web analytics

Samar

Samar
0 0
Read Time:49 Second

Rintik sayup, kala redup

Berbekal tekad yang terikat

“Mana rehat?”

“Tolong penat!”

Bersimpuh lumpuh menjadi debu-debu.

Mengenal, berakrab dengan ilmu dan adab

Semua langkah ini pantas disebut perjuangan

 

Riuh…

Kayuh…

Layu…

Baca Juga: Jalan?

Namun takan mati digempur tempur

Arah…

Marah…

Bara…

Hawa tak akan pernah habis ditantang rintang

Siapa bilang santri tak berjuang?

Siapa kata santri tak angkat senjata?

Sudahkah kau membaca sejarah yang tercabik lulu lantah”?

Ledak gelegar, pekik takbir, dan tumpah segala apa yang basah di tanah yang memerah, memarah.

Tak terhitung dan tak perlu dihitung akan semua usaha pengorbanan persembahan yang sudah-sudah

Baca Juga: Sang Petualang

Nyatanya sejarah masih berbaik, mengenal budi.

Meski derap sigap, pekik, ujung tombak, bau amis darah, gema butir dzikir, dan semangat resolusi jihad tetap menuntut haknya untuk diingat.

Menggapai cita, sudah bukan waktunya lagi berjuang dengan angkat senjata.

Di hari santri ini.

Di hari raya merdeka ini,

Baca Juga: Hak Diri I Puisi

Satu yang di tanyakan;

”Apakah kita sudah benar-benar merdeka?

Sudahkah kita merdeka dari kemalasan dan kebodohan?”

افلا  تتفكون؟

 

 

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like