web analytics

Self-Improvement: Meniti Paradigma dengan Lensa Berbeda

Self-Improvement: Meniti Paradigma dengan Lensa Berbeda
Self-Improvement
0 0
Read Time:5 Minute, 37 Second

3 tahun yang lalu, Dosen B. Inggris saya meminta para Mahasiswanya untuk membuat karya berbahasa Inggris yang bertemakan Psikologi. Beliau pun meminta para Mahasiswanya untuk memposting karyanya di sosial media, lengkap dengan identitas dan tingkat kreativitas sebagai nilai tugas. Saat itu saya memilih tema self-improvement, berbeda dengan teman-teman saya yang yang kebanyakan menyajikan wawasan terkait mental health atau macam-macam gangguan jiwa. Ada juga yang mengupas tuntas pengertian psikologi, dan masih banyak lagi.

Self-improvement yang saya sajikan lebih mengarah kepada nilai-nilai umum yang sering kita salah artikan. Waktu itu saya meminjam pemikiran Mark Manson dalam karyanya yang berjudul ‘Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat’. Mungkin banyak dari kalian yang sudah membaca buku ini. Sebuah buku yang menawarkan kehidupan yang lebih baik melalui pendekatan yang ‘waras’.

Ya, Mark Manson memilih kata ‘waras’ dalam memaknai model pendekatannya. Seorang Blogger asal New York ini tidak menggunakan kalimat “Pendekatan yang baik” dalam pemilihan diksinya. Ini arena Mark mengajak para pembacanya untuk memahami, bahwa sesuatu yang baik tidak menuntut adanya kebaikan di dalamnya. Dengan kata lain, menjalani hidup yang baik tidak melulu tentang sesuatu yang kita anggap baik, tidak harus membentuk nilai positif, dan tidak musti sesuatu yang membahagiakan.

Terkadang, manusia memaknai penderitaan sebagai suatu masalah, menilai kegagalan sebagai suatu musibah, dan sering menganggap ‘lari dari masalah tak akan membuatnya lelah’. Padahal menurut Manson itu merupakan pemikiran yang salah.

Dalam buku pertamanya ini, Mark Manson menuangkan buah pikirannya tentang pentingnya kesadaran mengenal diri kita dan kehidupan dengan apa adanya. Karena bertanya kepada diri sendiri secara jujur itu sulit. Kita harus mengajukan kepada diri kita sendiri, pertanyaan yang tidak nyaman untuk dijawab. Namun, sesuai pengalaman saya; “semakin tidak nyaman sebuah jawaban, semakin itu mendekati kenyataan”. Seperti kata Mark;

“Kesadaran diri ibarat sesiung bawang. Punya banyak lapisan. Dan semakin cepat Anda kupas lapisan demi lapisan, Anda akan semakin cepat mulai menangis tanpa disangka-sangka.”

Masalah mungkin tidak dapat dielakkan, namun makna dari setiap masalah bisa dikelola. Kita harus mengendalikan makna dibalik permasalahan kita, seturut persepsi yang telah kita pilih, seturut standar yang telah kita tentukan untuk mengukurnya.

Dalam sub bab lain, Mark menulis tentang nilai-nilai umum yang kelihatannya positif, namun sebenarnya menciptakan problem yang sulit dipecahkan. Inilah yang saya jadikan topik dalam tugas tadi. Apa saja nilai-nilai itu?

  1. Kenikmatan

Kenikmatan memang menyenangkan. Adanya suatu nikmat memudahkan kita untuk menjadi pribadi yang selalu bersyukur. Sebagaimana Firman-Nya:

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِࣖ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Namun, kenikmatan merupakan nilai yang menakutkan jika dijadikan prioritas dalam kehidupan kita. Sebuah penelitian menunjukkan bahwasanya orang-orang yang memfokuskan energi mereka pada kenikmatan akan berakhir lebih cemas, lebih tidak stabil secara emosional, dan lebih tertekan. Kenikmatan adalah bentuk kepuasan hidup yang semu, dan karenanya ini sangat mudah diraih dan sangat mudah hilang.

Meski demikian, kenikmatan adalah komoditas yang dipasarkan kepada kita dalam setiap waktu. Inilah yang membuat kita terpaku. Ini yang membuat kita seperti mati rasa dan mengalihkan perhatian kita. Meski kenikmatan itu penting dalam kehidupan, secara esensial tidaklah mencukupi.

Akan lebih baik jika kita menjadikan kenikmatan sebagai sebuah akibat (dari apa yang telah kita perjuangkan) daripada sebuah sebab (prioritas dalam mencapai target).

Dalam buku Psikologi Syukur, Mohammad Takdir mengungkapkan bahwa hamba yang bersyukur ialah mereka yang tidak senang dengan kemewahan dunia. Segala kenikmatan yang mereka dapatkan tidak lantas membuat mereka lalai dari karunia-Nya. Sebagaimana Firman Allah dalam QS. Yunus ayat 58:

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

“Katakanlah: dengan karunia Allah dan Rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan Rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)

 

  1. Kesuksesan Material

Banyak orang mengukur martabat mereka berdasarkan pada seberapa besar penghasilan mereka, atau mobil jenis apa yang mereka kendarai, atau apakah rumput di halaman mereka lebih hijau dan indah daripada milik tetangga sebelah.

Meletakkan nilai tersebut “di atas” nilai yang lain adalah keliru. Karena mengukur kualitas pribadi seseorang itu berdasarkan perilaku, bukan aneka simbol status yang ia mampu. Ini juga berkaitan dengan dunia tasawuf, dimana para Sufi sering memberikan nasihat: “Jadikan dunia hanya di tanganmu, jangan sampai dimasukkan ke hati.” Dalam kitab Bidayatul Hidayah, bahkan Imam Ghozali menuturkan:

حب الدنيا رأس كل خطيئة

“Cinta dunia merupakan induk dari setiap kesalahan”

 

  1. Selalu Benar

Otak manusia adalah mesin yang tidak efektif. Sering kali, tanpa kita sadari, kita memberikan asumsi yang buruk, menyebarluaskan informasi berdasar ingatan yang lemah, atau bahkan membuat keputusan berdasar emosi.

Sebagai manusia yang tak luput dari salah dan dosa, akan kerepotan apabila kita menjadikan nilai ini sebagai tolok ukur kesuksesan. Karena dengan kita berambisi untuk selalu merasa benar, kita menjadi sulit untuk merasionalisasi apabila terjadi kekeliruan dalam diri. Akibatnya, kita tidak bisa menerima masukan dan melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang.

Akan jauh lebih membantu jika kita mengasumsikan diri sebagai seseorang yang tidak paham dan tidak tahu banyak. Karena ini akan membuat kita terus tumbuh dan berkembang, tidak terus berada dalam situasi yang konstan.

Hal ini selaras dengan maqolah yang pernah disampaikan DR. KH. Reza Ahmad Zahid, Lc., MA dalam beberapa kali pertemuan, yakni:

العلم حرب للمتعالي كالسيل حرب للمكان العالي

“Ilmu adalah musuh orang yang tinggi hati, seperti aliran air yang memusuhi tempat yang tinggi.”

(Abu Zakaria Yahya bin Syarof An-Nawawi, dalam kitab Syarah Muhadzab Jilid 1, hal. 36)

Artinya, ilmu tidak akan mendatangi orang yang merasa tinggi (merasa pandai), sebagaimana air tidak akan mengaliri dataran yang tinggi (lazimnya air mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah).

 

  1. Tetap Positif

Beragam kegagalan, pengkhianatan, kehilangan pekerjaan, dan orang-orang yang membuat kita kesal seringkali memicu timbulnya emosi negatif dalam diri kita. Dan itu tidak apa-apa. Emosi negatif adalah satu komponen kesehatan emosional yang harus ada. Meskipun ada ungkapan: “Apapun yang terjadi, tetaplah optimis” Namun sejatinya, hidup memang terkadang menyebalkan. Dan hal paling sehat untuk dilakukan adalah mengakuinya.

Memaksa diri untuk tetap positif sepanjang waktu, sama saja dengan mengingkari keberadaan masalah itu. Dan jika kita menyangkal masalah, maka sama saja kita menihilkan kesempatan yang dimiliki untuk menyelesaikan masalah tersebut. Yang benar bagaimana?

Tak perlu mengingkari, menghindari, apalagi lari. Cukup akui, terima permasalahan yang sedang dihadapi, dengan lapang dan tenang. Kemudian renungkan dan pikirkan jalan keluar dengan matang. Setelah eksekusi, barulah kita introspeksi dan membenahi apa yang perlu dibenahi. Dengan begitu, emosi positif sejati lah yang akan kita nikmati.

Wallahu a’lam.

 

 

About Post Author

Anour Ryn

Struggle
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like