring berjalannya waktu, rutinan ini hanya diikuti oleh Santri Putra yang juga terkadang diselingi dengan diikuti beberapa mbak-mbak santri yang diwakili setiap kamar. Rutinan pembacaan manaqib ini sempat mengalami vacuum beberapa saat, dikarenakan masa peralihan pengasuh pondok asrama Ar-Roudloh, yang sekarang ini diasuh beliau Agus H. Izzul Maula Dliyaullah. Seiring berjalannya waktu kegiatan rutinan ini kembali berjalan sesuai jadwal yang sudah ditentukan, yaitu setiap Jum’at Legi.

Membumikan Pembacaan Manaqib Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani hingga saat ini, juga merupakan suatu cara untuk mempertahankan adat yang dilakukan Ibu Nyai Hj. Zakiyyatul Miskiyyah, yang sedari dulu beliau tidak pernah meninggalkan membaca manaqib sultonul auliya’ ini, “sekarang rutinan manaqib ini lebih terstruktur dan berjalan rutin, dulunya rutinan ini dilakukan di ndalem gus izzul seringnya sih anak putra, namun sekarang beliau kerso untuk diikuti mbak santri setiap perwakilan kamar, dan itu dibatasi 40 orang saja,” –ujar mbak Muslihatul Umami, salah satu pengurus Dept. Jam’iyyah, beberapa waktu lalu.

Rutinan manaqib ini merupakan kegiatan yang hanya bisa diikuti kurang lebih 40 orang saja, yaitu para pembaca yang terdiri dari 7 orang dan total beserta rowi adalah 12 orang. Dan ditambah dengan Marawis dan Banjari yang juga terhitung dalam maksimal 40 orang. Dengan sistem bergilir setiap kamar, rutinan ini diharapkan sebagai kegiatan yang bisa menuntun para jama’ah untuk mengobati rindunya pada sulthonul auliya’, yaitu Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani.

Pernah suatu waktu Habib Hasan Al-Atthas ngendikan:

“Sopo wonge sing nulis ceritane para wali, maka ia telah menghidupkan wali tersebut. Siapa yang mersani namanya para wali ing kitab manaqib, itu seperti halnya dengan sambang atau ziaroh para wali. Walaupun kita disini dan maqbarohnya di Baghdad”

Ini merupakan salah satu cara agar kita selalu dekat dengan Kekasih Allah, dengan Waliyullah yang memiliki beribu-ribu karomah ini. Setidaknya, jika raga ini belum bisa mampu untuk berkunjung dan berziaroh di maqbaroh beliau, kita bisa merasakannya dengan rutin membaca manaqib, ataupun hanya sekedar mendengarkan dengan berwushul kepada beliau.

Syeikh Barzanzi dalam Kitab Faidhur Rahman juga mengatakan:

إذ بذكر هم تفتح ابواب السّموات العلية

“Ketika kita menyebut nama kekasih nya Allah, Wali dan para Kiai, maka akan bercucuran rahmat dan hidayah dari Allah Swt.”

Dalam Kitab Jawahirul Ma’ani, ada beberapa fadilah seseorang ketika rutin membaca manaqib, diantaranya adalah; Agar dilapangkan rizkinya, cepat naik haji. Dan siapapun yang setiap hari membaca manaqib ini, sampai selesai sebanyak lima kali, atau 11 kali, selama 41 hari. Setiap tanggal 11 (hijryah) selamatan semampunya dan dirutinkan membaca manaqib setipa hari. Agar mendapatkan ilmu Ladunni, dan membaca“Yaa Badi’” sebanyak 946 kali diteruskan membaca manaqib agar dilapangkan rizkinya, atau sekedar ingin Mahabbah Khusus : Membaca al fatihah 101 kali, ayat kursi 41 kali, Yasin 4 kali, sholawat 11 kali dan manaqib satu kali, agar laris jualannya, dan masyarakat adakalanya membentuk jam’iyah manaqib rutinan setiap seminggu sekali.

Dari beberapa keistimewaan dan fadilah membaca manaqib, sebagai santri yang manut kyai harus pintar memposisikan diri, bagaimana sikap tanggap kita dalam mengikuti berbagai rutinan atau kegiatan di asrama tempat setiap santri itu tinggal, karena banyak beberapa dari kita yang masih menganggap manaqib itu dengan pandangan pahala yang rendah, disamping dia bisa mengetahui dengan ilmu, maka dia bisa mengetahui bagaimana fadilah dan timbal balik dari setiap orang yang rutin membaca manaqib Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani.

Rutinan Manaqib Jum’at Legi ini semoga tetap bertahan dalam limpahan barokah-Nya, dan setiap siapapun yang mengikuti rutinan ini bisa menambah rasa cinta kepada Waliyullah kita, Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, dengan tetap mengedepankan fi’liyah dan qolbiyah kita untuk senantiasa taqorrub dengan Allah Swt.

Wallahu A’lam

About Post Author

elmahrusy16

Elmahrusy Media Merupakan Wadah literasi dan jurnalistik bagi santri, alumni dan pemerhati Pondok Pesantren Lirboyo HM Al-Mahrusiyah
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like