web analytics

Santri Idiealis Adalah Santri Yang Suka Menulis

Santri Idiealis Adalah Santri Yang Suka Menulis
0 0
Read Time:3 Minute, 49 Second

Santri merupakan salah satu harapan besar bangsa dan agama. Karena santri memiliki kemampuan dan bekal yang cukup paripurna dari masa Ula sampai masa purnanya. Dengan dedikasi tinggi dari para guru mulia, membuat santri tak bisa dipandang sebelah mata. Banyak sekarang santri yang berjaya di kancah negara maupun dunia.

Hal ini merupakan bukti bahwa santri memiliki kontribusi yang luar biasa bagi lingkungan sekitarnya. Tetapi yang ingin diulas sekarang adalah dari banyaknya santri, manakah yang dikategorikan sebagai santri yang Idiealis. Kalau melihat realitas yang ada, apakah seperti santri yang pandai berkata-kata di podium termasuk santri yang idiealis, atau dengan santri yang jago bersholawat dengan suara merdunya bisa dikatakan idiealis, atau mungkin santri yang memiliki paras tampan, cantik dan menawanlah yang pantas dikatakan dengan santri idiealis.

Ya, ini sebenarnya menjadi hal yang lumayan rumit, tetapi menarik dibahas. Karena sekarang marak sekali santri-santri yang memperdebatkan tentang seperti apa kriteria santri idiealis itu. Jeng, jeng, jeng, langsung saja kita masuk pembahasannya. Dari fakta dan realita yang ada, santri idiealis adalah santri yang gemar atau suka menulis. Kok bisa? Karena dari dari menulis akan mendapat keuntungan yang sangat banyak sekali. Selain dapat populer atau terkenal juga menjadi ladang amal dengan sebuah karya positif yang ia buat.

Contohnya saja karya kitab-kita yang ada di pesantren, baik yang klasik atau non klasik, merupakan hasil karya tulis dari Ulama-Ulama terdahulu. Seperti Imam Al-Ghozali yang bergelar Hujjatul Islam (pembela islam). Gelar bagi ulama yang berjasa mempertahankan prinsip-prinsip islam dengan argumen yang sulit dibantah oleh siapapun. Beliau menulis banyak karya, salah satu karya yang sangat fenomenal adalah Kitab Ihya’ Ulumudin.

Kitab yang masih banyak dikaji di pesantren dari dulu hingga sekarang. Imam Al-Ghozali selain dikenal sebagai seorang Ulama yang produktif menulis, juga dikenal sebagai filsuf, dokter, psikolog, ahli hukum, dan sufi. Bahkan, Imam Al-Ghozali pernah mengungkapkan kata yang sangat mashur yaitu, ”Apabila engkau bukan putra raja atau ulama besar maka jadilah penulis!” Selain Imam Al-Ghozali juga ada Imam Jalaludin As-Suyuti, beliau berkolaborasi dengan Imam Jalaludin Al-Mahalli dalam menghasilkan kitab Tafsir Jalalain. Beliau sendiri telah menghasilkan 300 karya selama masa hidupnya.

Selain ulama dari Jazirah Arab yang gemar menulis, juga tak kalah saing dari ulama indonesia yang juga menghasilkan karya tulisnya. Padahal pada zaman dahulu fasilitas, alat, media sangat terbatas sekali. Yang pertama ada Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani yang menghasilkan lebih dari seratus judul karyanya, disusul Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani dengan 97 karya, Sayyid Utsman bin Yahya Al-Batawi dengan karya Al-Qawanin Asy-Syari’ah lil Mahkamah Wal Iftaiyah, K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari dengan karya terkenalnya Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah dan masih banyak sekali ulama nusantara yang gemar berkarya lewat tulisannya.

Nah, yang telah disebutkan tadi adalah sebagaian ulama yang gemar menulis. Memang banyak sekali manfaat dari menulis baik segi teknis maupun non teknis. Kalau ditinjau dari teknis menulis memiliki beberapa manfaat. Pertama, dapat memantapkan hafalan seseorang, apalagi santri yang setiap hari dari pagi hingga malam penuh dengan hafalan. Tentunya sangat recomended sekali untuk santri. Tidak bisa dibantah, ilmu yang telah kita dapatkan akan semakin melekat di kepala jika disampaikan kembali. Bukan hanya melauli lisan tetapi juga tulisan. Daya tempel tulisan jauh lebih kuat jika dibandingkan dalam bentuk lisan.

Kedua, memperindah susunan kata. Semakin kita sering menulis, akan berimbas pada kualitas susunan kata yang kita buat. Hal ini didasari dengan seringnya praktik dalam menulis.

Ketiga, memperbaiki sistemasi cara berfikir. Dengan menulis akan meningkatkan dan memperbaiki cara berfikir kita. Karena menulis pasti harus menggunakan struktur tertentu dan kaidah tertentu pula. Baik itu dari jenis fiksi ataupun non fiksi. Semakin sering menulis, semakin sistematis pula cara berpikir kita karena dituntut untuk menghasilkan tulisan yang mudah dipahami dan dimengerti.

Keempat, mengasah logika dan kreatifitas. Kok bisa ya? Tentunya bisa karena logika dan kreativitas memiliki sangkut paut yang berkesinambungan. Menulis memungkinkan kita untuk mengasah keduanya.

Setelah memamaparkan manfaat menulis dari segi teknis, kini saya akan memaparkan manfaat dari segi nonteknis. Apa saja kah itu? Mungkin bisa mengarah ke popularitas penulis, karena ketika kita menulis secara otomatis kita akan mencantumkan nama kita pada karya yang kita buat. Nah semakin bagus karya, kemungkinan semakin terkenal juga penulis tersebut. Selanjutnya juga bisa mendapatkan honor, dan menjaga kesehatan otak kita. Semakin kita sering menulis, maka semakin optimal pula kemampuan kerja otak kita.

Jadi tunggu apalagi, apakah masih ragu untuk menulis, terutama bagi seorang santri yang mengkaji berbagai fan ilmu setiap hari, dan tentunya menjadi jawaban dari  topik awal tadi bahwa santri idieal adalah santri yang suka menulis dengan menghasilkan suatu karya. Santri yang menyebarkan ilmunya lewat jalur literasi, demi melestarikan kebiasaan para ulama salafy.

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like