web analytics

Satu Hari di Al-Mahrusiyah

Satu Hari di Al-Mahrusiyah
0 0
Read Time:4 Minute, 51 Second

Tahun ajaran baru telah datang. Alur pendidikan tentu berkembang pesat. Tidak mengecualikan pondok pesantren sebagai sistem lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Dan Pondok Pesantren Lirboyo HM Al-Mahrusiyah pun diserbu para santri baru.

Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan akan perasaan mereka saat mendiami pondok. Bayang rumah dan hangat keluarga tentu belum sepenuhnya hilang. Kini harus hidup di tempat baru, lingkungan baru, dan orang-orang yang baru. Adaptasi sedang digembor-gemborkan. Penuh paksa perjuangan untuk sekedar kata santri dan menjadi manusia yang bermanfaat.

Pasti berbeda. Saat langkah awal memasuki area pondok pesantren, banyak hal yang penuh canggung. Terlebih lagi saat segala sibuk kegiatan sudah berjalan, terutama santri putra pusat, penuh bingung saat menghadapi beraneka macam kegiatan yang penuh skeptis.

Mungkin timbul pertanyaan, “Kenapa harus bangun istighosah di jam 3 malam?”, “Kenapa harus murotil di waktu subuh, waktu di mana rentan akan fokus membaca Al-Qur’an?”, “Kenapa harus makan nasi kos?” dan kenapa-kenapa lainnya.

Istighosah tentunya adalah budaya yang telah lama diterapkan KH. Imam Yahya Mahrus selaku pendiri. Itu semua tentu demi kebaikan. Setiap lafaz yang terkandung dalam istighosah memiliki makna yang luar biasa. Cobalah luangkan waktu untuk memahaminya.

Untuk Murotil, tentunya sudah banyak keutamaan tentang waktu pagi yang sudah dijelaskan para ulama dalam literatur kitab klasik. Dan sebaik-baiknya mengisi waktu yang baik adalah dengan membaca dan mempelajari ilmu Al-Qur’an.

Semakin hari, tentunya semakin menemui banyak hal di Al-Mahrusiyah. Karena banyaknya unit dan kulturnya yang tentunya berbeda. Karena Al-Mahrusiyah terlalu luas, kita bahas tentang santri baru di pondok putra pusat saja, ya.

Hal itu juga sebelumnya saya alami, menjadi santri baru di pondok putra pusat dengan berbagai kegiatannya yang membingungkan.

“Maksudnya?”

Bahasa enaknya, mungkin adalah budaya yang sudah menjamur dan diterapkan di setiap lorong atau asrama di dalamnya. Seperti, adanya anak baru harus mengambil nasi kos dan tidur di lorong. Sekilas memang seperti suatu pemberatan, tetapi tentunya selalu ada hal baik di setiap kejadian bukan?

Ternyata setelah saya jalankan hal itu, -dulu, semakin ke sini, semakin paham. Alasan kenapa santri baru yang dijadikan pihak yang bertanggung jawab atas ambil dan antar jatah nasi kos kamar, karena untuk menimbulkan sifat disiplin. Bukankah kita disuruh disiplin? Pernahkah kita mendengar hadist ﻭﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻗﺎﻝ قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم لرجلٍ وهو يَعِظُه : اغتنِمْ خمسًا قبل خمسٍ : شبابَك قبل هَرَمِك، وصِحَّتَك قبل سَقَمِك، وغناك قبل فقرِك، وفراغَك قبل شُغلِك، وحياتَك قبل موتِك.ﺭﻭاﻩ اﻟﺤﺎﻛﻢ

Dalam pernasian kos, sudah ada jadwal antar dan ambil. Hal itu perlu kedisiplinan. Karena kalau telat antar bisa kehabisan jatah makan, kalau telat ambil bisa sudah tidak enak rasanya.

Untuk hal tidur di lorong, karena banyaknya santri dan terbatasnya fasilitas; luas kamar kurang sebanding dengan banyak jumlah orang yang menempatinya. Dan lorong adalah jalan keluar atas permasalahan ini. awalnya saya sempat bingung. ‘kok tega, santri baru disuruh tidur di lorong!’ setelah berjalannya waktu, ternyata saya jadi paham. Hal itu adalah bentuk penghargaan terhadap orang yang lebih tua, orang yang setidaknya pernah dalam posisi seperti itu. Karena memang dalam satu kamar terdapat banyak santri dari berbagai kelas dan asal. Selain itu, alasan santri baru tidur di lorong sebagai bentuk pengakraban. Bukankah kita disuruh saling akrab antar sesama? Bukankah seperti itu ucap Q.S Al-Hujurat ayat 10? اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖSetiap lorong diisi oleh berbagai kamar dan hal itu menjadi cara yang jitu untuk proses pengenalan santri baru dari berbagai kamar. Pasti akan ada tanya nama dan cerita-cerita tentang background masing-masing. Cepat akrabnya.

Itu mungkin sekelumit dari sekian banyaknya hal yang tidak bisa diungkapan. Aaah, sungguh berkesan! Tidak bisa diungkapan.

Selain itu, setiap santri pasti akrab akan budaya mengantri, juga ghosob-menggoshob. Setiap hal tentunya memiliki 2 sudut pandang; pro-kontra. Sebagai pribadi yang baik, sudah seharusnya kita selalu mengambil dan memandang sesuatu dengan sudut kebaikan.

Mengantri adalah sesuatu yang menjengkelkan. Apalagi jika sudah bertabrakan dengan kegiatan kita yang perlu waktu cepat. Contoh saja mengantri mandi. Bayangkan jika kita mulas? Huhu. Dalam budaya mengantri ada pengajaran yang besar; sifat bersabar.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Tidak banyak penjelasan, salah satu cara untuk menggapai ridho Allah adalah dengan cara bersabar. Bukankah kita telah mendengar kisah heroik Nabi Ayyub As dan kemuliaan yang didapatnya atas sabar luar biasa yang beliau miliki.

Untuk ghosob, adalah kegiatan meminjam sesuatu tanpa seizin yang bersangkutan. Biasanya hal remeh, seperti sendal atau pulpen sekalipun. Tapi, jika kita sedang butuh tentu sangat riskan. Dan ghosob tentu adalah hal yang tidak terpuji. Jangan ya!

Nyatanya, meski dalam hal buruk sekalipun kita bisa mengambil sisi baik darinya. Dalam ghosob ternyata ada sifat qona’ah.

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan itu lantaran banyak harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari-Muslim).

Kita harus Qona’ah. Merasa memiliki atas apa yang Allah berikan dirasa kurang attitude. Kita semua hanya dititipi. Dunia sementara. Kita tidak ada daya dan upaya.

Untuk santri baru, selamat datang dan semoga betah. Juga, semoga kita mendapat apa yang menjadi tujuan pengembaraan ini; ilmu manfaat barokah. Amiin.

Wallahu a’lam.

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like