web analytics

Skeptisisme Cinta?

Skeptisisme Cinta?
0 0
Read Time:4 Minute, 57 Second

Dicintai oleh orang yang kita cintai adalah sesuatu kebahagian tiada tara. Sebuah penghargaan tersendiri bagi orang yang terbalaskan cintanya terhadap segala usaha, do’a, dan segala sedu sedan yang terkorbankan. Bukan suatu hal yang mudah untuk mencapai puncak ridhonya manusia. Untuk mengharap kasihnya. Mengharap cintanya. Apalagi objek yang menjadi tujuan adalah terang diantara gelap-gelap. Begitu indah, begitu sempurna. Paling sempurna. Ia Sang Kekasih, Rasulullah Muhammad Saw.

Bagaimana tidak? Orang yang hidup di lain zaman beliau. Tidak sezaman dengan beliau, tidak pernah berjumpa, melihat, mendengar, ataupun sekedar duduk dan mendengar tutur nasihat beliau yang bak mutiara penerang hati. Untuk mimpi pun sulit. Walaupun seperti itu, berapa juta ribu orang yang beriman atas syariat yang beliau bawa? Berapa juta ribu lisan yang tiada henti bersholawat dari penjuru dunia? Dan berapa juta ribu air mata yang menetes di saat lantunan kerinduan dikumandangkan dalam Mahalul Qiyam? Itulah cinta mereka. Cinta orang yang sama sekali tak pernah bertemu ataupun melihat beliau.

Jadi, kita tak perlu heran terhadap cintanya para sahabat yang hidup dan menggantungkan hidupnya di setiap hembusan Sang Baginda Rosul. Bukankah kita mendengar kisah sahabat Abu Bakar yang langsung mengimani kisah Isra Mi’raj Nabi padahal yang lain mendustakannya? Ataupun cinta sahabat Umar bin Khatab yang lebih extrem lagi, menjadi orang yang paling memusuhi islam saat masa jahiliyah, tapi saat cahaya islam masuk lewat indahnya makna Al-Qur’an lewat bacaan adiknya, Fatimah, menjadi orang paling mencintai islam? Siapa yang paling mencintai Allah dan Rosulnya, juga dengan agama ini lewat keberanian dan kekuatannya selain sahabat Umar? Tahukah kita dengan ucapannya yang ingin memenggal orang yang mengatakan bahwa rosul telah wafat Karena saking tak percaya dan cintanya pada Nabi?

Begitu juga cintanya sahabat Utsman bin Affan dengan hartanya ataupun sahabat Ali bin Abi Thalib lewat pengabdiannya semenjak kecil. Begitu pula dengan cintanya para Ashabi Rosulillah Saw.

Tapi, bagaimana dengan cinta yang kita gaungkan dan kita banggakan malah tak diterima, ditolak oleh Sang Pujaan? Bahkan yang lebih mengerikan lagi sampai tak mengenali kita. Nauzubillahi min Dzalik, Ya Rosul! Lalu bagaimana agar Rosul bisa mengenali dan bahkan bisa membalas cinta kita? Tentu bisa dimulai dengan seringnya kita brsholawat pada Nabi. Sudah taka da bantahan mengenai fadilah serta balasan bagi mereka yang bersholawat. Pasti mendapat ganjaran, meski dalam keadaan riya’ sekalipun. Karena dengan sedikit banyaknya bacaan sholawat, menjadi penentu kadar kenal tidaknya, dekat jauhnya Nabi pada kita. Apakah sholawat kita akan sampai?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلاَ تَجْعَلُوا قَبْرِى عِيدًا وَصَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِى حَيْثُ كُنْتُمْ

“Janganlah jadikan rumahmu seperti kubur, janganlah jadikan kubur sebagai ‘ied, sampaikanlah shalawat kepadaku karena shalawat kalian akan sampai padaku di mana saja kalian berada.” (HR. Abu Daud no. 2042 dan Ahmad 2: 367. Hadits ini shahih dilihat dari berbagai jalan penguat, sebagaimana komentar Syaikh ‘Abdul Qodir Al Arnauth dalam catatan kaki Kitab Tauhid, hal. 89-90).

Mengenai hadits tentang sampainya shalawat pada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– disebutkan oleh Abul ‘Abbas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,

فَأَخْبَرَ أَنَّهُ يَسْمَعُ الصَّلَاةَ وَالسَّلَامَ مِنْ الْقَرِيبِ وَأَنَّهُ يَبْلُغُهُ ذَلِكَ مِنْ الْبَعِيدِ

“Hadits tersebut mengabarkan bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mendengar shalawat dan salam dari dekat, begitu pula yang jauh sekali pun.” (Majmu’ Al Fatawa, 26: 147)

Di tempat lain dalam Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah berkata,

فَالصَّلَاةُ تَصِلُ إلَيْهِ مِنْ الْبَعِيدِ كَمَا تَصِلُ إلَيْهِ مِنْ الْقَرِيبِ

“Shalawat akan sampai kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- walau dari jauh sekali pun sebagaimana yang dari dekat pun sampai.” (Majmu’ Al Fatawa, 27: 322)

Kita tak perlu ragu apakah sholawat yang kita panjatkan akan sampai atau tidak. Bahkan, ada Malaikat yang bertugas untuk menyampaikan sholawat kita pada Nabi. Tentu saja dijelaskan dari siapa sholawat ini. dengan lantaran ini, semakin sering kita membaca sholawat tentu nama kita akan selalu disebut malaikat untuk dikenalkan pada nabi. Hingga, Nabi bisa benar-benar mengenal kita.

Selain sholawat yang kita panjatkan akan mendapat ganjaran dari Allah karena menyebut nama utusan sekaligus kekasihnya, Nabi pun juga ikut membalas holawat yang kita bacakan.

مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَىَّ إِلاَّ رَدَّ اللَّهُ عَلَىَّ رُوحِى حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

“Tidaklah seseorang menyampaikan salam untukku, melainkan Allah akan mengembalikan ruhku hingga aku membalas salam tersebut untuknya.” (HR. Abu Daud no. 2041. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Setiap pecinta tentu bersedia melakukan apapun untuk kebahagiaan Sang kekasih. Apapun rela dilakukan, apapun rela dikorbankan demi simpul senyum kebahagiaan Sang Kekasih. Begitu juga dengan Baginda Nabi. Sudah seharusnya kita membuat beliau senang. Bagaimana caranya? Dengan melakukan hal-hal yang beliau senangi, seperti sunah-sunah yang beliau terapkan. Sedekah, mengadakan maulid, berbuat baik pada sesama, dan lainnya. Ini merupakan pembuktian. Sudah sehrusnya seperti itu. cinta tak hanya soal ‘aku cinta kamu’, lalu senang. Semua butuh pembuktian bahwa yang kita ucapkan itu benar.

Tenang! Nabi pasti mengenali setiap dari umatnya. selain karena seringnya bacaan sholawat atau karena bekas air wudhu yang bersinar di akhirat kelak, lebih dari itu. Nabi lebih mengenali umatnya melebihi seorang Ibu mengenali anaknya. Mengenali dengan segenap derajat dan kemuliann Rasulullah Saw.

Perjuangkan cinta itu dan buktikan pada Sang Kekasih, bahwa kita juga patut berstatus kekasih. Pantas untuk cinta ini terbalas. Ya, Rosulullah! Allahumma Sholi Ala Sayyidina Muhammad Wa Ala Alihi Wa Sohbihi Wa Salim.

 

***

 

 

 

 

 

 

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
100 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like