web analytics

Santri Iku Kudu Iso Dadi Paku

Santri Iku Kudu Iso Dadi Paku
0 0
Read Time:3 Minute, 30 Second

 

“Santri iku kudu iso dadi paku!” (Santri itu harus bisa jadi paku!)

Begitulah sebagian dari dawuh KH. Abdul Karim, selaku Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo.

Siapa yang tak kenal beliau? Kiai kelahiran Magelang, 1856 M ini memiliki garis sejarah hebat dalam pendidikan. Meski hanya anak seorang petani, beliau tak pernah menyurutkan semangatnya untuk menimba ilmu agama. Banyak tempat yang telah beliau singgahi, seperti; PonPes Cepoko-Nganjuk, PonPes Trayang Bangsri-Kertosono, PonPes Sono-Sidoarjo, PonPes Kedungdoro- Surabaya, PonPes Bangkalan-Madura, Hingga PonPes Tebuireng-Jombang. Beliau memiliki Himmah yang begitu besar dalam menuntut ilmu. Bahkan, beliau rela menghabiskan 23 tahun di bawah asuhan KH. Kholil Bangkalan dan 5 tahun untuk mondok di pesantren kawan beliau sendiri, KH. Hasyim Asy’ari-Jombang.

Hingga beliau diambil mantu oleh KH. Sholeh Banjar Melati untuk dinikahkan dengan putrinya, Nyai Dlomroh dan mendirikan Pondok Pesantren Lirboyo yang kini telah memilki puluhan ribu santri dari dalam maupun luar negeri.

Kembali ke dawuh. Banyak kalam hikmah yang disampaikan untuk santri-santri di masa hidup beliau. Semua dawuh-dawuh itu dijadikan pegangan kuat para santri dalam mengarungi kehidupan ini. Salah satunya adalah, “Santri iku kudu iso dadi paku!”

Jika kita pahami, sebaris kalimat pendek itu memiliki makna yang begitu dalam. Santri harus bisa jadi paku. Mengapa santri harus jadi paku? Mengapa demikian? Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa paku adalah benda yang dapat menyatukan beberapa komponen dalam sebuah pondasi. Begitupun santri yang ketika sudah di rumah harus menyatukan lapisan masyarakat yang berbeda. Demi terwujudnya muslim yang cerdas dalam menghadapi kehidupan yang semakin merosot akan nilai moral dan agama.

Inilah tugas santri. Tak perlu terlihat ataupun koar-koar dalam beraksi. Seperti paku yang bisa menyatukan meski ia sama sekali tak terlihat. Apakah mudah? Tentu tidaklah mudah dalam menjalankan perjuangan. Paku yang lurus pasti akan terus dipukul tanpa henti. Tanpa ampun. Dan jawabannya, apakah ia tetap lurus hingga berhasil menyatukan atau malah bengkok mengenaskan dengan bekas pukulan. Sekali lagi, namanya perjuangan tak ada yang mudah.

Tapi, jangan dimakan mentah-mentah dawuh diatas. Semua itu ada porsi penempatannya masing-masing. begitupun dengan paku. jangan memaku bambu dengan paku beton ataupun memaku tembok dengan paku kecil. Maka tidak tepat. Bambu akan pecah dan tembok akan sulit tertembus.  Kita sebagai santri juga perlu melihat medan yang kita hadapi. Jangan mendakwahkan Ushul Fiqh atau Tafsir pada masyarakat awam. Tentu mereka tidak akan paham dan akan membuat mereka menjadi malas untuk menerima ilmu yang kita sampaikan. Cukup bagi mereka diajarkan tata cara berwudhu, sholat, dan ibadah sehari-hari. Ajarkan anak-anak kecilnya untuk belajar Al-Qur;an. Agar pandai membaca Al-Qur’an; panjang pendek, makhroj, sifatul huruf, dan tartilnya. Ajarkan mereka hingga pandai dan mahir.

Selain orang-orangnya, juga perlu sekiranya untuk kemajuan desa tersebut. Bagaimana caranya memperbaiki ekosistem, bagaimana caranya meningkatkan SDA dan SDM-nya. Bangun desa itu menjadi desa yang makmur dengan masyarakatnya yang menjunjung tinggi nilai moral dan agama. Tak perlu meratakannya hanya pada Islam. Harus juga kerukunan pada agama lain. Saling toleransi pada sesama. Kita di tanah air yang sama. Tanah air Indonesia. Jangan sampai ada yang namanya perpecahan.

Tak perlu menghapus adat dan kebudayaan di daerah setempat. Walau itu adalah adat dan kebudayaan yang buruk, kita hanya perlu meluruskannya pelan-pelan. Tak perlu menghapus. Bukannkah kita tau, bagaimana para Walisongo yang mengubah kebiasaan buruk memberikan sesajen makanan untuk Hyang Widi melalui pohon, batu, gua, langit atau apapun menjadi adat Tasyakuran dengan diselingi tahlil atau bahkan bacaan Maulid Nabi? Apakah para Walisongo menghapus kebiasaan buruk yang masih berbau Hindu-Budha itu? Tidak, mereka tetap menjalankan adat itu dan hanya meluruskannya menjadi adat yang baik dengan menanamkan nilai-nilai keislaman. Tak perlu bagi kita mendakwahkan dengan kekerasan. Lihatlah strategi dakwah para Walisongo yang damai. Kita bisa menirunya.

Begitulah luasnya makna yang terkandung dari sebaris pendek dawuh KH. Abdul Karim untuk kita, selaku santri-santri beliau. Pemikiran penulis terlalu sempit untuk menjabarkan makna dawuh beliau yang begitu luas. Hanya ini.

Beliau juga tentu sangat ingin kita menjadi orang yang bermanfaat untuk masyrakat luas, terutama di wilayah kita masing-masing. Tentu kita ingin melihat senyum ridho dari kedua orang tua dan para guru berkat usaha yang telah kita lakukan selama ini. Tak ada jalan lain, Belajar dan Bersiaplah untuk terjun di masyarakat, Wahai Tunas Bangsa!

 

***

Baca Juga: Ayo Bohong!

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like