web analytics

Sowan dan Cara Penghormatan Pesantren terhadap Ilmu

Sowan dan Cara Penghormatan Pesantren terhadap Ilmu
0 0
Read Time:3 Minute, 26 Second

Dantri

Almahrusiyah

Sowan

Syekh Yusuf Bin Abdulloh Al-Kaurani adalah ulama besar yang penuh akan keilmuan. Layaknya sumber mata air tentu banyak yang berkeinginan soan kepada beliau untuk mengambil sumber-sumber ilmu yang murni. Namun tidak semua yang sowan bisa beliau temui. Pintu ndalem beliau terkunci kecuali memang ada perkara yang menurut beliau penting.

Bila ada yang sowan, beliau berkata kepada orang terdekatnya, “Lihatlah dia (orang yang hendak sowan). Jika dia membawa sesuatu yang berharga berupa harta atau bahan makanan yang dibutuhkan orang faqir, maka bukakanlah. Jika dia datang dengan tangan kosong, maka jangan hiraukan dia.” Tegas Syekh Yusuf.
Sepintas beliau tampak cinta dunia dan tomak, padahal Syekh Yusuf ini dikenal tidak terlalu keduniawian,
“Wahai Ustadz, harta sungguh tidak berharga di mata panjenengan,” kata orang terdekatnya. Kemudian beliau menerangkan ikhwal dengan pernyataan hanya menerima soan dari tamu yang membawa harta atau bahan makanan diatas.

“Yang paling berharga dari seorang yang berilmu adalah waktu dan nafasnya. Sementara bagi mereka yang kaya, hartanyalah yang paling berharga. Jika mereka menyerahkan apa yang mereka anggap berharga, maka aku akan berikan sesuatu yang saya anggap berharga,” jawab beliau.

 


tentu sesuatu yang berharga bagi seorang ulama adalah ilmu, orang-orang soan kepada ulama tentu ingin meneguk ilmu. Dan bisa dipastikan yang paling mulya disisi para tamu tadi adalah harta. Maka sederhananya Sang Ulama memberikan ilmu sebagai perkara yang mulia disisinya dan orang biasa memberi perkara paling mulia disisinya tak lain dan tak bukan adalah harta. Impas! Tiada yang dirugikan.
Sikap Syekh Yusuf diatas untuk menjaga wibawa ilmu, dan memberi pelajaran kepada masyarakat bahwa ilmu itu tidak sepele. Menunjukan juga bahwa ilmu itu mahal apalagi proses memperolehnya maka harus dibayar dengan sepadan. Tentu juga tidak hanya ilmu agama saja, mekanik, IT, medis, hingga jasa desain grafis (untuk kasus ini banyak korbannya, dibayar hingga 2M ‘Maturnuwun Mas/Mbak) pun perlu kita hargai.

Nah, kisah diatas sangat relevan dengan tradisi pesantren, diantara kita pasti pernah melihat orang tua atau bahkan mengalami sendiri ketika soan kepada kiai, kadang membawa oleh-oleh melimpah, hasil panen sawah, barang-barang mewah, sering juga kenang-kenangan unik dan minimal memberi amploplah atau barang terbaik yang kita miliki, barangkali mengamalkan ayat, “ لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ” : “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”

Padahal belum tentu Sang Kiai membutuhkan pemberian barang tersebut, seperti kisah Syekh Yusuf diatas. Apabila ndak ngasih ke Kiai kayak gimana gitu sebaliknya, jika sudah memberi serasa ada kepuasan sendiri. Dan memberinya itu tanpa paksaan, kiai juga tidak sama sekali mematok dengan standard tertentu. Tak jarang Sang Kiai pun malah menolak Pemberian tadi. Apalagi tahu sendiri kebanyakan Kiai sudah kaya raya. Yang diharapkan tamu tadi semata karena ingin keluberan ilmu dan barokah dari sang kiai dengan cara memulyakannya.

Kita bisa mencontoh kaliber KH Mahrus Ali yang notabene sudah menjadi Kiai Besar dikisahkan saking royalnya kepada ilmu pernah suatu ketika Yai Mahrus mengajak kedua putra beliau menaiki mobil sedan yang saat itu masih jarang yang punya untuk keperluan soan guna mendapat ijazahan kitab dari Kiai Fadhol Senori Tuban. Demi Ijazahan tersebut Yai Mahrus konon memberikan Bisyaroh yang besar kepada Yai Fadhol. Hal itu dilakoni Yai Mahrus demi ilmu dan memulyakan orang yang memiliki ilmu.

Tentu juga tidak asing maqolah untuk memperjuangkan ilmu secara totalitas, الْعِلْمُ لَا يُعْطِيكَ بَعْضَهُ حَتَّى تُعْطِيَهُ كُلَّكَ “Ilmu itu tidak akan memberimu sebagian darinya, sampai engkau memberikan seluruh dirimu”.
Kiai memang tidak tomak dengan pemberian tamu, namun posisi kita yang meneguk ilmu itulah yang perlu digaris bawahi. Maka jangan harap bangs aini maju, bila masih perhitungan dengan ilmu. Atas penghargaannya kepada ilmu ini pula, Pondok Pesantren sampai saat ini masih eksis meskipun menjadi Lembaga ilmu tertua di Indonesia. Begitulah Metode kaum Pesantren dalam memuliakan ilmu. Royal dan tidak perhitungan. Hasilnya bisa kita lihat sendiri betapa ilmu-ilmu yang diraih santri dari kiai bisa manfaat, barokah, ma’a salamah. Apa yang dilakukan kaum pesantren ini barangkali boleh ditiru oleh bangsa ini.
Oleh @Elnahrowi

About Post Author

Elnahrowi

Santri Pondok Al-Mahrusiyah yang suka Menulis dan Berjurnalis. Asal dari Sragen Jawa Tengah
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like