web analytics

Tembok Pemisah

Tembok Pemisah
Brick Wall Parted on Dark and Light Sides in the Middle
0 0
Read Time:2 Minute, 29 Second

Hilir angin senada dengan terbangnya rambut panjang seorang gadis. Sang ratu langit bercahaya dengan kejam hawa panas menusuk kulit. Butiran bening keluar dari pori-pori di sekeliling dahinya. Matanya menyipit dan alisnya saling bertaut seperti hendak menyatu. Badannya yang mungil bersembunyi di balik tembok besar. Dan pandangannya tertuju pada seorang pemuda berpeci yang sedang berdialog indah dengan tuhannya.

Dia. Pemuda yang beberapa minggu terakhir bersemayam di takhta tertinggi didalam hatinya. Otaknya berusaha menolak namun hatinya tak ingin mengelak. Sosok yang tiba-tiba ingin sekali ia jadikan kepemilikannya.

Flashback on

Tiga minggu yang lalu…

Air langit berjatuhan tanpa jeda. Suaranya sangat keras berdampingan dengan Guntur yang saling bersautan. Satu persatu manusia yang diserangnya pun mengalah untuk sekedar berteduh. Seorang gadis mengusap rambutnya yang sedikit basah akibat terpaan air yang terbawa oleh angin. Hatinya tengah kesal terhadap dirinya sendiri karena kecerobohan dirinya meninggalkan payung lipat yang selalu menemani kemana pun ia pergi. Pikirannya kalut. Bagaimana carannya agar ia cepat pulang, bagaimana pun ia tak boleh terlambat ke acara pem-baptisan adiknya. Wajahnya kini menunjukkan raut cemas nan tak bersahabat. Dan ..

Bug..

Seseorang melempar payung lipat kearahnya. Matanya kini terarah pada orang tersebut. Orang dengan setelan kampus dengan gaya rambut rapih namun depannya sedikit acak karena dibuat oleh tangannya sendiri dengan tujuan mengeringkannya dari hujan yang sempat membasahi rambutnya.

“Dipake aja”. Ucapnya singkat.

Lelaki didepannya ini merupakan mahasiswa seangkatannya yang terkenal ketaatannya terhadap islam.

“Ehmm.. nggak usah”. Tolaknya.

“Nggak papa. Kamu lebih membutuhkan”. Ucapnya seakan-akan ia tau hajat dari gadis itu.

“Yaudah ini payungnya saya pinjam dulu, besok saya kembalikan”. Seraya berucap gadis itu membuka payungnya hendak melangkah pergi.

“Oh iya, hampir lupa. Kenalin, nama saya Vera.” Ucapnya sambil menjulurkan tangannya kearah laki-laki yang meminjaminya payung.

Namun juluran tangan Vera tidak disambut oleh lawan bicarannya. Lalu lelaki itu mengatupkan tangannya. “ Saya Syarif”. Karena merasa juluran tangannya tak digapai, vera pun menurunkan tangannya dengan rasa kikuk.

“Apa di agamamu menyambut tangan seseorang yang tak seagama denganmu itu dilarang?”. Tanyanya dengan nada ingin taunya, namun terkesan agak sedikit sarkastik.

Lelaki dengan nama Syarif itu menarik napas panjang dan menghembuskannya.

Baca Juga: Lalang Hilang

“Bukan seperti itu, agama saya sangat menjunjung tinggi toleransi dalam beragama. Namun di agama saya, laki-laki tidak boleh menyentuh perempuan yang bukan mahrom-nya. Begitu juga sebaliknya”. Ucapnya dengan nada datar namun masih terdengar santun. Setelah mengucapkan kata itu lelaki yang bernama Syarif itu melenggang pergi menerobos hujan yang dengan rasa tanpa putus asanya tetap mengguyur bumi meski mendengar cacian orang mengenai hujan yang tak kunjung mereda. Namun anehnya, gadis yang bernama Vera itu termenung kagum dengan pemuda yang baru saja pergi dari hadapannya. Hatinya mulai gusar. Ada sedikit perasaan aneh yang mengalir halus disisi hatinya yang kasar.

Flashback off

Namun Vera kembali tersadar oleh tamparan kenyataan bahwa Vera tidak bisa berdampingan dengan lelaki itu. Lelaki dengan agamanya yang kuat. Apalagi mengingat kata-katanya tempo hari.

“Jika agamamu  melarang perasaanmu itu, jauhilah aku dan kembali ke tuhanmu. Karena yang selalu ada disampingmu adalah tuhanmu, bukan aku”.

 

-The End-

About Post Author

Mufrodatul Hidayah

Santri Al-Mahrusiyah Putri Lirboyo Kediri Mahasiswi IAIT Kediri yang ingin menjadi manusia berguna dari Batang Jawa Tengah
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like