web analytics

Seberapa Penting Cinta Kita Kepada Bangsa?

Seberapa Penting Cinta Kita Kepada Bangsa?
0 0
Read Time:3 Minute, 5 Second

Memasuki Bulan Agustus, kecintaan hati pada negeri akan diuji, sebab banyak peristiwa penting yang berkaitan dengan nasionalisme dan kebangsaan terjadi di bulan ini, seperti halnya hajat besar Negara Kesatuan Republik Indonesia, peringatan kemerdekan NKRI dari belenggu penjajah, tinggal bagaimana sikap dan respon dari setiap individu, apakah tergugah atau malah acuh menganggap kejadian ini seperti tidak pernah.

Mengenai konsep kebangsaan, Imam Ghozali pernah mengutarakan hal ini dalam karyanya yang fonumenal, Ikhya Ulumddin,
والملك والدّين توأمان فاالدّين أصل والسّلطان حارس وما لا أصل له فمهدوم وما لاحارس له فضا ئع

“Negara dan Agama adalah saudara kembar, Agama merupakan dasar, sedangkan negara adalah penjaganya, sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh, dan dasar tanpa penjaganya akan hilang.”

Dengan begitu, tak perlu lagi ada anggapa bahwa mencintai negeri dianggap sebelah mata, karena negri ini sama saja rumah kita, apa jadinya kalau rumah ini dibiarkan dimasuki pencuri, ditelantarkan dan menjadi tak berpenghuni, tidak dirawat hingga menjadi rumah serangga dan menjadi sarang hantu yang menakuti, pastinnya menjadi ngeri!! Tinggal tunggu waktu saja akan hancur serta dipenuhi rumput berduri.

Untuk menaggulangi kemngkinan terburuk hancurnya suatu negeri, ada beberapa langkah-langkah kecil yang bisa menjadi solusi agar negeri yang kita cintai ini tetap lestari,

Pertama, mengetahui sejarah bagaimana bangsa kita berdiri, kebebasan dan kenikmatan dari intervensi serta belenggu penjajah lain tak lepas dari perjuangan pahlawan-pahlawan terdahulu, mungkin hari ini kita tidak bisa menikmati masa belajar kalau tak ada pertumpahan darah dari pahlawan, tidak bisa bebas berekspresi dan menikmati secangkir kopi jika tanpa perlawanan pahlawan yang tak takut mati. merefleksi dari Hadist Rasulullah yang diriwayatkan dari Imam Tirmidzi. “Jika umatku telah melakukan lima belas hal, maka turunlah petaka pada mereka, salah satunya generasi akhir umat mengutuk (tidak mau tahu) generasi pendahulu mereka.”

Kedua, cinta terhadap budaya dan kearifan lokal, sejatinya budaya dan kekayaan lokal nusantara menjadi banteng dari budaya-budaya luar yang berbahaya, maka dari itu sebagai warga negara yang baik hati, tanam dalam-dalam di lubuk hati, untuk cinta terhadap budaya yang dimiliki, senada dengan ungkapan sejarawan dan budayawan Alm. KH. Agus Sunyoto, “Saya selama ini belum paham dengan nalar dan jiwa orang-orang pribumi yang punya sikap antipati terhadap leluhurnya, dimana semua hal yang berbau pribumi kuno dianggap rendah, hina, sesat, dan terkutuk. Sebaliknya yang asing dianggap tinggi dan mulia.”

Ketiga, persiapkan diri sebagai generasi penerus kemajuan bangsa, tak bisa dihindari, kawula muda merupakan kunci penting dan aset berharga nasib bangsa ke depan, apa jadinya jika cuma berleha-leha dan rebahan, alhasil golongan bangsa kita menjadi terbelakang dan mudah untuk dimanfaatkan orang, Allah Swt telah memperingatkan kepada hambanya untuk mewanti-wanti mengenai pentingnya generasi muda yang baik, hal itu tertuang dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 9:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

Artinya : “Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya).”

Terakhir, merefleksikan dawuhnya Umar Bin Khattab
لؤلا حب الؤطن لخ ب بلد السؤء فبحب الاؤطان عمرت البلدان
“Seandainya tidak ada cinta tanah air, niscaya negeri yang hancur akan semakin terpuruk. Maka dengan cinta tanah air, negara-negara akan termakmurkan.”
Begitu juga dengan yang diucapkan Oleh Sahabat Ali Bin Abi Thalib Radiyallahu Anh:
عمرت الدنيا بحب الا ؤطان
“Dunia akan termakmurkan dengan cinta tanah air”

Sekian, Semoga Bermanfaat.
Wallahu A’lam

 

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like